Usaha kue talam tapai ini merupakan warisan keluarga yang dirintis sejak 2001 oleh sang nenek. Kini, Vini meneruskan usaha tersebut dan mengelolanya secara mandiri.
Vini menjelaskan, produksi sejak fajar menjadi kunci kualitas produk. Kue yang dihasilkan tetap segar, beraroma, dan siap dikonsumsi pelanggan pada pagi hari.
Bahan utama yang digunakan adalah tepung beras bertekstur kasar. Pemilihan bahan ini dipertahankan untuk menjaga cita rasa dan tekstur tradisional.
Selain itu, tapai ubi pilihan dicampurkan langsung ke dalam adonan. Tapai memberikan perpaduan rasa manis dan asam serta tekstur kue yang lebih lembut.
Kelapa parut segar dan gula berkualitas turut digunakan dalam proses pembuatan. Kombinasi bahan tersebut menghasilkan rasa gurih dan manis yang seimbang.
“Membuat kue ini butuh kesabaran, terutama saat mengukus. Saya selalu mengikuti pesan nenek untuk tidak mengambil jalan pintas,” ujar Vini.
Proses pengukusan dilakukan dengan api stabil tanpa bahan pengawet. Cara ini menjaga kematangan merata dan daya tahan kue secara alami.
Setiap hari, Vini memproduksi sekitar 60 loyang kue talam tapai. Seluruh hasil produksi umumnya habis terjual pada hari yang sama.
Sejumlah pelanggan datang dan mengantre sejak pagi untuk mendapatkan kue tersebut. Mereka menilai rasa dan kualitas kue konsisten sejak pertama kali diperkenalkan.
Vini menyebut tantangan utamanya adalah menjaga standar produksi yang telah ditetapkan sejak awal usaha dirintis. Ia menekankan pentingnya penggunaan bahan segar untuk menjaga kepercayaan pelanggan.
Ke depan, Vini berharap usaha kue talam tapai ini dapat terus berkembang sekaligus mendorong generasi muda untuk melestarikan kuliner tradisional. (CR2)
Editor : Hendra Efison