Indonesia Sumbar Bisnis Olahraga Gaya Hidup Harian Magazine Otomotif Pariwisata Features Internasional Opini Advertorial Pendidikan Buku & Film Hiburan Kesehatan

Pak Mon, Penjaga Terakhir Pasar Burung Legendaris Padang Teater yang Bertahan di Tengah Sepinya Pembeli

Mengki Kurniawan • Kamis, 13 November 2025 | 11:24 WIB

Pak Mon, penjual burung di Padang Teater, bertahan menjaga warisan pasar burung legendaris Padang di tengah sepinya pembeli. (Foto: Mengki Kurniawan/Padeks)
Pak Mon, penjual burung di Padang Teater, bertahan menjaga warisan pasar burung legendaris Padang di tengah sepinya pembeli. (Foto: Mengki Kurniawan/Padeks)
PADEK.JAWAPOS.COM—Di tengah hiruk-pikuk Pasar Raya Padang, tepatnya di kawasan Padang Teater, berdiri sebuah lapak sederhana milik Ali Harmon atau yang akrab disapa Pak Mon (50).

Ia kini menjadi satu-satunya penjual burung yang masih bertahan di lokasi yang dahulu dikenal sebagai sentra jual beli burung paling legendaris di Kota Padang.

Pak Mon mulai berdagang burung di Padang Teater sejak tahun 2020. Pria asal Nagari Pauh Kambar, Padang Pariaman itu sebelumnya merantau ke Jakarta dan bekerja sebagai pengrajin emas sejak 1988.

Namun, setelah usahanya tergeser oleh mesin, ia memilih pulang kampung dan memulai usaha baru sesuai hobinya—menjual burung.

“Padang Teater ini dari dulu sudah terkenal dengan pasar burungnya. Sekarang hanya saya yang masih bertahan,” ujar Pak Mon saat ditemui, Rabu (12/11/2025).

Menurutnya, banyak pedagang burung lain gulung tikar karena biaya perawatan tinggi, sepinya pembeli, serta risiko kematian burung. Ia sendiri mampu bertahan karena lapaknya tidak dikenakan biaya retribusi.

Omzetnya pun beragam, rata-rata Rp500 ribu per hari, dan bisa meningkat hingga Rp700 ribu saat akhir pekan.

Namun, tak jarang dalam sehari ia sama sekali tidak melakukan transaksi. Untuk menyiasatinya, Pak Mon menerapkan strategi dengan melayani pesanan khusus pelanggan untuk jenis burung, ayam, atau reptil tertentu yang tidak tersedia di lapaknya.

“Kalau ada yang pesan, saya bisa usahakan. Biasanya saya ambil dari Pasaman, Solok, atau Duri, Riau,” jelasnya.

Harga jual burung di lapaknya pun bervariasi. Burung perkutut dibeli Rp15 ribu dan dijual Rp25 ribu per ekor, ayam kate sepasang dijual Rp180 ribu–Rp200 ribu, sementara ayam Bangkok standar berumur 8–9 bulan dibanderol Rp250 ribu.

Untuk ayam yang sudah pernah dilombakan, harga bisa mencapai jutaan rupiah.

Selain pelanggan lokal, pesanan datang dari berbagai daerah di Sumatera Barat. Popularitasnya bahkan sempat viral setelah diliput seorang YouTuber.

Ia juga dikenal menjual Ayam Kokok Balenggek khas Solok dengan harga hanya Rp500 ribu, jauh di bawah harga pasaran.

Sebagai warga yang kini tinggal di Purus, Kecamatan Padang Barat, Pak Mon berharap pemerintah kota dapat memberikan tempat khusus bagi pedagang burung agar tradisi lama ini tetap hidup.

“Kalau bisa, satu lokasi dengan pedagang batu akik. Biasanya pembeli batu akik juga suka burung, bisa saling melengkapi,” ujarnya.

Ia juga menilai jarak terminal yang jauh dari kawasan Pasar Raya turut memengaruhi sepinya transaksi di lokasi tersebut.

Meski menghadapi banyak tantangan, semangat Pak Mon tak surut. Ia mengaku motivasinya bukan sekadar mencari nafkah bagi tujuh anaknya, melainkan juga menjaga warisan dan identitas Padang Teater yang dulu dikenal luas sebagai pasar burung legendaris di Sumatera Barat.

“Selain mencari uang, saya ingin mempertahankan nama Padang Teater agar tetap dikenal sebagai pasar burung,” tutupnya.(CR3)

Editor : Hendra Efison
#pasar raya padang #penjual burung #Padang Teater #Pak Mon