Indonesia Sumbar Bisnis Olahraga Gaya Hidup Harian Magazine Otomotif Pariwisata Features Internasional Opini Advertorial Pendidikan Buku & Film Hiburan Kesehatan

Belajar Jurnalistik, 62 Santri Kunjungi Padang Ekspres

Novitri Selvia • Jumat, 12 Juni 2026 | 08:15 WIB
Sebanyak 62 santri dan santriwati Pondok Pesantren Sumatra Thawalib Parabek foto bersama usai mengikuti kunjungan edukatif ke kantor Padang Ekspres, Kamis (11/6). Dalam kegiatan tersebut, para santri belajar mengenai proses kerja media, prinsip jurnalistik, serta tantangan industri pers di era digital. (DOK PADEK)
Sebanyak 62 santri dan santriwati Pondok Pesantren Sumatra Thawalib Parabek foto bersama usai mengikuti kunjungan edukatif ke kantor Padang Ekspres, Kamis (11/6). Dalam kegiatan tersebut, para santri belajar mengenai proses kerja media, prinsip jurnalistik, serta tantangan industri pers di era digital. (DOK PADEK)

PADEK.JAWAPOS.COM -- Sebanyak 62 santri dan santriwati Pondok Pesantren Sumatra Thawalib Parabek melakukan kunjungan edukatif ke kantor Padang Ekspres, Kamis (11/6). Kegiatan tersebut menjadi kesempatan bagi para pelajar untuk mengenal lebih dekat proses kerja media, mulai dari peliputan hingga penerbitan berita, sekaligus memahami tantangan industri pers di era digital.

Rombongan yang di­dampi­ngi guru Bahasa Indonesia, Ustazah Deswati, disambut langsung oleh Redaktur Laman Guru Padang Ekspres, Jufri. Dalam kesempatan itu, Jufri mengapresiasi antusiasme para santri yang ingin mempelajari profesi wartawan dan seluk-beluk kerja redaksi.

Menurut Jufri, dunia jurnalistik merupakan profesi yang menuntut proses belajar tanpa henti. Seorang penulis maupun wartawan harus memiliki semangat belajar yang kuat agar mampu menghasilkan karya yang berkualitas dan bermanfaat bagi masyarakat.

“Seorang penulis harus me­megang teguh prinsip belajar dengan sungguh-sungguh. Saat ini masyarakat membutuhkan informasi yang belum mereka ketahui. Namun yang paling penting, informasi tersebut harus memberikan manfaat bagi orang banyak,” ujarnya.

Ia menjelaskan, proses pe­nyusunan berita di ruang redaksi melibatkan kerja sama berbagai unsur. Setiap malam, redaksi melakukan diskusi intensif untuk menentukan sudut pandang pemberitaan serta langkah-langkah dalam me­ngeksekusi sebuah berita.

“Ruang redaksi sangat dinamis. Ada diskusi, evaluasi, hingga pengambilan keputusan. Di sinilah peran pemimpin redaksi sangat dibutuhkan untuk mengarahkan kebijakan editorial,” katanya.

Jufri juga memaparkan bah­wa setiap posisi di redaksi memiliki fungsi dan tanggung jawab masing-masing. Mulai dari wartawan yang bertugas mencari dan mengumpulkan fakta di lapangan, editor yang melakukan penyuntingan, hingga pim­pinan redaksi yang menentukan kelayakan sebuah berita untuk diterbitkan.

Menurutnya, berita yang baik harus memenuhi prinsip-prinsip jurnalistik, seperti berimbang, aktual, akurat, dan memberikan manfaat kepada pembaca. Karena itu, setiap informasi yang diperoleh wartawan wajib melalui proses verifikasi sebelum dipublikasikan.

“Sebelum berita dinaikkan, akan dilakukan pengecekan ulang atau cross check terhadap informasi yang diperoleh. Narasumber harus dapat dihubungi untuk memastikan kebenaran informasi tersebut,” jelasnya.

Ia menambahkan, profesi wartawan juga memiliki perlindungan hukum melalui Undang-Undang Nomor 40 Tahun 1999 tentang Pers. Regulasi tersebut memberikan jaminan kemerdekaan pers dalam menjalankan fungsi kontrol sosial, penyampaian informasi, pendidikan, hiburan, dan perekat sosial.

Selain memahami proses jurnalistik, para santri juga diperkenalkan pada aspek perwajahan media cetak. Jufri menjelaskan bahwa tampilan atau desain koran menjadi salah satu unsur penting untuk menarik minat pembaca.

“Perwajahan merupakan salah satu item penting dalam sebuah media. Tampilan yang baik dapat membuat pembaca tertarik untuk membaca sebuah berita. Karena itu, ada tim desain yang bertugas mengatur tata letak dan visual agar informasi tersaji dengan menarik,” ujarnya.

Dalam sesi berikutnya, Wa­kil Pemimpin Redaksi Padang Ekspres, Suryani, memaparkan tantangan yang dihadapi industri pers, khususnya media cetak, di tengah pesatnya perkemba­ngan teknologi informasi. Perubahan pola konsumsi ma­syarakat yang beralih ke pera­ng­kat digital berdampak pada menurunnya jumlah pembaca koran cetak.

“Tantangan terberat saat ini adalah kemajuan teknologi. Banyak orang lebih memilih membaca melalui telepon ge­ng­gam dibandingkan koran. Kondisi ini tentu mengurangi interaksi sosial yang sebelum­nya banyak terjadi melalui media cetak,” katanya.

Menurutnya, tekanan terhadap industri pers cetak mulai terasa sejak sekitar 2010. Namun, media harus mampu beradaptasi agar tetap bertahan di tengah perubahan zaman.

“Bagaimana cara bertahan? Kita harus menyesuaikan diri dengan kondisi saat ini. Tidak hanya terpaku pada media cetak, tetapi juga mengembangkan platform digital seperti media online dan media sosial. Hal itu dilakukan untuk mengikuti kebutuhan dan selera pembaca,” jelasnya.

Para santri tampak antusias me­­ngikuti sesi diskusi. Mereka me­­ngajukan berbagai pertanyaan terkait proses peliputan, etika jurnalistik, hingga peluang ber­­­karier di bidang media massa.(sel)

Editor : Adriyanto Syafril
#padang ekspres #jurnalistik