PADEK.JAWAPOS.COM -- Upaya menekan angka stunting di Indonesia memasuki babak baru. Guru Besar Fakultas Kesehatan Masyarakat (FKM) Universitas Andalas, Prof Dr Helmizar SKM MBiomed, menggandeng University of Diliman, Filipina, mengembangkan inovasi tepung dadih sebagai pangan fungsional probiotik yang berpotensi menjadi suplemen bagi ibu hamil dan ibu menyusui.
Kolaborasi riset ini berfokus pada evaluasi mikrobiologi tepung dadih dan potensinya sebagai intervensi gizi berbasis pangan lokal untuk mendukung percepatan penurunan stunting sekaligus meningkatkan kualitas sumber daya manusia Indonesia.
Menurut Prof Helmizar, stunting masih menjadi tantangan serius pembangunan kesehatan nasional. Dampaknya tidak hanya terlihat pada pertumbuhan fisik anak, tetapi juga memengaruhi perkembangan kognitif, produktivitas, hingga kualitas generasi mendatang. Karena itu, dibutuhkan solusi yang efektif, terjangkau, dan memanfaatkan kekayaan pangan lokal Indonesia.
“Indonesia memiliki potensi pangan lokal yang sangat besar. Jika dikembangkan melalui riset ilmiah, pangan lokal dapat menjadi solusi berkelanjutan untuk mengatasi berbagai persoalan gizi,” ujarnya.
Riset yang dilakukan timnya sejak 2015 menjadikan dadih, pangan fermentasi khas Sumatera Barat, sebagai dasar pengembangan inovasi gizi. Tidak berhenti pada produk tradisional, penelitian kemudian diarahkan pada teknologi pengolahan dadih menjadi tepung agar lebih praktis, memiliki masa simpan lebih lama, serta tetap mempertahankan kandungan bakteri asam laktat yang berperan sebagai probiotik.
Selain tepung dadih, tim peneliti juga mengembangkan berbagai produk pangan berbasis bahan lokal, termasuk formula makanan pendamping ASI (MP-ASI) yang memanfaatkan ubi jalar merah, jagung, kacang merah, kacang kedelai, dan ikan mujair. Pendekatan ini dinilai mampu menghadirkan pangan bergizi sekaligus meningkatkan nilai tambah komoditas lokal.
Prof. Helmizar menegaskan bahwa inovasi pangan tidak akan berdampak luas tanpa dukungan ekosistem yang kuat. Karena itu, hasil penelitian diarahkan menuju hilirisasi melalui pengembangan teaching factory dan produk pangan fungsional yang dapat diproduksi serta dimanfaatkan masyarakat secara lebih luas.
Ia menilai keberhasilan percepatan penurunan stunting memerlukan kolaborasi berbagai pihak, mulai dari perguruan tinggi, tenaga kesehatan, pemerintah, industri hingga masyarakat. Sinergi tersebut menjadi kunci agar hasil riset tidak berhenti di laboratorium, tetapi benar-benar menjadi solusi nyata bagi masyarakat.
Kolaborasi internasional dengan University of Diliman juga menjadi langkah strategis untuk memperkuat kualitas penelitian sekaligus memperluas jejaring pengembangan inovasi pangan berbasis sumber daya lokal Indonesia.
Pengembangan tepung dadih dinilai memiliki prospek besar sebagai pangan fungsional probiotik yang aman, stabil, dan mudah didistribusikan. Inovasi ini diharapkan mampu memperkuat strategi intervensi gizi nasional, khususnya bagi kelompok rentan seperti ibu hamil, ibu menyusui, dan anak pada 1.000 hari pertama kehidupan.
Riset ini juga berkontribusi terhadap pencapaian Sustainable Development Goals (SDGs), terutama SDG 2 ( Zero Hunger /Tanpa Kelaparan), SDG 3 ( Good Health and Well-being /Kehidupan Sehat dan Sejahtera), serta SDG 12 ( Responsible Consumption and Production /Konsumsi dan Produksi yang Bertanggung Jawab) melalui pemanfaatan pangan fermentasi lokal sebagai intervensi gizi berbasis bukti.
Prof. Helmizar berharap inovasi berbasis dadih dapat menjadi model pengembangan pangan lokal yang tidak hanya mempercepat penurunan stunting, tetapi juga memperkuat ketahanan pangan nasional dan mendorong pertumbuhan ekonomi daerah melalui peningkatan nilai tambah produk lokal.
Penelitian ini didanai oleh Lembaga Pengelola Dana Pendidikan (LPDP) atas nama Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi Republik Indonesia serta dikelola di bawah Program EQUITY (Kontrak No. 4304/B3/DT.03.08/2025). (r)
Editor : Adriyanto Syafril