Keduanya berhasil meraih skor setara dengan peraih medali emas, meskipun hanya Google yang secara resmi mengikuti kompetisi.
DeepMind, divisi AI milik Google, mengikutsertakan model lanjutan dari Gemini Deep Think dalam kompetisi tersebut. Model ini berhasil menyelesaikan lima dari enam soal IMO dengan sempurna dan meraih total 35 poin sehingga mencapai standar medali emas.
Sementara itu, OpenAI—perusahaan pengembang ChatGPT—juga mengklaim model AI-nya mencapai performa setara, dengan memecahkan lima dari enam soal dan mendapatkan skor yang sama.
Namun, OpenAI tidak mengikuti kompetisi secara resmi, melainkan menguji modelnya menggunakan soal IMO 2025 secara internal dan mempublikasikan hasilnya secara mandiri sebelum verifikasi resmi.
“Ketika kami memulai OpenAI, hal ini adalah mimpi yang terasa tidak realistis. Ini adalah penanda signifikan sejauh mana AI telah berkembang dalam satu dekade terakhir,” ujar CEO OpenAI Sam Altman melalui akun X resminya, dilansir Euronews.
Ia juga mengungkapkan bahwa versi terbaru, GPT-5, akan dirilis dalam waktu dekat, meskipun versi dengan kemampuan setara medali emas IMO baru akan dirilis dalam beberapa bulan ke depan.
Alex Wei, ilmuwan riset di OpenAI yang bekerja pada model bahasa besar (LLM) dan penalaran menjadi pihak pertama mengumumkan hasil tersebut di X.
IMO merupakan ajang kompetisi matematika paling bergengsi di dunia, diperuntukkan bagi siswa sekolah menengah atas berusia di bawah 20 tahun.
Tahun ini, lebih dari 630 peserta dari lebih dari 100 negara ikut berpartisipasi. Hanya sekitar 10 persen peserta yang berhasil meraih medali emas, menandakan betapa sulitnya soal yang dihadapi.
Google menyatakan bahwa pencapaian tahun ini merupakan loncatan besar dibandingkan tahun lalu ketika mereka hanya meraih level medali perak.
“Lompatan dari standar medali perak ke emas hanya dalam waktu satu tahun menunjukkan laju kemajuan AI yang luar biasa,” tulis Google dalam blog resminya.
Meski begitu, baik Google maupun OpenAI tidak menjadikan kompetisi ini sebagai pertarungan antara manusia dan mesin.
Kedua perusahaan justru memberikan penghormatan kepada para peserta manusia. Wei menyebut mereka sebagai beberapa dari pemikir muda paling cemerlang di masa depan.
Bahkan, Wei menyatakan bahwa OpenAI mempekerjakan sejumlah mantan peserta IMO.
IMO sendiri telah menjadi tolok ukur prestasi akademik internasional sejak lama, dan pencapaian model AI dalam memecahkan soal-soal kompleks di kompetisi ini menandai babak baru dalam pengembangan kecerdasan buatan—terutama dalam aspek penalaran dan logika tingkat tinggi.(*)
Editor : Heri Sugiarto