Untuk pertama kalinya, ujian yang diperuntukkan bagi santri Pendidikan Diniyah Formal (PDF) ini menghadirkan soal-soal dalam format aksara pegon.
Sebanyak 11.077 santri dari jenjang Wustha dan Ulya berpartisipasi dalam penyelenggaraan Imtihan Wathani tahun ini.
Direktur Jenderal Pendidikan Islam, Amin Suyitno, menjelaskan bahwa pelaksanaan ujian ini merupakan wujud komitmen pemerintah dalam mempertahankan kualitas PDF sebagai komponen integral dari sistem pendidikan pesantren.
"Penyelenggaraan ujian nasional ini menjadi bukti nyata hadirnya pemerintah dalam upaya mencetak generasi pesantren yang unggul, baik secara intelektual maupun spiritual," ungkap Amin Suyitno sebagaimana dikutip dari laman Kemenag RI, Selasa (28/01/2025).
Pendidikan Diniyah Formal merupakan sistem pendidikan unik yang mengintegrasikan tradisi pesantren ke dalam jalur pendidikan formal. Berbasis pada kajian kitab kuning, PDF diselenggarakan secara berjenjang dan terstruktur, mencakup tingkat Ula Wustha (setara MTs/SMP) dan Ulya (setara MA/SMA/SMK).
Inovasi penggunaan aksara pegon dalam soal ujian tahun ini menjadi sorotan khusus. Aksara pegon, menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (Pusat Bahasa Indonesia 2005), didefinisikan sebagai aksara Arab yang digunakan untuk menuliskan bahasa Jawa, tanpa tanda-tanda bunyi atau diakritik. Definisi serupa juga diakui dalam Kamus Bahasa Melayu Nusantara (Dewan Bahasa dan Pustaka Brunei 2011).
Penyelenggaraan Imtihan Wathani ke-8 ini sejalan dengan amanat Undang-Undang Nomor 18 tahun 2019 tentang Pesantren dan Peraturan Menteri Agama Nomor 31 Tahun 2020 tentang Pendidikan Pesantren.
"Melalui PDF, pemerintah tidak hanya memberikan pengakuan setara dengan lembaga pendidikan lainnya tetapi juga menjamin standar mutu pendidikan pesantren yang berkualitas," katanya.
Sementara itu, Direktur Pesantren, Basnang Said, memaparkan jadwal pelaksanaan Imtihan Wathani yang berlangsung selama tiga hari.
"Untuk jenjang Ulya, ujian dilaksanakan pada 28 hingga 30 Januari 2025, sedangkan jenjang Wustha dijadwalkan pada 31 Januari hingga 2 Februari 2025," jelasnya.
Said menambahkan bahwa penggunaan aksara pegon dalam soal ujian merupakan hasil evaluasi dari penyelenggaraan sebelumnya.
"Inovasi ini tidak hanya menunjukkan kekhasan pendidikan pesantren, tetapi juga memperkuat identitas pembelajaran berbasis tradisi pesantren," tegasnya.
Materi ujian untuk jenjang PDF Ulya meliputi Ilmu Tafsir, Ilmu Hadits, Ushul Fiqh, Tauhid, Nahwu Balaghoh, dan Tarikh dalam format pegon. Sementara untuk PDF Wustha, mata pelajaran yang diujikan adalah Fiqh, Tauhid, Akhlak, Nahwu Shaf, dan Tarikh dengan format pegon. (*)
Editor : Hendra Efison