Lapak sederhana itu milik Novri Jack (40), tukang duplikat kunci yang telah puluhan tahun menekuni profesinya.
“Awalnya saya belajar dari orang tua. Sejak SMP saya sudah membantu beliau, dan usaha ini terus saya lanjutkan sampai sekarang,” ujar Novri saat ditemui di lapaknya.
Novri memulai usaha duplikat kunci sejak 2008 di Pasar Raya Padang, sebelum pindah ke lokasi sekarang pada 2019.
Layanannya beragam, mulai dari duplikat kunci rumah, motor, mobil, alat berat, hingga servis kunci rusak dan pembuatan plat nomor kendaraan.
“Kalau kunci motornya hilang, cukup bawa motornya ke sini. Nanti saya ukur lubang kuncinya, lalu saya buat duplikatnya,” jelasnya.
Meski tampak sederhana, pekerjaan ini penuh tantangan. Kunci yang sudah aus atau patah sering membuat proses duplikasi gagal.
“Kadang kuncinya rusak, susah diduplikat. Pernah juga hasilnya nggak pas, jadi harus ulang dari awal,” kata Novri.
Namun, ia tak menyerah dan selalu memperbaiki hingga pelanggan puas. “Kalau gagal, saya buat ulang sampai cocok. Namanya kerja tangan, kadang meleset sedikit,” tambahnya.
Selain kesulitan teknis, perkembangan teknologi juga menjadi tantangan baru. Kunci modern seperti smart key kendaraan belum bisa ia tangani karena peralatannya berbeda. “Kalau kunci seperti itu saya belum punya alatnya,” ujarnya.
Dengan tarif jasa antara Rp20 ribu hingga Rp30 ribu, pendapatan Novri per hari berkisar Rp100 ribu, tergantung ramai tidaknya pelanggan. Stok kunci yang ia gunakan dibeli secara online dari toko peralatan teknik di Jakarta.
Meski harus berpanas di tepi jalan, Novri tetap bertahan dengan profesinya, menjadi bagian dari kehidupan kota yang tak tergantikan oleh teknologi—pengrajin kecil yang menjaga fungsi dan keamanan dari setiap anak kunci. (Fadli Zikri/CR6)
Editor : Hendra Efison