Kegiatan ini menjadi wadah untuk menampilkan potret kehidupan ritual dan sosial masyarakat Minangkabau dalam bingkai hubungan antara adat dan Islam.
Pameran dibuka secara resmi oleh Gubernur Sumatera Barat, Mahyeldi, dan dihadiri oleh sejumlah tokoh seni, budaya, serta akademisi.
Edy Utama menjelaskan, pameran tersebut bertujuan memperlihatkan kehidupan ritual masyarakat Minangkabau yang mendapat dukungan kuat dari kaum adat.
“Saya ingin memperlihatkan kepada masyarakat, terutama perkotaan, kehidupan ritus dalam masyarakat Minangkabau dan menunjukkan bahwa kegiatan tersebut masih didukung oleh kaum adat,” ujarnya.
Ia menambahkan, pameran ini juga ingin menyoroti nilai sosial masyarakat pedesaan yang masih memegang kuat tradisi berbagi dan kebersamaan.
“Misalnya kegiatan sedekah padi ke surau untuk mendukung kegiatan sosial dan kebersamaan di nagari. Nilai-nilai seperti ini sering luput dari perhatian pengambil kebijakan,” katanya.
Pameran berlangsung pada 25–31 Oktober 2025, pukul 09.30–21.30 WIB, dan terbuka untuk umum tanpa biaya masuk.
Dalam pameran ini, Edy menampilkan sekitar 80 frame berisi sekitar 200 foto yang diambil sejak tahun 2005 hingga karya terbarunya.
“Beberapa potret memperlihatkan tradisi yang kini sulit ditemukan, seperti doa tolak bala di Solok, di mana masyarakat berdoa bersama di tengah sawah yang menguning sebagai bentuk pendekatan spiritual terhadap kebutuhan agraris,” jelas Edy.
Melalui pameran ini, Edy Utama menegaskan pentingnya menjaga sinergi antara adat Minangkabau dan nilai-nilai Islam yang telah menjadi fondasi kehidupan sosial masyarakat Sumatera Barat. (Riyadhatul Khalbi/Cr4)
Editor : Hendra Efison