Indonesia Sumbar Bisnis Olahraga Gaya Hidup Harian Magazine Otomotif Pariwisata Features Internasional Opini Advertorial Pendidikan Buku & Film Hiburan Kesehatan

Rehabilitasi Lahan Terdampak Bencana Tuntas

Willian. • Jumat, 15 Mei 2026 | 08:50 WIB
Kepala Pusat Pelatihan Pertanian RI, Tedy Dirhamsyah, bersama Gubernur Sumbar Mahyeldi Ansharullah mengikuti tanam padi serentak di lahan sawah terdampak bencana hidrometeorologi di Korong Tanah Taban, Lubukalung, Padangpariaman, Rabu (13/5). (DOK BIRO ADPIM)
Kepala Pusat Pelatihan Pertanian RI, Tedy Dirhamsyah, bersama Gubernur Sumbar Mahyeldi Ansharullah mengikuti tanam padi serentak di lahan sawah terdampak bencana hidrometeorologi di Korong Tanah Taban, Lubukalung, Padangpariaman, Rabu (13/5). (DOK BIRO ADPIM)

PADEK.JAWAPOS.COM - Kepala Pusat Pelatihan Pertanian RI, Tedy Dirhamsyah, menobatkan Sumatera Barat sebagai provinsi dengan progres terbaik secara nasional dalam rehabilitasi lahan pertanian terdampak bencana hidrometeorologi. Capaian itu dinilai melampaui daerah terdampak lain seperti Aceh dan Sumatera Utara.

“Total lahan rusak ringan dan sedang di Sumbar mencapai 3.902 hektare dan progresnya luar biasa. Secara nasional rata-rata baru sekitar 14 persen, tapi Sumbar sudah memenuhi target Pak Menteri. Ini juara satu,” kata Tedy saat menghadiri kegiatan tanam padi serentak di Korong Tanah Taban, Nagari Pasielaweh Lubuk Alung, Kecamatan Lubukalung, Kabupaten Padangpariaman, Rabu (13/5).

Menurut Tedy, keberhasilan Sumbar bukan hanya terlihat dari percepatan rehabilitasi lahan dan tanam kembali, tetapi juga dari kemampuan daerah tersebut menjaga produktivitas pertanian hingga panen dan ekspor hasil pertanian.

“Kemarin di Solok kami lihat sudah panen dan hasilnya diekspor. Jadi Sumbar bukan hanya tanam, tapi juga sudah panen. Ini yang menjadi perhatian Kementerian Pertanian,” ujarnya.

Ia juga menegaskan Kementerian Pertanian telah menyiapkan berbagai program antisipasi kekeringan untuk menghadapi ancaman musim kemarau dan El Nino yang diperkirakan mulai terasa pada akhir Juni hingga Juli mendatang. Program tersebut antara lain berupa irigasi perpompaan dan pembangunan sumur dalam.

 “Kami siap memfasilitasi. Silakan segera diusulkan. Ada program irigasi perpompaan, sumur air dalam dan lainnya yang telah disiapkan kementerian untuk menghadapi musim kemarau,” kata Tedy.

Sementara itu, Gubernur Sumatera Barat, Mahyeldi Ansharullah, menyatakan rehabilitasi lahan pertanian kategori rusak ringan dan sedang akibat bencana hidrometeorologi di Sumbar telah rampung 100 persen.

“Alhamdulillah, sesuai arahan Pak Menteri, proses rehabilitasi lahan terdampak bencana kategori rusak ringan dan sedang berhasil kita percepat dan tuntaskan. Hari ini adalah penanaman terakhir, artinya progres kita sudah 100 persen,” ujar Mahyeldi.

Ia menyebut keberhasilan tersebut tidak lepas dari dukungan Kementerian Pertanian, Balai Wilayah Sungai Sumatera V, serta pemerintah kabupaten dan kota terdampak. Total anggaran rehabilitasi yang dikucurkan Kementerian Pertanian untuk Sumbar mencapai Rp32,9 miliar.

Mahyeldi mengatakan pemerintah kini mulai fokus pada penanganan lahan rusak berat dan sawah yang hilang akibat banjir dan longsor. Berdasarkan data pemerintah daerah, sekitar 7.000 hektare lahan terdampak berat, termasuk lebih dari 4.000 hektare sawah yang hilang karena berubah menjadi aliran sungai atau tersapu longsor.

“Sebahagian dari lahan yang hilang itu sekarang berubah menjadi sungai, ada juga yang benar-benar tergerus akibat longsor. Karena itu penanganannya perlu melibatkan lintas kementerian, tidak bisa hanya Kementerian Pertanian, tapi juga Kementerian PU dan kementerian lain,” tegasnya.

Menurut Mahyeldi, seluruh data kerusakan dan rencana rehabilitasi telah dituangkan dalam dokumen R3P atau Rencana Rehabilitasi dan Rekonstruksi Pascabencana yang telah diserahkan ke pemerintah pusat melalui BNPB. Pemerintah daerah kini menunggu kepastian teknis penanganan dan dukungan anggaran lanjutan.

Ia juga mengingatkan ancaman baru berupa musim kering dan El Nino yang perlu segera diantisipasi. Pemerintah daerah diminta mempercepat musim tanam agar panen tidak terganggu dan stok pangan tetap aman.

“Di Agam kemarin masih terjadi longsor, jalan putus dan area pertanian terganggu. Karena itu kita harus bergerak cepat sekaligus meminimalisir risiko banjir dan longsor berikutnya,” katanya.

Di sisi lain, Bupati Padang Pariaman, John Kenedy Azis, mengungkapkan bencana banjir dan longsor telah memukul sektor pertanian di wilayahnya secara serius.

Menurutnya, total lahan sawah terdampak di Padang Pariaman mencapai 1.263,4 hektare, terdiri dari 446 hektare rusak ringan, 238,25 hektare rusak sedang, 450,7 hektare rusak berat, dan 100,5 hektare sawah hilang akibat terbawa arus sungai. 

Selain itu, lahan jagung terdampak mencapai 570,35 hektare, dengan rincian 382,6 hektare rusak ringan, 71 hektare rusak sedang, 112,5 hektare rusak berat, dan 4,3 hektare lahan hilang.

“Untuk sawah rusak ringan seluruhnya sudah tertangani 100 persen, sedangkan untuk lahan sawah yang rusak berat dan hilang sampai sekarang belum ada alokasi bantuan dari Kementerian Pertanian. Begitu juga lahan jagung yang terdampak. Kita berharap ini bisa segera,” kata John Kenedy Azis. (wni)

Editor : Adriyanto Syafril
#sumatera barat #lahan pertanian