PADEK.JAWAPOS.COM -- Pemerintah Kota Payakumbuh memperkuat implementasi program Sekolah Ramah Anak dengan membangun budaya digital yang sehat, aman, dan bertanggung jawab di kalangan pelajar. Langkah ini menjadi upaya membentengi generasi muda dari berbagai ancaman di ruang siber yang kian kompleks, mulai dari hoaks, perundungan siber ( cyberbullying ), penipuan daring, pencurian data pribadi, judi online, hingga manipulasi deepfake dan sextortion.
Komitmen tersebut diwujudkan melalui Dinas Komunikasi dan Informatika (Diskominfo) Kota Payakumbuh dengan menggelar sosialisasi literasi digital kepada ratusan peserta didik baru di SMA Negeri 1 dan SMA Negeri 5 Payakumbuh. Kegiatan edukasi itu menjadi bagian dari rangkaian Masa Pengenalan Lingkungan Sekolah (MPLS).
Kepala Diskominfo Kota Payakumbuh, Kurniawan Syah Putra, mengatakan penguatan literasi digital merupakan bagian penting dalam membentuk generasi muda yang cerdas, berkarakter, dan beretika. Menurutnya, pelajar harus memiliki kemampuan memanfaatkan teknologi secara aman sekaligus bertanggung jawab.
Pembekalan tersebut, kata Kurniawan, bertujuan meningkatkan pemahaman siswa terhadap peluang sekaligus risiko di ruang digital. Teknologi diharapkan mampu dimanfaatkan sebagai sarana belajar, berkarya, berkolaborasi, dan mengembangkan potensi diri, bukan justru menjadi pintu masuk berbagai persoalan yang dapat merugikan masa depan. “Media sosial harus menjadi ruang untuk belajar, berkarya, dan berprestasi, bukan tempat melakukan perundungan. Saring sebelum sharing,” ujar Kurniawan di hadapan para siswa.
Ia menjelaskan, perkembangan teknologi digital telah membuka akses yang sangat luas terhadap ilmu pengetahuan, informasi beasiswa, peluang usaha, pengembangan kreativitas, hingga pemanfaatan kecerdasan buatan ( artificial intelligence ) dalam proses pembelajaran.
Namun, kemudahan tersebut juga diiringi meningkatnya berbagai ancaman di ruang siber. Karena itu, pelajar diharapkan menjadi pengguna internet yang cerdas dengan mengoptimalkan teknologi untuk kegiatan yang bernilai positif sekaligus menghindari aktivitas digital yang berpotensi merugikan diri sendiri.
Selain memahami risiko di internet, siswa juga diingatkan pentingnya menjaga jejak digital. Menurut Kurniawan, setiap unggahan, komentar, maupun foto yang dibagikan di internet akan meninggalkan rekam jejak yang dapat memengaruhi reputasi, tingkat kepercayaan, bahkan peluang karier pada masa mendatang.
Ia juga mengajak pelajar menerapkan pola hidup digital yang sehat (digital well-being ). Caranya antara lain membatasi waktu penggunaan gawai ( screen time ), mematikan notifikasi saat belajar, tidak menggunakan telepon seluler selama jam pelajaran, serta menjaga keseimbangan dengan berolahraga, beristirahat cukup, dan memperbanyak interaksi langsung bersama keluarga.
Kebiasaan tersebut dinilai penting untuk menjaga kesehatan fisik dan mental sekaligus meningkatkan konsentrasi belajar di tengah tingginya intensitas penggunaan perangkat digital oleh remaja.
“Kita boleh menggunakan teknologi, tetapi jangan sampai teknologi yang mengendalikan kita. Pola hidup digital yang sehat akan melahirkan pikiran yang cerdas, tubuh yang sehat, dan pribadi yang lebih produktif,” katanya.
Mengakhiri sosialisasi, Kurniawan mengingatkan siswa agar semakin waspada terhadap ancaman siber yang terus berkembang, seperti manipulasi deepfake maupun sextortion. Ia meminta siswa selalu memverifikasi setiap informasi yang diterima dan menjaga kerahasiaan data pribadi.
“Jempolmu adalah tanggung jawabmu. Gunakan media sosial untuk membangun prestasi, menyebarkan kebaikan, dan menjadi generasi digital yang cerdas dan beretika,” pungkasnya. (rid)
Editor : Adriyanto Syafril