PADEK.JAWAPOS.COM - Gubernur Sumbar, Mahyeldi Ansharullah, menegaskan bahwa Situs Menhir Bawah Parit di Nagari Maek, Kecamatan Bukit Barisan, Kabupaten Limapuluh Kota, merupakan bukti kuat keberadaan peradaban tua masyarakat Minangkabau sejak ribuan tahun sebelum masehi.
Penegasan itu disampaikan Mahyeldi saat meninjau langsung kawasan situs menhir di Jorong Kototinggi, Kamis (28/5). Kunjungan tersebut dilakukan sebagai bentuk dukungan pemerintah terhadap pelestarian situs sejarah sekaligus penguatan identitas budaya Minangkabau.
Situs Menhir Bawah Parit tercatat sebagai kompleks menhir terbesar di kawasan Mahat dengan luas sekitar 6.000 meter persegi. Di lokasi itu terdapat sekitar 370 menhir dengan berbagai ukuran. Sebagian menhir masih berdiri tegak, sementara sebagian lainnya telah rebah dengan orientasi menghadap tenggara ke arah Gunung Sago.
Selain itu, di kawasan tersebut juga ditemukan lima menhir berhias dengan motif tumpal, pucuk rebung, kaluak paku, geometris, hingga siriah gadang yang memperlihatkan kekayaan simbol budaya masyarakat masa lampau. Mahyeldi menyebut Nagari Maek sebagai “negeri seribu menhir” karena memiliki kelompok menhir terbanyak di Sumatera Barat.
“Kita hadir langsung di Nagari Maek karena ini adalah negeri seribu menhir. Menhir yang berkelompok seperti ini hanya ada di Nagari Maek, Kabupaten Limapuluh Kota,” ujar Mahyeldi.
Menurutnya, keberadaan menhir tersebut menunjukkan bahwa masyarakat Maek pada masa lampau telah memiliki sistem kehidupan sosial dan budaya yang maju. “Ini membuktikan bahwa masyarakat di Maek sejak ribuan tahun sebelum masehi sudah memiliki budaya. Mereka hidup berkelompok, memiliki pandam pekuburan, serta ukiran-ukiran pada menhir yang menunjukkan adanya peradaban,” katanya.
Mahyeldi menegaskan, situs menhir Maek merupakan warisan sejarah penting yang perlu terus diteliti secara ilmiah agar nilai sejarah dan kebudayaannya semakin terungkap.
Ia mengatakan, perhatian terhadap situs tersebut juga datang dari berbagai kalangan internasional. Salah satunya dari tokoh Malaysia, Rais Yatim, yang sebelumnya sempat berdiskusi dengannya mengenai keberadaan situs menhir Maek.
“Saya datang ke sini karena sebelumnya sudah bertemu dengan Rais Yatim dari Malaysia. Beliau sangat tertarik karena tulisan-tulisan dan ukiran pada menhir ini merupakan sesuatu yang harus dibaca dan diteliti lebih dalam,” ungkapnya.
Menurut Mahyeldi, pada Oktober mendatang direncanakan akan hadir peneliti dari Australia untuk melakukan kajian lebih lanjut terhadap situs tersebut. Karena itu, Pemerintah Provinsi Sumbar mendorong kolaborasi para ahli dari berbagai negara guna mengungkap lebih jauh nilai sejarah dan kebudayaan yang terkandung di kawasan menhir Maek. (wni)
Editor : Adriyanto Syafril