Indonesia Sumbar Bisnis Olahraga Gaya Hidup Harian Magazine Otomotif Pariwisata Features Internasional Opini Advertorial Pendidikan Buku & Film Hiburan Kesehatan

Lulusan Unand Ditantang Taklukkan Era AI

Rommy Delfiano • Senin, 13 Juli 2026 | 08:20 WIB
Rektor Unand, Efa Yonnedi PhD.
Rektor Unand, Efa Yonnedi PhD.

PADEK.JAWAPOS.COM -- Perkembangan kecerdasan buatan ( artificial intelligence /AI) mengu­bah wa­jah dunia kerja dengan sa­ngat cepat. Di tengah gelombang perubahan itu, Universitas Andalas (Unand) mengingatkan para lulusannya bahwa ija­zah bukan lagi jaminan utama untuk bertahan, melainkan kemampuan berpikir kritis, bera­daptasi, dan menjaga integritas.

Pesan tersebut mengemuka dalam Wisuda Periode III Tahun 2026 yang digelar selama dua hari, 11–12 Juli, di Auditorium Kampus Limauma­nih. Sebanyak 1.389 lulusan di­ku­kuh­kan, terdiri atas 677 wi­su­dawan pada hari pertama dan 712 lulusan pada hari kedua.

Rektor Unand Efa Yonnedi PhD menegaskan, wisuda bukanlah garis akhir pendidikan, tetapi awal memasuki dunia yang berubah dalam hitungan bulan akibat perkembangan AI, digitalisasi, otomatisasi, dan dinamika ekonomi global.

“Dunia di luar kampus bergerak sangat cepat. Ijazah hanya menjadi pintu masuk. Yang menentukan adalah kemampuan untuk terus belajar, meningkatkan keterampilan, memperluas jejaring, dan be­ra­daptasi,” ujarnya.

Pada hari pertama, lulusan berasal dari Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam, Fakultas Keperawatan, Fakultas Teknologi Pertanian, Fakultas Peternakan, Fakultas Pertanian, Fakultas Kesehatan Masyarakat, Fakultas Hukum, dan Fakultas Kedokteran.

Sedangkan hari kedua, wi­sudawan berasal dari Sekolah Pascasarjana, Fakultas Tek­nologi Informasi, Fakultas Kedokteran Gigi, Fakultas Farmasi, Fakultas Ilmu Budaya, Fakultas Teknik, Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISIP), serta Fakultas Ekonomi dan Bisnis.

Momentum tersebut juga menjadi catatan penting bagi FISIP Unand yang untuk pertama kalinya meluluskan doktor dari Program Studi Kebijakan Publik dan Program Studi So­siologi.

Dalam sambutannya, Efa membagikan pengalaman me­ngikuti Google Leaders Series di Singapura bersama pimpinan perguruan tinggi Asia Pasi­fik. Dari forum itu, ia menyoroti konsep human in the loop, yakni manusia tetap menjadi pe­ngambil keputusan utama mes­ki AI semakin canggih.

“AI boleh membantu. AI boleh menjadi co-pilot. Tapi pilotnya adalah saudara-saudara sendiri,” katanya.

Menurutnya, lulusan perguruan tinggi tidak dinilai dari seberapa cepat memperoleh jawaban, melainkan dari kemampuan memahami persoalan, berpikir kritis dan krea­tif, berkomunikasi, serta ber­kolaborasi.

Mengacu pada Global Risks Report 2026 yang diterbitkan World Economic Forum, Efa mengatakan tantangan global kini bergeser pada konfrontasi geoekonomi, disinformasi, polarisasi sosial, hingga dampak perkembangan AI. Karena itu, dunia kerja membutuhkan lulusan yang mampu membedakan informasi benar dan salah, serta tetap tangguh menghadapi ketidakpastian.

“Dunia kerja tidak lagi mencari lulusan yang sekadar pintar. Dunia mencari lulusan yang tangguh dan mampu beradap­tasi,” tegasnya.

Selain kompetensi, Rektor juga menekankan pentingnya karakter. Menurutnya, keahlian memang membuka peluang kerja, tetapi integritas yang membuat seseorang dipercaya.

“Keahlian membuat seseorang diterima bekerja, tetapi integritas membuat seseorang dipercaya. Dan kepercayaan adalah modal yang tidak ternilai harganya,” ujarnya.

Ia juga mengingatkan para lulusan agar tidak takut menghadapi kegagalan karena menjadi bagian dari proses pembelajaran dan pembentukan karakter.

Wisuda kali ini memiliki makna tersendiri karena berlangsung bertepatan dengan Dies Natalis ke-70 UNAND. Rektor mengajak para alumni menjadi representasi sema­ngat “Tumbuh Berakar, Menjulang Berdampak” dengan te­rus mengembangkan kapasitas diri, memegang teguh etika, serta menghadirkan manfaat nyata bagi masyarakat.

Secara khusus, Efa memberikan apresiasi kepada wi­sudawan yang menjadi sarjana pertama di keluarganya. Me­nurutnya, keberhasilan ter­sebut bukan hanya pencapaian pribadi, tetapi juga membuka jalan bagi generasi berikutnya untuk mengakses pendidikan tinggi.

Menutup rangkaian wisuda, ia berpesan agar para alumni te­rus menjadi pembelajar sepanjang hayat, menjaga na­ma baik almamater, dan menjadikan ilmu sebagai sarana memberi solusi bagi ma­sya­rakat.

“Di zaman AI sekalipun, manusia tetap membutuhkan nilai-nilai kemanusiaan, kejujuran, dan kebijaksanaan. Jadilah lulusan yang berilmu, beradab, tangguh menghadapi ketidakpastian, dan mampu memberi kontribusi nyata bagi bangsa,” pungkasnya. (r)

Editor : Adriyanto Syafril
#Universitas Andalas (Unand) #Artificial Intelligence (AI)