Di hadapannya tersusun rapi aneka batu akik yang berkilau diterpa sinar matahari. Dialah Efrizal (83), penjual batu akik yang telah setia menekuni profesi ini sejak tahun 1957.
Dengan tangan yang mulai berkeriput, ia memoles satu per satu batu, seolah sedang merawat kenangan masa lalu.
“Sudah dari tahun 1957 saya jualan batu akik. Dulu ramai sekali, banyak yang cari. Sekarang tinggal beberapa orang saja yang masih minat,” ujarnya sambil tersenyum tenang.
Batu-batu itu bukan sekadar dagangan baginya. Ada batu lumut, giok, bacan, hingga merah delima — masing-masing punya cerita dan daya tarik tersendiri.
Harga yang ditawarkan pun beragam, mulai Rp50 ribu hingga Rp500 ribu, tergantung jenis dan keindahan batu.
Setiap pagi hingga siang, Pak Efrizal setia datang ke Taplau membawa dagangannya. Meski penghasilan kini tak menentu, semangatnya tak pernah padam.
“Kalau duduk di rumah saja, badan malah sakit. Di sini bisa ketemu orang, bisa cerita,” katanya sambil menatap laut.
Dulu, ketika tren batu akik mencapai puncaknya, Taplau penuh dengan para penggosok batu. “Setiap simpang dulu ada yang gosok batu. Sekarang tinggal saya dan beberapa orang saja,” kenangnya. Banyak pelanggan yang kini datang hanya untuk melihat-lihat, bukan lagi membeli.
Namun, bagi Efrizal, itu bukan alasan untuk berhenti. “Saya tidak mau diam di rumah saja. Walaupun tidak seberapa hasilnya, yang penting saya masih bisa usaha,” tuturnya mantap.
Di usianya yang senja, ia tak berharap banyak. Yang ia inginkan hanya satu: tetap sehat agar bisa terus menjalani hari seperti biasa.
Batu b“Selama masih bisa, intinya kita sehat. Itu saja kuncinya,” ujarnya, sembari menatap batu akik yang berkilau lembut di telapak tangannya — simbol ketekunan, kesetiaan, dan cinta pada pekerjaan yang telah menemaninya seumur hidup.(cr6)
Editor : Hendra Efison