SMK Teknologi Al Anhar Bayang kembali menerapkan belajar tatap muka karena sudah dua tahun menerapkan belajar daring. Kini sekolah mulai berpacu mengejar ketertinggalan.
Upaya itu dilakukan agar sekolah yang secara umum siswanya berasal dari keluarga miskin dan kurang mampu itu, tetap bisa menghasilkan tamatan yang berkualitas dan memiliki daya saing di dunia kerja.
Hal itu dikatakan Wakil Kepala SMK Teknologi, Al Anhar Bayang, Bidang Kurikulum, Delvy Djusman, kepada Padang Ekspres saat berkunjung ke sekolah itu kemarin (28/9).
Disampaikannya, sekolah juga tidak mengenyampingkan pendidikan bidang keagamaan karena dimasukkan sebagai muatan lokal melalui kegiatan ekstrakurikuler.
Saat ini SMK Teknologi Al Anhar memang menjadi salah satu pilihan bagi masyarakat tidak mampu untuk melanjutkan pendidikan anaknya di daerah itu.
“Saya katakan demikian, sebab sekolah yang memiliki dua jurusan yakni, Teknik Kendaraan Ringan (TKR) dan Teknik Komputer Jaringan (TKJ) ini, tidak memberatkan siswa dengan biaya komite atau dalam bentuk sumbangan lainnya. Walau demikian, kualitas pembelajaran terhadap siswa tetap kita nomor satukan. Terutama sekali dalam melakukan praktik lapangan sesuai dengan jurusan yang mereka pilih,” katanya.
Secara umum para tamatan sekolah itu memang tidak melanjutkan ke jenjang pendidikan lebih tinggi ke berbagai universitas.
“Hal itu memang beranjak dari keterbatasan kemampuan ekonomi orangtua. Namun jangan pula dianggap sepele, sebab rata-rata mereka setelah tamat, banyak yang diterima di perusahaan besar sebagai tenaga mekanik, serta juga membuka bengkel sendiri,” ucapnya.
Karena sistem pembelajaran sudah dilakukan secara tatap muka sejak satu bulan terakhir di sekolah itu, maka kepada guru pembimbing diminta untuk lebih ekstra lagi dalam melakukan pembinaan terhadap siswa.
“Sebab kita memang berkomitmen agar semua tamatan sekolah ini benar-benar berkualitas dan menjadi tenaga terampil yang siap pakai,” ujarnya.
Delvy Djusman juga mengatakan, memiliki keahlian di bidang teknologi sesuai jurusan yang dipilih oleh siswa, merupakan hal yang biasa dan wajib dimiliki. Namun memiliki kemampuan di bidang keagamaan sebagai benteng bagi mereka ketika terjun ke dunia kerja setelah tamat nanti, juga tidak bisa dikesampingkan.
“Beranjak dari hal itulah, sehingga sekolah ini juga menjadikan pendidikan agama sebagai unggulan, sesuai dengan visi dan misi sekolah dalam membentuk karakter siswa yang memiliki iman dan ketaqwaan, baik di sekolah maupun di luar sekolah,” katanya.
Hal itu diakui Kepala SMK Teknologi Al Anhar, Hajral Aswat, yang juga sekaligus sebagai guru bidang studi Agama Islam di sekolah itu.
Disampaikannya, sebagai tenaga pendidik yang memiliki latar belakang disiplin ilmu sebagai Sarjana Pendidikan Agama Islam, membina dan mendidik siswa agar memiliki benteng keimanan yang kuat, bukan saja sekedar tanggung jawab, tapi merupakan sebuah kewajiban.
“Makanya dengan telah kembali dilakukan sistem belajar tatap muka, selain memaksimalkan praktik keahlian sesuai jurusan, kita juga kembali menghidupkan kuliah tujuh menit (kultum) setiap pagi,” ucapnya.
Dia mengakui, sebagai tenaga pendidik di sekolah itu, dia bersama 15 guru lainnya lebih banyak pengabdian. “Saya katakan demikian, sebab 16 tenaga pengajar, termasuk juga kepala sekolah semuanya adalah tenaga honorer. Kalaupun ada yang mendapat sertifikasi, itu hanya 2 orang saja. Tapi kami tetap bersemangat melakukan pendidikan kepada siswa agar sekolah ini bisa terus berkembang kedepannya. Setiap bulan kami tetap mendapatkan gaji melalui subsidi, yakni dari Yayasan Teknologi Lengayang. Sebab yayasan memang melakukan sistem subsidi silang terhadap beberapa sekolah yang bernaung,” jelasnya.
Diakuinya, saat ini sekolah yang memiliki siswa sebanyak 96 orang itu sudah dijadikan pilihan oleh masyarakat untuk melanjutkan sekolah anaknya.
“Kami merasa bangga sebagai tenaga pengajar di sekolah ini. Sebab melalui sekolah ini kami bisa membantu pendidikan anak keluarga miskin di Pessel. Dengan adanya sekolah ini, maka anak keluarga tidak mampu yang terancam putus sekolah, bisa kembali bersekolah seperti teman-temannya yang lain,” ungkapnya.
Hal itu diakui Rabiah Bihamdika, siswa kelas XI yang berasal dari Nagari Limau Gadang Lumpo Kecamatan IV Jurai. “Kami menjadikan sekolah ini sebagai pilihan bukan saja karena unggul pada jurusan TKR dan TKJ dengan kemampuan teknik siswanya melalui workshop yang ada. Tapi juga karena kami tidak dibebankan biaya pendaftaran dan iuran komite,” akunya.
Ditambahkan Rabiah, jika sekolah itu tidak ada, maka dia terancam akan putus sekolah. Sebab kondisi ekonomi orangtuanya yang sulit, dia mengaku tidak akan mungkin orang tuanya bisa menyekolahkan dia sekaligus bersama dua orang adiknya yang saat ini juga masih dalam masa usia sekolah.
“Dari itu saya sangat berterimakasih dengan kehadiran SMK Teknologi Al Anhar ini. Karena sudah lama tidak mengikuti pelajaran praktik, maka kami dari jurusan TKR akan lebih serius lagi untuk mengikutinya di sekolah,” timpalnya dengan diamini rekan lainnya. (***) Editor : Novitri Selvia