PADEK.JAWAPOS.COM -- Pemerintah Kabupaten Agam mempercepat pemulihan sektor pertanian pascabencana hidrometeorologi yang melanda daerah itu pada November 2025. Berbagai program rehabilitasi lahan, perbaikan irigasi, hingga peremajaan perkebunan dengan total dukungan mencapai puluhan miliar rupiah kini tengah digencarkan untuk mengembalikan produktivitas pertanian sekaligus mendukung target swasembada pangan nasional.
Hal itu disampaikan Bupati Agam Benni Warlis Dt Tan Batuah saat membuka Rapat Koordinasi Lingkup Pertanian Kabupaten Agam di Lubukbasung, Rabu (17/6). Menurut Benni, bencana yang melanda Agam tahun lalu tidak hanya merusak lahan pertanian dan usaha peternakan, tetapi juga menghantam infrastruktur pertanian serta alat dan mesin pertanian yang menjadi penopang produksi masyarakat.
“Kerusakan ini berdampak langsung terhadap produksi pertanian dan kondisi ekonomi petani. Namun ini harus menjadi momentum untuk memperkuat sinergi dalam membangkitkan kembali sektor pertanian Agam,” ujarnya.
Benni menjelaskan, upaya pemulihan mendapat dukungan besar dari pemerintah pusat melalui Kementerian Pertanian. Kabupaten Agam memperoleh bantuan sekitar Rp 29 miliar melalui Direktorat Jenderal Lahan dan Irigasi untuk berbagai program rehabilitasi dan optimasi lahan.
Dana tersebut digunakan untuk rehabilitasi lahan sawah seluas 311 hektare, optimasi lahan 387 hektare, pembangunan 35 dam parit, 53 unit irigasi perpompaan, 27 unit irigasi perpipaan, rehabilitasi dua jalan usaha tani, serta pemeliharaan 21 jaringan irigasi tersier.
Tak hanya itu, pemerintah pusat juga melanjutkan program optimasi lahan nonrawa seluas 1.000 hektare dan menyetujui tambahan rehabilitasi sawah 250 hektare serta pemeliharaan 60 jaringan irigasi tersier.
Di sektor perkebunan, Agam juga menerima dukungan besar berupa bantuan bibit kayu manis, kopi, tebu, dan kelapa. Bahkan, Badan Pengelola Dana Perkebunan (BPDP) Kelapa Sawit mengalokasikan dana Rp 43 miliar untuk program peremajaan sawit rakyat seluas 250 hektare.
Sementara pada sektor tanaman pangan dan hortikultura, bantuan yang diterima meliputi benih padi, jagung, cabai merah, kentang, bawang, durian, hingga berbagai sarana dan prasarana pascapanen.
Benni menegaskan keberhasilan program pemulihan tersebut sangat bergantung pada kolaborasi seluruh pihak, mulai dari pemerintah pusat, provinsi, kabupaten hingga penyuluh pertanian dan petani.
Ia juga mengingatkan pentingnya peran penyuluh pertanian sebagai ujung tombak pembangunan sektor pertanian, meski kini secara administrasi berada di bawah pemerintah pusat.
“Status kepegawaian boleh berubah, tetapi pengabdian kepada petani Agam harus tetap menjadi prioritas bersama,” tegasnya.
Melalui rakor tersebut, Pemkab Agam berharap percepatan pemulihan pascabencana dapat berjalan optimal sehingga target swasembada pangan sekaligus peningkatan kesejahteraan petani dapat segera terwujud. (ptr)
Editor : Adriyanto Syafril