Indonesia Sumbar Bisnis Olahraga Gaya Hidup Harian Magazine Otomotif Pariwisata Features Internasional Opini Advertorial Pendidikan Buku & Film Hiburan Kesehatan

Haridman dan Laskar Pemuda Selamatkan Penyu di Pantai Ampingparak

Yoni Syafrizal • Senin, 10 November 2025 | 13:02 WIB
PERLU DIJAGA BERSAMA: Haridman (kanan) bersama pengunjung dengan latar keindahan cemara laut di Pantai Nagari Ampingparak, Kecamatan Sutera, Kabupaten Pesisir Selatan, beberapa waktu lalu.
PERLU DIJAGA BERSAMA: Haridman (kanan) bersama pengunjung dengan latar keindahan cemara laut di Pantai Nagari Ampingparak, Kecamatan Sutera, Kabupaten Pesisir Selatan, beberapa waktu lalu.

PADEK.JAWAPOS.COM-BILA ada kesempatan, berkunjunglah ke Nagari Ampingparak. Kecamatan Sutera, Kabupaten Pesisir Selatan. Daerah pesisir itu tampak rindang dan asri.

Barisan pohon cemara laut, menciptakan pemandangan hijau yang menenangkan mata. Pohon-pohon itu tak hanya memperindah lanskap. Tetapi juga berperan penting melindungi kawasan pantai dari abrasi.

Tidak itu saja. Kawasan sepanjang muaranya juga memiliki daya tarik tersendiri. Hamparan hutan mangrove tertata rapi. Selain menjadi pelindung alami ekosistem pesisir, hutan mangrove juga menghadirkan suasana sejuk.

Beragam jenis burung laut sering hinggap di antara rimbunan cemara dan mangrov. Di sepanjang muara, para pengunjung dapat melihat hewan-hewan kecil seperti kepiting, kerang, dan lokan yang hidup di sela akar mangrove.

Penyu laut pun menjadikannya tempat persinggah untuk bertelur. Tidak jarang, para wisatawan beruntung dapat menyaksikan langsung penyu-penyu itu menepi di malam hari.

Tapi, bila pernah ke sini sebelum tahun 2010, pastilah mendapatkan kondisi berbeda. Pantainya kritis. Erosi, kurang vegetasi, dan rentan terhadap abrasi. Satu nama tak bisa dilepaskan dari perubahan tersebut. Haridman.

Dia lah motor penggeraknya. Untuk melakukan perubahan, Haridman bersama sejumlah pemuda nagari mulai membentuk lembaga masyarakat yang kini dikenal sebagai Laskar Pemuda Peduli Lingkungan (LPPL) Ampingparak pada tahun 2010. Dia pun didapuk sebagai ketua.

“Waktu itu kami prihatin. Pantai makin rusak, penyu makin jarang muncul. Kami ingin masyarakat ikut menjaga, bukan hanya mengeluh,” ceritanya kepada Padang Ekspres, kemarin.

Langkah pertama yang diambil, penanaman pohon cemara laut dan mangrove di sepanjang garis pantai. Tujuannya tidak hanya memperkuat benteng alami pesisir, tetapi juga mendukung habitat penyu yang saat itu sudah diambang kepunahan.

Seiring waktu, kawasan konservasi penyu di Pantai Ampingparak semakin berkembang signifikan. Menurut data, tiga jenis penyu langka sudah mulai mendarat dan bertelur kembali di sepanjang pantai tersebut. Yakni, penyu lekang, sisik, dan hijau.

“Relokasi telur penyu kita lakukan untuk melindungi dari predator dan gangguan manusia. Ini bagian dari upaya panjang yang telah kami lakukan selama ini,” ujar Haridman.

Tidak hanya aspek ekologis, gerakan yang dipimpin Haridman, juga mendorong perubahan sosial. Masyarakat setempat yang dulu kerap mengambil telur penyu, kini mulai beralih menjadi penjaga.

Kesadaran itu menjadi sebuah transformasi perilaku yang berdampak positif terhadap keberlanjutan penyu yang sudah diambang kepunahan.

Berkat upaya itu, berbagai penghargaan pun datang sebagai pengakuan atas kerja keras tersebut. Beberapa di antaranya, Kalpataru dari Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan RI. Pada tahun 2024, LPPL Ampingparak berhasil masuk sebagai finalis dalam ajang KEHATI Award.

Di tingkat lokal, Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Pessel pun memberikan piagam penghargaan kepada Haridman dan komunitasnya. Sebagai pelopor konservasi dan pengembangan ekowisata di wilayah mereka.

Keberhasilan tersebut tidak lepas dari kerja sama lintas sektor, pemerintah daerah, lembaga swadaya masyarakat, hingga dukungan dana dan teknologi dari pihak swasta yang turut membantu.

“Konservasi lingkungan hanya bisa sukses kalau masyarakat ikut bergerak. Kami bukan sendiri,” ujar Haridman, menegaskan pentingnya kolaborasi.

Pengembangan kawasan konservasi itu telah membawa dampak ekonomi positif. Kawasan itu telah menjadi destinasi wisata edukasi, membuka peluang UMKM lokal, dan memberikan alternatif pengembangan pesisir yang berkelanjutan.

Walau demikian, dia tetap menyadari tantangan masih besar. Abrasi, perubahan iklim, dan kebutuhan pendanaan menjadi hambatan yang terus dihadapi. “Lingkungan bukan proyek cepat selesai. Ini perjalanan panjang. Kami harus terus belajar dan adaptasi,” ujarnya.

Dengan komitmen tinggi, Haridman berharap generasi muda Nagari Ampingparak, dan wilayah pesisir lainnya terinspirasi untuk menjadi pelestari lingkungan. Bukan hanya untuk sekarang tetapi untuk generasi mendatang. (yon)

Editor : Novitri Selvia
#Haridman #Laskar Pemuda #penyu #Pantai Ampingparak #Nagari Ampingparak