Indonesia Sumbar Bisnis Olahraga Gaya Hidup Harian Magazine Otomotif Pariwisata Features Internasional Opini Advertorial Pendidikan Buku & Film Hiburan Kesehatan

Menggiurkan! Durian Nagari Salidosaribulan, Sensasi Tiga Rasa Yang Berbeda

Yoni Syafrizal • Selasa, 30 Agustus 2022 | 10:51 WIB
WARGA Nagari Salidosaribulan Indra Bhakti bersama rekannya saat mengambil durian yang jatuh di lahannya.(IST)
WARGA Nagari Salidosaribulan Indra Bhakti bersama rekannya saat mengambil durian yang jatuh di lahannya.(IST)

Cukup besarnya potensi tanaman buah seperti durian, menjadi salah satu peluang bagi Kabupaten Pesisir Selatan (Pessel) untuk menjadikannya sebagai salah satu pendongkrak perekonomian masyarakat, di samping juga terhadap Pendapatan Asli Daerah (PAD).

Hingga saat ini potensi besar itu masih berjalan dengan sendirinya tanpa mendapatkan sentuhan melalui program-program pemerintah yang bisa memberikan keuntungan lebih, baik bagi masyarakat, maupun bagi daerah sendiri.

Salah satu nagari yang memiliki potensi besar tanaman buah durian di Pesisir Selatan saat ini adalah Nagari Salido Saribulan, di Kecamatan IV Jurai.

Nagari yang juga terkenal dengan sumber Pembangkil Listik Tenaga Mikro Hidro (PLTMH) itu, sekarang sudah menjadi salah satu nagari yang diburu oleh masyarakat dan para pedagang dari berbagai daerah untuk mendapatkan buah durian.

Saat dikunjungi Padang Ekspres Sabtu (20/8) nagari yang berjarak sekitar 10 kilometer dari Painan ibu kota Kabupaten Pessel itu, kehidupan masyarakatnya terlihat damai dan tentram, serta juga ramah dengan andalan perekonomiannya sebagai petani dan pekebun pemilik lahan.

"Hingga saat ini ekonomi andalan masyarakat di Nagari Salido Saribulan ini adalah petani dan juga pekebun. Namun sebagian besarnya adalah berkebun dengan tanaman unggulannya durian, disusul dengan kopi," ungkap Indra Bhakti 35, warga setempat kepada Padang Ekspres.

Dijelaskannya bahwa pohon durian yang tumbuh dan berkembang saat ini rata-rata ditanam oleh orang tua-tua dulu. Sebagian besar dari mereka itu sudah meninggal dunia.

"Menanam durian merupakan salah satu kearifan lokal yang dimiliki oleh orang tua-tua dulu di nagari ini. Karena menjadi budaya atau kearifan lokal, sehingga tidak ada keluarga yang tidak memiliki batang durian di nagari ini. Kalaupun tidak memiliki lahan yang luas sehingga berhektar-hektar, setidak-tidaknya ada sebanyak 5 batang. Makanya bagi kami di kampung ini, tidak harus membeli durian pula bila ingin memakan durian, terutama sekali disaat musim durian," ucapnya.

Indra Bhakti yang juga aktif sebagai penggiat wisata yang tergabung pada kelompok sadar wisata (Pokdarwis) Sarasah Kamumuan Salido Sari Bulan itu berharap agar potensi durian yang dimiliki oleh nagari itu bisa dikenal luas oleh masyarakat umum, atau tidak hanya dikalangan pedagang saja.

"Ini saya harapkan agar nagari ini tidak hanya diburu pedagang saja disaat musim durian tiba, tapi juga oleh masyarakat umum dari berbagai daerah untuk datang dan berkunjung menikmati buah durian langsung dari batangnya," ujarnya.

Dia menyampaikan bahwa hal itu tidaklah berlebihan, sebab durian bibit lokal atau durian kampung yang sudah berumur rata-rata di atas 30 tahun di kampung itu, memiliki ciri khas tersendiri.

