Indonesia Sumbar Bisnis Olahraga Gaya Hidup Harian Magazine Otomotif Pariwisata Features Internasional Opini Advertorial Pendidikan Buku & Film Hiburan Kesehatan

​Dr Fakhruzy Ciptakan Busa Kaku dari Tanin Gambir, Solusi Berdaya Jual Tinggi

Mengki Kurniawan • Rabu, 21 Januari 2026 | 19:38 WIB

Dr Fakhruzy bersama tim pembimbing, dan dewan penguji ujian Disertasi tertutup di Gedung Program Doktoral Fakultas Pertanian Unand Padang, Rabu (21/1/2026). (Foto: Mengki/Padeks)
Dr Fakhruzy bersama tim pembimbing, dan dewan penguji ujian Disertasi tertutup di Gedung Program Doktoral Fakultas Pertanian Unand Padang, Rabu (21/1/2026). (Foto: Mengki/Padeks)
PADEK.JAWAPOS.COM—Sebuah terobosan ilmiah yang menjanjikan bagi kelestarian lingkungan dan kesejahteraan petani lahir dari Universitas Andalas (UNAND). Dr. Fakhruzy, S.Hut., M.Si., yang juga dosen tetap Fakultas Kehutanan Universitas Muhammadiyah Sumatera Barat, berhasil mempertahankan disertasinya yang memanfaatkan kekayaan alam lokal Sumatera Barat, yakni gambir, sebagai bahan baku utama pembuatan busa kaku (rigid foam) ramah lingkungan.

Penelitian berjudul “Optimasi Pembuatan Busa Kaku dengan Memanfaatkan Tanin Gambir (Uncaria gambir Roxb)” tersebut dipresentasikan dalam Ujian Disertasi Tertutup. Agenda akademik ini berlangsung di Gedung Program Doktoral Fakultas Pertanian Universitas Andalas, Limau Manis, Padang, Rabu (21/1/2026).

Selama ini, busa kaku konvensional umumnya dibuat dari campuran polimer polistirena dan poliuretan. Bahan tersebut mengandung zat peniup formaldehid yang sulit terurai dan tidak ramah lingkungan. Inovasi yang dikembangkan Dr. Fakhruzy hadir untuk mengurangi ketergantungan pada bahan kimia berbahaya tersebut.

Dalam penelitiannya, Dr. Fakhruzy menggantikan polimer sintetis dengan tanin yang diekstraksi dari gambir kering serta albumin dari putih telur ayam negeri. Tanin memiliki gugus hidroksil yang dapat berikatan kuat dengan albumin sehingga berfungsi sebagai polimer alami yang kokoh dan tetap aman bagi ekosistem.

“Inovasi ini menghasilkan busa kaku yang jauh lebih ramah lingkungan. Dari sisi kualitas, produk berbasis tanin gambir hampir setara, bahkan pada beberapa parameter melebihi busa kaku konvensional yang beredar di pasaran,” ujar Dr. Fakhruzy usai ujian, Rabu (21/1/2026).

Selain aspek lingkungan, penelitian ini juga membawa misi peningkatan kesejahteraan petani gambir di Sumatera Barat. Selama ini, harga gambir di tingkat petani cenderung fluktuatif dan kerap berada pada level rendah akibat ketergantungan pada pengepul serta pasar ekspor yang terbatas.

Menurut akademisi Universitas Muhammadiyah Sumatera Barat tersebut, pengolahan gambir menjadi tanin merupakan kunci peningkatan nilai tambah. Jika petani mampu mengekstrak tanin secara mandiri, ketergantungan terhadap harga yang ditetapkan pengepul dapat dikurangi. Hal ini diharapkan mampu memperkuat ekonomi masyarakat melalui hilirisasi produk pertanian.

“Harga tanin di pasaran jauh lebih tinggi. Proses ekstraksinya relatif mudah dan dapat diajarkan kepada masyarakat. Dengan merebus gambir kering dan memisahkan ekstraknya, masyarakat sudah bisa menghasilkan bahan baku bernilai tinggi,” jelasnya.

