Indonesia Sumbar Bisnis Olahraga Gaya Hidup Harian Magazine Otomotif Pariwisata Features Internasional Opini Advertorial Pendidikan Buku & Film Hiburan Kesehatan

Tepung Dadih jadi Senjata Baru Stunting

Rommy Delfiano • Kamis, 16 Juli 2026 | 07:40 WIB
Tim Unand rapat bersama mitra luar negeri (LN) Dr Pierangeli, G. Vital dari Universitas Philipines Dilimiman secara virtual. (DOK UNAND)
Tim Unand rapat bersama mitra luar negeri (LN) Dr Pierangeli, G. Vital dari Universitas Philipines Dilimiman secara virtual. (DOK UNAND)

PADEK.JAWAPOS.COM -- Upaya menekan angka stunting di Indonesia memasuki babak baru. Guru Besar Fakultas Kesehatan Ma­syarakat (FKM) Universitas Andalas, Prof Dr Helmizar SKM MBiomed, menggandeng University of Diliman, Filipina, mengembangkan inovasi te­pung dadih sebagai pangan fungsional probiotik yang berpotensi menjadi suplemen bagi ibu hamil dan ibu menyusui.

Kolaborasi riset ini berfokus pada evaluasi mikrobiologi tepung dadih dan potensinya sebagai intervensi gizi berbasis pangan lokal untuk mendukung percepatan penurunan stun­ting sekaligus meningkatkan kualitas sumber daya manusia Indonesia.

Menurut Prof Helmizar, stun­ting masih menjadi tantangan serius pembangunan kesehatan nasional. Dampaknya tidak hanya terlihat pada pertumbuhan fisik anak, tetapi juga meme­ngaruhi perkembangan kognitif, produktivitas, hingga kualitas generasi mendatang. Karena itu, dibutuhkan solusi yang efektif, terjangkau, dan memanfaatkan kekayaan pangan lokal Indonesia.

“Indonesia memiliki potensi pangan lokal yang sangat besar. Jika dikembangkan melalui riset ilmiah, pangan lokal dapat menjadi solusi berkelanjutan untuk mengatasi berbagai persoalan gizi,” ujarnya.

Riset yang dilakukan timnya sejak 2015 menjadikan dadih, pangan fermentasi khas Suma­tera Barat, sebagai dasar pe­ngembangan inovasi gizi. Tidak berhenti pada produk tradisional, penelitian kemudian diarahkan pada teknologi pengolahan dadih menjadi tepung agar lebih praktis, memiliki masa simpan lebih lama, serta tetap mempertahankan kandungan bakteri asam laktat yang berperan sebagai probiotik.

Selain tepung dadih, tim peneliti juga mengembangkan berbagai produk pangan berbasis bahan lokal, termasuk formula makanan pendamping ASI (MP-ASI) yang memanfaatkan ubi jalar merah, jagung, kacang merah, kacang kedelai, dan ikan mujair. Pendekatan ini dinilai mampu menghadirkan pangan bergizi sekaligus me­ningkatkan nilai tambah komoditas lokal.

Prof. Helmizar menegaskan bahwa inovasi pangan tidak akan berdampak luas tanpa dukungan ekosistem yang kuat. Karena itu, hasil penelitian diarahkan menuju hilirisasi melalui pengembangan teaching factory dan produk pangan fungsional yang dapat diproduksi serta dimanfaatkan masyarakat secara lebih luas.

Ia menilai keberhasilan percepatan penurunan stunting memerlukan kolaborasi berbagai pihak, mulai dari perguruan tinggi, tenaga kesehatan, pemerintah, industri hingga ma­sya­rakat. Sinergi tersebut menjadi kunci agar hasil riset tidak berhenti di laboratorium, tetapi benar-benar menjadi solusi nyata bagi masyarakat.

Kolaborasi internasional dengan University of Diliman juga menjadi langkah strategis untuk memperkuat kualitas penelitian sekaligus memperluas jejaring pengembangan inovasi pangan berbasis sumber daya lokal Indonesia.

Pengembangan tepung da­dih dinilai memiliki prospek besar sebagai pangan fungsio­nal probiotik yang aman, stabil, dan mudah didistribusikan. Ino­vasi ini diharapkan mampu memperkuat strategi intervensi gizi nasional, khususnya bagi kelompok rentan seperti ibu hamil, ibu menyusui, dan anak pada 1.000 hari pertama kehidupan.

Riset ini juga berkontribusi terhadap pencapaian Sustai­nable Development Goals (SD­Gs), terutama SDG 2 ( Zero Hunger /Tanpa Kelaparan), SDG 3 ( Good Health and Well-being /Kehidupan Sehat dan Sejahtera), serta SDG 12 ( Responsible Consumption and Production /Konsumsi dan Produksi yang Bertanggung Jawab) melalui pemanfaatan pangan fermentasi lokal sebagai intervensi gizi berbasis bukti.

Prof. Helmizar berharap ino­­va­si berbasis dadih dapat men­ja­di model pengembangan pa­ngan lokal yang tidak hanya mempercepat penurunan stun­­ti­ng, tetapi juga memperkuat ke­ta­hanan pangan nasional dan men­dorong pertumbuhan eko­nomi daerah melalui peningkatan nilai tambah produk lokal.

Penelitian ini didanai oleh Lembaga Pengelola Dana Pendidikan (LPDP) atas nama Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi Republik Indonesia serta dikelola di ba­wah Program EQUITY (Kontrak No. 4304/B3/DT.03.08/2025). (r)

 

Editor : Adriyanto Syafril
FKM Unand