PADEK.JAWAPOS.COM -- Ratusan pelajar SMP dari berbagai daerah di Sumatera Barat mengikuti Napak Tilas Buya Hamka yang digelar Pemerintah Kabupaten Agam, Senin (20/7). Kegiatan ini bukan sekadar perlombaan, tetapi menjadi media menanamkan nilai perjuangan, keteladanan dan semangat pantang menyerah kepada generasi muda melalui sosok ulama besar asal Agam tersebut.
Kegiatan yang dipusatkan di GOR Padang Baru, Lubukbasung, itu secara resmi dibuka Sekretaris Kabupaten (Sekkab) Agam, Mhd Lutfi. Sebanyak 21 tim mengikuti napak tilas, terdiri dari perwakilan SMP di Kabupaten Agam serta peserta dari Kota Padang Panjang dan Kota Payakumbuh.
Mhd Lutfi mengatakan, Buya Hamka merupakan tokoh yang layak dijadikan teladan karena tidak hanya dikenal sebagai ulama, tetapi juga sastrawan, pejuang dan negarawan yang karya serta pemikirannya tetap relevan hingga kini.
Menurutnya, semangat juang Buya Hamka harus diwariskan kepada generasi muda agar mampu menghadapi berbagai tantangan zaman dengan keteguhan iman, ilmu pengetahuan dan karakter yang kuat.
“Napak Tilas Buya Hamka menjadi media pembelajaran sejarah agar peserta tidak hanya mengenal sosok Buya Hamka, tetapi juga menyerap nilai perjuangan, keikhlasan dan kecintaan terhadap tanah air,” ujarnya.
Dalam sambutannya, Sekda juga mengutip pesan terkenal Buya Hamka, “Kalau perahunya telah dikayuh ke tengah, dia tak boleh surut pulang. Meskipun bagaimana besar gelombang, biarkan kemudi patah, biarpun layar robek, itu lebih mulia daripada membalik haluan pulang.” Menurutnya, pesan tersebut menjadi pengingat agar setiap perjuangan diselesaikan dengan penuh keteguhan dan pantang menyerah.
Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Agam, Andri, mengatakan setiap tim beranggotakan 10 pelajar yang didampingi guru pembina. Ia mengapresiasi seluruh peserta yang tetap hadir, termasuk rombongan SMPN 3 Ampeknagari yang datang meski daerah mereka sedang terdampak banjir. “Kehadiran mereka merupakan perjuangan tersendiri. Semoga semangat ini menjadi inspirasi bagi seluruh peserta,” katanya.
Andri menjelaskan, semula kegiatan direncanakan berlangsung di Museum Kelahiran Buya Hamka di Nagari Sungaibatang. Namun, karena mempertimbangkan kondisi cuaca dan faktor keselamatan, lokasi kegiatan dipindahkan ke Lubukbasung tanpa mengurangi makna napak tilas.
Selama dua hari, peserta akan mengikuti berbagai rangkaian kegiatan, mulai dari penelusuran sejarah perjuangan Buya Hamka, permainan anak nagari, lomba memasak makanan tradisional, hingga penilaian di lima pos yang menguji pengetahuan sejarah, kekompakan, etika dan kemampuan bekerja sama dalam tim. (ptr)
Editor : Adriyanto Syafril