Penelitian yang dimulai sejak 2021 ini melalui empat tahapan utama, yakni ekstraksi tanin, penyediaan albumin melalui fermentasi, pembuatan busa kaku, serta evaluasi optimasi menggunakan metode statistik untuk menentukan formula terbaik.

Dr. Fakhruzy mengakui proses meraih gelar doktor tersebut diwarnai berbagai tantangan trial and error. Ia harus berulang kali melakukan percobaan dan berkonsultasi dengan pembimbing saat metode yang diterapkan belum menghasilkan hasil optimal, hingga akhirnya menemukan formulasi terbaik pada tahun kelima penelitian.

Berdasarkan hasil pengujian, busa kaku yang dihasilkan memiliki kekuatan tekan dan kerapatan yang sangat baik. Kondisi optimal diperoleh melalui bantuan microwave, metode pengeringan albumin pan drying, serta kecepatan pengadukan mesin sebesar 300 rpm.

Ke depan, inovasi busa kaku ini berpotensi dimanfaatkan secara luas, antara lain sebagai bahan pengaman bagian dalam helm atau kemasan barang elektronik. Karakteristiknya yang padat namun ringan menjadikannya ideal sebagai pelindung benturan.

“Pemanfaatannya saat ini masih sebatas isolasi. Namun, dengan sedikit penyesuaian variabel, produk ini dapat diarahkan untuk kebutuhan pengaman seperti bagian dalam helm,” tambahnya.

Mendukung temuan tersebut, Prof. Dr. Ir. Alfi Asben, M.Si. selaku ketua pembimbing, bersama Prof. Dr. rer. nat. Anwar Kasim dan Prof. Dr. Ir. Aswaldi Anwar, MS. sebagai anggota tim pembimbing, menilai penelitian ini sangat prospektif. Menurut mereka, diversifikasi produk gambir menjadi bahan industri seperti busa kaku merupakan langkah strategis untuk menstabilkan ekonomi lokal.

“Gambir memiliki dua senyawa utama, yakni katekin dan tanin. Jika taninnya dimanfaatkan untuk busa kaku, katekinnya tetap dapat digunakan untuk industri farmasi dan kosmetik. Tidak ada bagian yang terbuang,” kata Anwar Kasim, Rabu (21/1/2026).

Ia juga menyinggung tren global yang mulai meninggalkan plastik dan beralih ke bahan alami untuk penyangga kemasan elektronik. Inovasi ini dinilai berpotensi membawa Sumatera Barat masuk ke rantai pasok industri ramah lingkungan.

Meski masih dalam skala laboratorium, Anwar berharap penelitian ini segera dikembangkan ke tahap pilot plant atau industri skala menengah agar lebih meyakinkan pelaku industri.

“Perlu disiapkan skala percontohan agar kepercayaan industri meningkat. Tahap industri dimulai dari laboratorium, lalu skala menengah, sebelum masuk ke pabrik besar. Ini peluang besar,” tegasnya.

Dr. Fakhruzy menyadari masih terdapat ruang pengembangan, khususnya pada pengujian termal dan kekuatan rekat. Ia berharap hasil riset ini tidak hanya tersimpan di lingkungan akademik, tetapi dapat diimplementasikan oleh dunia industri.

Melalui keberhasilan disertasi ini, Dr. Fakhruzy membuktikan bahwa ilmu pengetahuan dapat menjadi jembatan antara potensi alam lokal dan solusi lingkungan global. Tanin gambir tidak lagi sekadar komoditas mentah, melainkan memiliki prospek sebagai bahan baku industri hijau.

“Semoga hasil penelitian ini bermanfaat bagi dunia pendidikan dan petani gambir. Struktur pasar perlu diperbaiki melalui inovasi agar nilai jual gambir ditentukan oleh kualitas produk, bukan semata permainan harga,” tutupnya. (cr3)

Editor : Hendra Efison
#Dr Fakhruzy #pengganti Styrofoam #tanin gambir #Disertasi Unand #busa kaku ramah lingkungan