"Ada tiga jenis durian yang menjadi keunggulan dan ciri khas di nagari ini yang diburu oleh pembeli. Diantaranya durian kambuik, durian kunyit, dan durian banta. Tiga jenis itu ada bibit lokal yang dikembangkan secara turun-temurun yang hingga saat ini masih tetap bertahan. Tiga jenis itu memiliki cita rasa yang berbeda, namun bagi yang pernah mencicipinya akan menjadi ketagihan. Agar tidak terkecoh, maka si pembeli bisa langsung datang ke rumpunnya di saat musim durian tiba," jelasnya.

Dia menambahkan walau tidak dimusim durian, masyarakat tetap akan bisa mendapatkan buah durian di nagari itu.

"Namun itu dikatakan orang dengan sebutan buah 'salek' atau buah yang tersembunyi di antara batang yang ada. Karena tersembunyi, maka harganya akan mahal, bahkan bisa mencapai Rp 50 ribu per butir. Beda panennya melimpah, maka harganya akan jauh lebih murah, dan disesuaikan dengan harga pasar saat itu," tambah Indra lagi.

Disampaikan lagi bahwa selain memiliki lahan durian keluarga seluas 1 hektar, saat ini dia juga mengolah buah durian tersebut dalam bentuk durpas, pakasam dan dagingnya untuk di ekspor.

"Melalui pengelolaan dalam bentuk durpas dengan ukuran satu packing 9 gram ini, maka dengan harga saat ini bisa dijual Rp 40 ribu. Jika dalam bentuk daging yang sudah dikemas harga 1 kilogramnya bisa mencapai Rp 80 ribu, dan dalam bentuk asam durian Rp 30 ribu pula. Jika dipersentasekan, keuntungan yang didapat dari mengolah buah durian ini mencapai 50 persen dari modal atau biaya produksi yang kita keluarkan. Ini tentu cukup menguntungkan," ucapnya lagi.

Nurdin 70, petani durian lainnya di nagari itu ketika ditanya Padang Ekspres mengatakan bahwa pohon durian yang dia miliki saat ini ada sekitar 5 hektar, yang semuanya merupakan durian kampung.

"Saya memang tidak menanam durian yang bibitnya berasal dari luar, tapi dari bibit durian kampung sendiri. Tidak sulit bagi saya untuk mencari durian kampung yang unggul. Bibitnya saya pilih dari biji durian unggul itu sendiri. Bila ditemui, maka bibit itu saya tanam pada polybag sebelum dipindahkan pada lahan," ujarnya.

Dikatakan juga bahwa bagi masyarakat yang datang dan berkunjung ke ladangnya di saat musim durian, maka akan selalu mendapatkan suguhan durian secara gratis.

"Mendapatkan suguhan makan durian secara gratis itu sudah menjadi tradisi bagi kami sebagai pemilik lahan durian di nagari ini. Tentunya bagi mereka yang berkunjung ke ladang. Bahkan lebih dari itu, juga bisa membawanya pulang. Namun saat ini belum musim durian. Saya perkirakan musim durian ada sekitar 1 atau dua bulan lagi di nagari ini," jelasnya.

Ketua Pokdarwis Sarasah Kamumuan Salido Saribulan, Yuda Rahayu Putra, mengatakan kepada Padang Ekspres Sabtu (20/8) bahwa durian merupakan salah satu potensi yang bisa digarap di nagari itu untuk dikembangkan menjadi wisata minat khusus.

"Karena tidak semua nagari yang bisa dikembangkan menjadi kawasan minat khusus, maka peluang potensi yang ada di nagari Salido Saribulan ini harus dioptimalkan pengelolaannya. Salah satu peluang itu adalah melalui pengembangan wisata minat khusus memetik durian secara langsung pada lahannya," kata Yuda pula.

