Indonesia Sumbar Bisnis Olahraga Gaya Hidup Harian Magazine Otomotif Pariwisata Features Internasional Opini Advertorial Pendidikan Buku & Film Hiburan Kesehatan

Nyawa Sudah Melayang, Pemerintah masih Diam: Warga Desak Pembangunan Jembatan Permanen

Yoni Syafrizal • Selasa, 22 Juli 2025 | 11:15 WIB
BUTUH SENTUHAN: Warga Nagari Koto Rawang terlihat membawa tandu melintasi jembatan darurat yang hanya layak dilalui pejalan kaki beberapa waktu lalu. (EDI SIKUMBANG UNTUK PADEK)
BUTUH SENTUHAN: Warga Nagari Koto Rawang terlihat membawa tandu melintasi jembatan darurat yang hanya layak dilalui pejalan kaki beberapa waktu lalu. (EDI SIKUMBANG UNTUK PADEK)

PADEK.JAWAPOS.COM- Sudah lebih dari satu tahun masyarakat Nagari Koto Rawang, Kecamatan IV Jurai, Kabupaten Pesisir Selatan (Pessel) terisolasi akibat putusnya jembatan penghubung yang dihantam banjir pada Maret 2024 lalu.

Hingga kini, warga masih menggantungkan akses harian pada jembatan darurat hasil swadaya masyarakat, yang hanya bisa dilalui pejalan kaki dan sangat berisiko.

Kondisi ini tidak hanya menyulitkan aktivitas warga, tetapi juga telah memakan korban jiwa. Setidaknya sepuluh warga dilaporkan terjatuh ke sungai saat menyeberangi jembatan darurat tersebut. Satu di antaranya meninggal dunia.

“Jembatan ini hanya selebar satu meter, panjangnya sekitar 50 meter, dan tanpa pengaman kiri-kanan. Tidak layak dilalui kendaraan bermotor. Tapi karena tidak ada alternatif lain, warga terpaksa melewatinya meski nyawa jadi taruhan,” ujar Fauzi, 45, warga setempat, kepada Padang Ekspres, Senin (21/7).

Fauzi menyampaikan, insiden terbaru terjadi pada Minggu (20/7) sekitar pukul 12.00, saat dua orang warga terjatuh ke Sungai Batang Salido ketika menyeberangi jembatan dengan sepeda motor.

Mereka adalah Dini Ermawati, 19 dan ibunya, Nurhayati, 46. Sang ibu meninggal dunia meski sempat dibawa ke RSUD dr. M. Zein, Painan.

“Saya berharap pemerintah segera membangun jembatan permanen. Sejak jembatan ini putus, kendaraan roda dua tidak bisa masuk ke nagari kami. Mobil pun terpaksa diparkir di luar, dan hasil pertanian harus diangkut pakai gerobak kalau ingin dijual keluar,” tambahnya.

Kondisi tersebut dibenarkan oleh Wali Nagari Koto Rawang, Derijol. Ia juga menyatakan belasungkawa atas kejadian tragis yang menimpa dua warganya.

“Jembatan darurat ini memang sangat rawan. Saat kejadian, ibu dan anak itu pulang dari Pasar Sago mereka terjatuh ke sungai, Nurhayati masih hidup saat dibawa ke rumah sakit, tapi nyawanya tak tertolong. Saya atas nama pribadi dan pemerintahan nagari turut berduka cita,” ujarnya.

Menurut Derijol, jembatan darurat itu dibangun secara gotong royong oleh warga setelah jembatan gantung sepanjang 50 meter dengan lebar 2,5 meter yang menghubungkan Nagari Koto Rawang dan Nagari Salido Saribulan hanyut diterjang banjir tahun lalu.

Kini, warga berharap adanya jembatan permanen yang bisa dilalui kendaraan roda empat, alat berat, dan mempermudah pengaspalan jalan. Jalan utama di Koto Rawang saat ini pun masih berupa rabat beton dengan banyak lubang.

“Jembatan darurat ini juga tidak memiliki lampu penerangan, apalagi di bagian tengah. Sangat berbahaya dilalui saat malam hari,” katanya.

Pihak pemerintah daerah melalui Dinas Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang (PUPR) Pessel mengaku telah mengusulkan pembangunan jembatan permanen tersebut ke Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR) sejak 2024.

“Kementerian PUPR sudah menyetujui dan memprioritaskan pembangunan lima jembatan melalui anggaran direktif 2025, salah satunya jembatan Koto Rawang,” ujar Fahrezi Eka Siska, Kepala Bidang Bina Marga PUTR Pessel, saat dihubungi.

Ia menjelaskan bahwa Balai Pelaksanaan Jalan Nasional (BPJN) Sumbar sudah meninjau lokasi. Rencananya, jembatan permanen akan dibangun dengan panjang sekitar 100 meter dan anggaran Rp5 miliar.

Namun, pembangunan itu tertunda karena pagu anggaran BPJN Sumbar diblokir oleh Kementerian Keuangan melalui Keputusan Menteri Keuangan Nomor 29 Tahun 2025 tentang Penyesuaian Rincian Alokasi Transfer ke Daerah. Blokir ini dilakukan dalam rangka efisiensi pelaksanaan APBN dan APBD 2025.

“Dana untuk pembangunan lima jembatan, termasuk Koto Rawang, sudah ada. Tapi hingga kini masih diblokir, jadi pembangunan belum bisa dimulai,” pungkas Fahrezi. (yon)

Editor : Novitri Selvia
#PUPR Pessel #Fahrezi Eka Siska #Nagari Koto Rawang #Derijol #BPJN Sumbar #jembatan rusak #Kecamatan IV Jurai