Indonesia Sumbar Bisnis Olahraga Gaya Hidup Harian Magazine Otomotif Pariwisata Features Internasional Opini Advertorial Pendidikan Buku & Film Hiburan Kesehatan

Syafrianto: Harga Kakao Meroket, Petani Gigit Jari Karena Terlanjur Dibabat

Novitri Selvia • Senin, 6 Mei 2024 | 10:17 WIB

Kabid Perkebunan Dinas Pertanian Pessel, Syafrianto. (dok yon)
Kabid Perkebunan Dinas Pertanian Pessel, Syafrianto. (dok yon)
Kenaikan harga komoditi tanaman kakao atau cokelat sejak memasuki tahun 2024 ini ternyata tidak memberikan gairah ekonomi bagi masyarakat petani di Kabupaten Pesisir Selatan (Pessel). Pasalnya masyarakat petani yang sebelumnya menanam kakao telah mengganti tanamannya dengan jenis lain seperti gambir, minyak nilam, dan berbagai jenis lainnya.

Hal itu dampak dari anjloknya harga tanaman kakao dan tidak bisa mereka jadikan sebagai andalan untuk meningkatkan perekonomian dan kesejahteraan keluarga. Saat ini kenaikan harga komoditi yang dikenal oleh masyarakat dengan sebutan cokelat itu mencapai 113 persen atau berada di level US$ 8.939 per ton.

Hal itu diakui Alsri 56, salah seorang petani di Nagari Lakitan Tengah, Kecamatan Lengayang, kepada Padang Ekspres Senin (6/5).

"Sejak tahun 2013 saya bersama petani lainnya di nagari ini beralih menanam tanaman gambir, nilam, dan berbagai jenis lainnya dengan cara menebang tanaman kakao. Itu kami lakukan karena harga kakao dari hasil panen yang kami lakukan tidak memberikan gairah secara ekonomi akibat murahnya harga pembelian pedagang yang hanya dikisaran Rp 15 ribu per kilogram ketika itu," katanya.

Kuatir perekonomian semakin terpuruk karena tidak adanya jaminan terhadap kenaikan harga, sehingga solusinya cuma beralih pada tanaman lain. Diakui Syafrigon 49, petani lainnya di nagari itu yang saat ini menjadikan gambir, pinang dan durian sebagai tanaman unggulan pada bekas lahan tanaman kakao nya itu.

"Kalau saat ini akan sulit untuk mencari lahan petani di nagari ini yang masih mengembangkan tanaman kakao. Kondisi yang sama juga terlihat di beberapa kecamatan lainnya di daerah ini. Kalaupun tanaman kakao masih ada, paling hanya sebagai tanaman penyela saja yang tumbuhnya tidak dalam satu hamparan," ungkapnya.

Lebih jauh dijelaskan bahwa sebagai petani yang memiliki tanaman kakao dulunya dia mengakui merasa sedih saat tanaman itu dia musnahkan.

"Namun hanya itu satu-satunya cara yang bisa saya lakukan agar ekonomi keluarga saya tidak terpuruk. Dan secara kebetulan pula tetangga saya ketika itu sudah ada yang panen gambir dengan harga yang dihargai pedagang sangat menggiurkan. Tanpa pikir panjang kebun yang ditumbuhi kakao saat itu saya ganti dengan gambir, termasuk juga pinang," jelasnya.

Kepala Dinas Pertanian Pessel, Madrianto, melalui Kepala Bidang (Kabid) Perkebunan, Syafrianto ketika dihubungi Padang Ekspres menjelaskan bahwa di daerah itu pengembangan tanaman kakao tidak ada dilakukan melalui program pemerintah. "Kalaupun ada tanaman kakao saat ini di Pessel, itu dikembangkan oleh petani secara swadaya, bukan melalui program pemerintah," katanya.

Dijelaskan lagi bahwa di daerah itu kecenderungan petani tidak merawat tanaman bila harga jual panennya murah. Selain itu mereka juga mudah terpengaruh dan beralih pilihan bila melihat ada petani lain lebih sukses dengan tanaman jenis lain.

"Karena sejak tahun 2012 tanaman gambir dan jenis lainnya mereka nilai lebih menguntungkan dari tanaman kakao, sehingga mereka secara beramai-ramai mengganti kebunnya dengan jenis lain dengan cara menebangnya. Makanya saat ini tanaman kakao tidak lagi banyak dikembangkan petani di daerah ini yang dulunya banyak ditemui di Kecamatan Lengayang, Sutera, Batang Kapas, Bayang dan Bayang Utara, serta Kecamatan Koto XI Tarusan," jelasnya.

Diakuinya bahwa akibat semakin meroketnya harga komoditi tanaman kakao di pasar dunia, membuat para petani sudah kembali mulai melirik tanaman ini. "Karena saat ini kenaikan harga komoditi yang dikenal oleh masyarakat dengan sebutan cokelat itu sudah mencapai 113 persen atau berada di level US$ 8.939 per ton. Namun saya menyarankan agar pengembangan kembali tanaman kakao tidak berdampak pada jenis lainnya sebagaimana dialami oleh tanaman ini sekarang," ujarnya.

Hal itu dijelaskan Syafrianto dapat dilihat dari penyusutan luas lahan berdasarkan data tahun 2019 ke 2020 yang dia miliki saat ini, dimana tahun 2019 luas lahan perkebunan kakao 2.281,50 hektar, menyusut menjadi 2.280,50 hektar.

"Walau demikian, produksinya mengalami peningkatan di tahun yang sama, sebab tahun 2019 produksinya sebesar 937,80 ton, menjadi 1.088,04 ton di tahun 2020. Semua lahan yang ada itu merupakan perkebunan swadaya yang dikembangkan secara mandiri oleh masyarakat, atau tidak melalui program pemerintah," jelasnya.

Karena tanaman kakao memiliki pangsa pasar yang luas dan juga menjanjikan secara ekonomi, sehingga pihaknya akan terus memberikan dorongan kepada petani di daerah itu untuk mengembangkan tanaman kakao yang tentunya tidak memusnahkan tanaman jenis lain sebagaimana dialami tanaman kakao di masa lalu. "Sebab potensi lahan yang luas dan subur membuat tanaman ini bisa dikembangkan pada semua kecamatan yang ada di Pessel," tutupnya. (yon)

 

Editor : Novitri Selvia
#kakao #Dinas Pertanian Pessel #Harga Kakao Meroket #Madrianto