Salah satu upaya yang sudah dilakukannya bersama anggota Pokdarwis Sarasah Kamumuan Salido Saribulan saat ini adalah pengembangan penyediaan paket wisata khusus Camping Ground atau berkemah di alam terbuka.

Dia menjelaskan bahwa pihaknya bersama anggota Pokdarwis telah melakukan uji coba dan memastikan bahwa lokasi perkemahan di nagari itu memang steril dan aman.

"Dari itu kepada pengunjung yang ingin datang untuk berkemah sambil menikmati langsung memetik buah durian dari batangnya, tidak perlu ada keraguan. Sebab di kawasan hutan ini tidak ditemukan binatang liar maupun hewan buas yang mengganggu keselamatan pengunjung," katanya.

Dijelaskannya bahwa nilai paket yang ditawarkan sangat terjangkau. Sebab satu unit kemah dengan kapasitas isi empat orang, dapat dibayar Rp 50 ribu per hari.

Jika dua hari, diberi diskon menjadi Rp 90 ribu. Fasilitas yang disediakan terdiri dari matras dan alat memasak. Disamping itu, pemandu juga selalu standby dan menjaga keamanan lokasi.

"Bagi wisatawan yang ingin Camping Ground, silahkan saja datang ke sini, kami akan dengan senang hati menyambut dan menjadi pemandu yang baik. Selain menikmati durian berbuah dan jatuh dari pohon, di nagari ini juga memiliki air terjun setinggi 15 meter, dan atraksi berhanyut di dalam terowongan air yang panjangnya hampir 3 kilometer," jelasnya.

Sebagaimana diketahui, kawasan wisata Salido Saribulan yang terletak di Kecamatan IV Jurai itu, telah ditetapkan sebagai desa wisata bersama 15 desa wisata lainnya di Pessel yang tersebar di 7 kecamatan.

Penyerahan SK Desa Wisata itu dilakukan oleh Bupati Pessel, Rusma Yul Anwar, saat kegiatan Jambore Desa Wisata tingkat Pessel, yang diselenggarakan di Salido Saribulan pada 21 Desember 2021 lalu.

Kepala Dinas Pariwisata Pemuda dan Olahraga Pessel, Suhendri, ketika dihubungi Senin (22/8) mengatakan bahwa kearifan lokal itu memang bisa dikemas menjadi wisata minat khusus apabila disesuaikan dengan potensi dan keunikan yang dimiliki menurut selera atau minat pengunjung.

Hal itu disampaikannya karena Pessel sekarang memang telah dijadikan sebagai salah satu daerah kunjungan wisata utama oleh masyarakat di Sumbar.

"Pessel selain memiliki wisata pantai dan pulau-pulau kecil yang indah, juga memiliki aliran sungai yang jernih, kawasan perbukitan hijau yang dihiasi hamparan sawah yang luas, serta juga bermacam jenis tanaman buah pada lahan perkebunan milik masyarakat. Berbagai potensi itu memiliki peluang besar untuk dikembangkan menjadi lokasi wisata minat khusus, yang hingga saat ini belum dikemas dan dijual kepada wisatawan," katanya.

Dia mencontohkan bahwa salah satu potensi yang yang bisa dikemas dan dijual kepada wisatawan adalah ketika daerah itu memasuki musim panen durian.

"Melalui ciri khas durian pasisianya ini, Pessel bisa menawarkan paket wisata menunggu durian jatuh dari pohon. Ini tentu memiliki daya tarik yang tinggi bagi masyarakat luar daerah. Sebab sensasi yang ditawarkan belum tentu bisa dimiliki oleh daerah lainnya di Pessel. Bahkan ini akan memiliki daya tarik tersendiri bagi wisatawan yang berminat. Potensi ini dimiliki oleh Nagari Salido Saribulan," timpalnya. (yon)

Editor : Novitri Selvia
#Pokdarwis Sarasah Kamumuan Salido Sari Bulan #durian #Nagari Salido Saribulan