PADEK.JAWAPOS.COM - Keterisolasian wilayah terpencil di Kabupaten Pasaman selama ini bukan hanya disebabkan medan geografis dan jauhnya akses transportasi, tetapi juga keterbatasan jaringan internet yang menghambat pelayanan pemerintahan, pendidikan, kesehatan, hingga aktivitas
ekonomi masyarakat.
DALAM satu tahun kepemimpinan Bupati Pasaman Welly Suhery bersama Wakil Bupati H. Parulian, kondisi tersebut mulai berubah melalui program unggulan Internet Gratis 3T untuk wilayah terdepan, terluar, tertinggal, dan daerah blankspot yang selama ini belum tersentuh layanan internet memadai.
Program tersebut tidak hanya berfokus pada pemasangan perangkat jaringan, tetapi juga membuka akses informasi, mempercepat pelayanan publik, dan menghadirkan kesempatan yang sama bagi masyarakat di wilayah terpencil agar dapat terhubung dengan perkembangan digital.
Pelaksanaan program dilakukan langsung oleh Dinas Komunikasi dan Informatika Kabupaten Pasaman. Tim Diskominfo turun ke lapangan melakukan survei lokasi, menentukan titik pemasangan, menyiapkan perangkat, hingga memastikan jaringan dapat digunakan masyarakat.
Berbagai tantangan dihadapi di lapangan, mulai dari kondisi geografis, akses jalan yang sulit, hingga sebaran permukiman warga. Namun, satu per satu wilayah yang sebelumnya blankspot kini mulai menikmati layanan internet gratis.
“Fokus kami adalah wilayah-wilayah yang selama ini belum terjangkau akses internet, terutama kejorongan yang membutuhkan jaringan untuk pelayanan nagari, pendidikan, kesehatan, dan kebutuhan masyarakat lainnya,” ujar Kepala Dinas Kominfo Pasaman, Fatrizon, saat jumpa pers evaluasi satu tahun program unggulan di Media Center Diskominfo Pasaman, Selasa (19/5).
Dari total target 42 kejorongan blankspot, hingga kini sebanyak 25 kejorongan telah berhasil terkoneksi internet gratis. Jaringan tersebut kemudian dikembangkan ke sejumlah titik layanan tambahan sehingga total terdapat 34 titik akses internet gratis yang aktif di berbagai wilayah Pasaman.
Jika dihitung berdasarkan target sasaran, capaian program tersebut telah mencapai 59,52 persen.
“Alhamdulillah, hingga saat ini program internet gratis daerah 3T menunjukkan perkembangan sangat baik. Sebanyak 25 kejorongan dari target 42 kejorongan telah berhasil terkoneksi internet gratis dan dikembangkan menjadi 34 titik akses aktif,” jelas Fatrizon.
Pemerintah Kabupaten Pasaman juga terus melakukan pendataan wilayah blankspot secara berkelanjutan. Selain itu, dukungan jaringan terus diupayakan melalui koordinasi dengan pemerintah pusat dan Bakti Kominfo guna memperluas cakupan layanan internet di daerah terpencil.
Manfaat program mulai dirasakan langsung oleh masyarakat. Di kantor nagari, pelayanan administrasi kini berjalan lebih cepat karena aparatur desa dapat mengakses sistem pemerintahan dan mengirim laporan secara daring tanpa harus mencari lokasi yang memiliki jaringan internet.
Di sektor pendidikan, internet membantu guru dan siswa mengakses sumber belajar digital yang sebelumnya sulit dijangkau. Pembelajaran menjadi lebih terbuka dan mengikuti perkembangan teknologi.
Sementara di fasilitas kesehatan, jaringan internet mendukung pelaporan data pelayanan kesehatan, koordinasi antarpetugas, hingga layanan ibu hamil, balita, dan imunisasi yang membutuhkan komunikasi cepat dan akurat.
“Dulu kami harus mencari tempat yang ada jaringan untuk mengirim laporan pelayanan kesehatan. Sekarang pekerjaan jauh lebih cepat dan efektif,” ujar seorang petugas Pustu di Kotonopan Rao, Kecamatan Rao Utara, Pasaman.
Tidak hanya pelayanan publik, internet gratis juga mulai membuka peluang ekonomi masyarakat. Warga kini memanfaatkan media sosial dan platform digital untuk berjualan secara daring, mempromosikan produk, hingga memperluas jangkauan pelanggan.
“Saya sekarang bisa berjualan online dan berkomunikasi lebih mudah. Program ini sangat membantu masyarakat,” kata Ani, 34, salah seorang warga penerima manfaat.
Satu tahun kepemimpinan Welly–Parulian menjadi langkah awal penting dalam pemerataan akses digital di Kabupaten Pasaman. Wilayah yang sebelumnya blankspot kini mulai terkoneksi.
Pelayanan publik menjadi lebih cepat, akses pendidikan semakin terbuka, dan masyarakat mulai memasuki ruang ekonomi digital.
Dari daerah yang dahulu terisolasi jaringan, kini tumbuh harapan baru menuju Pasaman yang lebih maju, terbuka, dan siap menghadapi era digital. (wni)
Editor : Adriyanto Syafril