Pada usia 51 tahun, ia telah mengabdi lebih dari dua dekade mendampingi anak berkebutuhan khusus (ABK) melalui pendekatan pembelajaran yang disesuaikan dengan kemampuan individu siswa.
Menurut Fitriani, proses belajar di sekolah luar biasa menuntut asesmen awal untuk menentukan kemampuan dasar setiap peserta didik.
Hal ini bertujuan agar materi yang diberikan tidak disamaratakan. Ia menegaskan bahwa penerapan kurikulum, termasuk Kurikulum Merdeka, dimodifikasi agar sesuai kebutuhan riil siswa.
“Kami melakukan asesmen untuk mengetahui kemampuan dasar anak. Jika kemampuan akademiknya setara fase yang lebih rendah, maka materi disesuaikan agar pembelajaran menjadi bermakna,” kata Fitriani, Kamis (20/11/2025).
Dalam praktiknya, modifikasi materi dilakukan secara kontekstual. Pada kelas vokasi tata boga, misalnya, pelajaran matematika difokuskan pada kemampuan membaca timbangan dan konversi satuan berat.
Sementara pada kelas vokasi menjahit, materi diarahkan pada penggunaan alat ukur praktis yang relevan dengan dunia kerja.
Sebagai pendidik ABK, Fitriani juga terlibat aktif dalam komunikasi dengan orang tua siswa.
Koordinasi dilakukan secara intens, termasuk di luar jam sekolah, guna memastikan pembiasaan yang diajarkan di sekolah dapat diterapkan di rumah.
Ia menyebut dukungan orang tua murid di SLBN 1 Padang relatif baik karena banyak yang terlibat langsung dalam proses pendidikan anak.
Tantangan utama yang masih ditemui adalah stigma terhadap anak disabilitas serta keterlambatan penanganan pendidikan pada masa awal sekolah.
Beberapa siswa yang pindah ke SLB tercatat belum memiliki kemampuan dasar membaca dan menulis, sehingga guru harus mengulang asesmen dan pembinaan dari tahap awal.
Fitriani berharap adanya penguatan kolaborasi antara pemerintah, sekolah, dan dunia usaha agar lulusan SLB memiliki akses yang lebih luas ke dunia kerja.
Ia menilai siswa telah dibekali keterampilan dasar seperti pelayanan, kebersihan, dan etika kerja yang dapat diterapkan di berbagai sektor.
Melalui peringatan Hari Guru Nasional 2025, kisah pengabdian Fitriani mencerminkan peran strategis guru pendidikan khusus dalam memastikan hak pendidikan inklusif bagi seluruh anak, termasuk penyandang disabilitas di Kota Padang. (CR3)
Editor : Hendra Efison