Indonesia Sumbar Bisnis Olahraga Gaya Hidup Harian Magazine Otomotif Pariwisata Features Internasional Opini Advertorial Pendidikan Buku & Film Hiburan Kesehatan

Dua Tahun WTP, Kini Ujian Berikutnya

Rommy Delfiano • Sabtu, 27 Juni 2026 | 08:10 WIB
Auditor Akuntan Publik Syahrial Ali menyerahkan hasil audit atas laporan  keuangan PNP kepada Direktur PNP Revalin Herdianto PhD di Padang, baru-baru ini. (DOK PNP)
Auditor Akuntan Publik Syahrial Ali menyerahkan hasil audit atas laporan keuangan PNP kepada Direktur PNP Revalin Herdianto PhD di Padang, baru-baru ini. (DOK PNP)

PADEK.JAWAPOS.COM -- Di tengah tuntutan tran­sparansi dan kemandirian pergu­ruan tinggi, Politeknik Negeri Padang (PNP) kembali mempertahankan opini Wajar Tanpa Pengecualian (WTP) atas laporan keuangannya. Raihan dua ta­hun berturut-turut itu menegaskan bahwa yang dinilai auditor bukan se­kada­r angka, melainkan kualitas tata kelola dan pengendalian keuangan institusi.

Auditor Akuntan Publik Drs. Syahril Ali mengatakan WTP merupakan opini tertinggi dalam audit laporan keuangan. Predikat tersebut hanya diberikan apabila laporan keuangan disusun sesuai standar akuntansi, didukung bukti audit yang memadai, serta tidak ditemukan kesalahan material.

“Ini merupakan opini terbaik da­lam audit laporan keuangan. Artinya laporan keuangan telah disusun sesuai standar yang berlaku, didukung bukti yang memadai, serta tidak terdapat hal material yang perlu dikecualikan oleh auditor,” ujarnya.

Menurut Syahril, keberhasilan PNP mempertahankan WTP ditopang oleh tiga faktor utama, yakni kepatuhan terhadap regulasi, pengendalian internal yang berjalan efektif, dan tata kelola keuangan yang konsisten. Audit terhadap perguruan tinggi berstatus Badan Layanan Umum (BLU) memang dilakukan Kantor Akuntan Publik independen, namun seluruh proses tetap berada di bawah pengawasan Badan Pemeriksa Keuangan (BPK).

Direktur PNP Revalin Herdianto justru mengingatkan bahwa WTP bukan prestasi yang layak dikejar sebagai tujuan akhir. Menurutnya, menjadikan opini audit sebagai target berisiko membuat institusi hanya mengejar hasil tanpa membangun sistem yang sehat.

“Bagi kami, WTP bukan tujuan. Itu adalah rekognisi bahwa proses tata kelola berjalan dengan benar. Yang lebih penting adalah membangun sistem yang mampu memitigasi risiko, men­cegah fraud, dan menghindari potensi kerugian sejak awal,” katanya.

Karena itu, PNP memilih memperkuat tata kelola berbasis sistem, bukan bergantung pada figur pimpinan. Seluruh kebijakan, prosedur, dan mekanisme kerja didokumentasikan agar tetap berjalan konsisten meski terjadi pergantian kepemimpinan.

Pendekatan itu juga menjadi mo­dal PNP menghadapi tantangan sebagai perguruan tinggi berstatus BLU yang dituntut semakin mandiri. Kampus ini terus membuka sumber pendapatan baru melalui pengembangan jurnal ilmiah bereputasi dan perluasan kerja sama tanpa mengabaikan prinsip akuntabilitas.

Bagi PNP, mempertahankan WTP bukan sekadar lolos audit tahunan. Yang lebih penting adalah memastikan setiap rupiah dikelola dengan sistem yang transparan, dapat dipertanggungjawabkan, dan berkelanjutan—karena kepercayaan publik dibangun dari proses, bukan dari selembar opini audit. (rdo)

 

Editor : Adriyanto Syafril
#Politeknik Negeri Padang (PNP)