JAKARTA, PADEK.JAWAPOS.COM--Penurunan mahasiswa baru PTS Jakarta menembus 30 persen dan mulai mengancam stabilitas keuangan kampus, seiring 95 persen pendapatan perguruan tinggi swasta masih bergantung pada uang kuliah mahasiswa.
Universitas Paramadina menilai kondisi ini membutuhkan intervensi cepat pemerintah untuk menjaga keseimbangan pendidikan tinggi.
Pernyataan tersebut disampaikan Wakil Rektor Universitas Paramadina, Dr. Handi Risza, menanggapi paparan Kepala LLDIKTI Wilayah III, Dr. Henri Tambunan, dalam Rapat Dengar Pendapat Panitia Kerja Seleksi Penerimaan Mahasiswa Baru Komisi X DPR RI di Jakarta, Kamis (4/6/2026).
Baca Juga: IHSG Turun 29 Persen, Investor Pasar Modal Indonesia Justru Bertambah 1,26 Juta Orang
Seleksi PTN Jadi Faktor Utama Penurunan Mahasiswa Baru PTS Jakarta
Dalam forum itu, Henri Tambunan mengungkapkan jadwal panjang seleksi perguruan tinggi negeri, khususnya jalur mandiri, menjadi salah satu faktor utama penurunan mahasiswa baru di PTS Jakarta.
Menurutnya, banyak calon mahasiswa tetap mencoba berbagai jalur di PTN meski sudah mendaftar di PTS. Kondisi ini membuat potensi perpindahan semakin besar dan berdampak pada rendahnya tingkat keterisian kampus swasta.
Selain itu, fenomena tersebut menjadi keluhan umum di kalangan pengelola PTS karena daya tampung yang tersedia tidak sebanding dengan jumlah mahasiswa yang benar-benar melakukan registrasi.
Baca Juga: 1.333 ASN Pariaman Ikuti Pesantren ASN Virtual, Program Balad-Mulyadi Resmi Dimulai
Ketergantungan 95 Persen Pendapatan Jadi Risiko Besar
Handi Risza menilai penurunan jumlah mahasiswa berdampak langsung terhadap kondisi finansial perguruan tinggi swasta. Ia menjelaskan sekitar 95 persen pendapatan PTS masih berasal dari uang kuliah mahasiswa.
Akibatnya, beban operasional kampus meningkat dan berpotensi memengaruhi kualitas pendidikan. Dalam kondisi tertentu, situasi ini juga dapat mengancam keberlangsungan institusi pendidikan tinggi swasta.
Selain itu, ia menyebut sebagian besar PTS mengalami penurunan mahasiswa baru antara 20 hingga 30 persen. Bahkan, terdapat kampus yang tidak lagi menerima mahasiswa baru.
Baca Juga: Menko Zulhas: Pupuk Bersubsidi Tiba Sebelum Musim Tanam, Distribusi Lebih Cepat ke Petani
Lebih dari 54 Persen Mahasiswa Kuliah di PTS
Selanjutnya, Handi menegaskan bahwa perguruan tinggi swasta memiliki peran besar dalam sistem pendidikan nasional. Ia mengungkapkan lebih dari 54 persen mahasiswa Indonesia saat ini menempuh pendidikan di PTS.
Namun, perhatian kebijakan dinilai masih belum seimbang dibandingkan perguruan tinggi negeri. Menurutnya, dikotomi antara PTN dan PTS tidak lagi relevan dalam konteks pendidikan tinggi saat ini.
Karena itu, ia mendorong pemerintah untuk menghadirkan kebijakan yang lebih berkeadilan bagi seluruh penyelenggara pendidikan tinggi.
Baca Juga: Tol Padang-Bukittinggi Mulai Masuk Tahap Pembebasan Lahan, Tanahdatar Soroti Data Warga
Paramadina Dorong Pengaturan Seleksi dan Kolaborasi
Untuk mengatasi kondisi tersebut, Universitas Paramadina mendorong pemerintah mengatur jumlah dan rentang waktu seleksi mahasiswa baru di PTN agar tidak berdampak negatif terhadap PTS.
Selain itu, kolaborasi antara pemerintah, perguruan tinggi, dan pemangku kepentingan dinilai menjadi kunci dalam menjaga akses pendidikan tinggi yang inklusif dan berkualitas.
Handi berharap LLDIKTI Wilayah III terus memperkuat perannya sebagai fasilitator peningkatan mutu pendidikan tinggi di Jakarta melalui sinergi lintas sektor.(*)
Editor : Hendra Efison