Berbagai penelitian internasional menunjukkan bahwa mendengarkan musik dapat meningkatkan fokus, menurunkan stres, dan memperbaiki suasana hati.
Laporan Stanford University School of Medicine mengungkap bahwa musik dengan ritme tenang mampu meningkatkan aktivitas gelombang otak yang berkaitan dengan perhatian dan konsentrasi.
Musik klasik dengan tempo 60–70 beat per minute (BPM) disebut membantu otak mencapai kondisi fokus stabil yang menyerupai efek meditasi ringan.
“Gelombang otak cenderung menyinkronkan diri dengan ritme musik. Ini membantu seseorang fokus tanpa merasa tegang,” ujar Dr. Jonathan Berger, profesor musik dan neurosains di Stanford, dalam laporan riset tersebut.
Temuan serupa juga disampaikan oleh peneliti dari University of Helsinki dan Aalto University. Studi mereka menunjukkan bahwa mendengarkan musik favorit dapat memicu pelepasan dopamin — neurotransmiter yang berperan dalam rasa senang dan motivasi.
Laporan dari Frontiers in Psychology menambahkan, musik dengan harmoni lembut dan tempo lambat dapat menurunkan kadar kortisol, hormon penyebab stres. Efek relaksasi ini lebih kuat ketika seseorang mendengarkan musik yang disukai secara personal.
Dalam dunia kerja, riset University of Miami School of Medicine menemukan bahwa karyawan yang mendengarkan musik instrumental selama bekerja menunjukkan produktivitas lebih tinggi dibandingkan mereka yang bekerja tanpa musik.
“Musik dengan struktur harmonis namun tidak kompleks, seperti jazz ringan atau musik ambient, paling efektif mendukung performa kognitif,” jelas Dr. Teresa Lesiuk, peneliti utama studi tersebut.
Dari sisi kesehatan mental, American Psychological Association (APA) menyebutkan bahwa terapi musik kini digunakan untuk membantu pasien dengan gangguan kecemasan, depresi ringan, dan insomnia.
Hasil penelitian menunjukkan penurunan detak jantung dan tekanan darah setelah mendengarkan musik relaksasi selama 30 menit.
Penelitian lain dari McGill University, Kanada, menemukan bahwa musik dapat merangsang produksi endorfin alami tubuh — hormon yang membantu menurunkan rasa sakit dan memperbaiki suasana hati.
Meski demikian, para ahli mengingatkan agar jenis musik disesuaikan dengan aktivitas. Musik dengan lirik kuat atau perubahan tempo ekstrem dapat mengganggu konsentrasi.
“Tubuh manusia merespons pola suara secara alami. Musik yang terlalu cepat saat tubuh lelah justru menyebabkan overstimulation,” kata Dr. Daniel Levitin, ahli neurosains dari McGill University.
Kini, dengan berkembangnya teknologi digital, masyarakat semakin mudah menikmati musik melalui platform streaming.
Playlist seperti lo-fi beats dan focus playlists banyak digunakan untuk mendukung produktivitas dan menjaga ketenangan pikiran.
Dengan bukti ilmiah dari berbagai lembaga riset, musik terbukti bukan hanya hiburan, tetapi juga sarana neuropsikologis yang membantu menjaga keseimbangan antara fokus, relaksasi, dan kebahagiaan.(CC5)
Editor : Hendra Efison