Keberadaan meriam tersebut telah bertahan puluhan tahun tanpa pernah dipindahkan sejak pertama kali ditempatkan.
Meriam berada di area terbuka lapangan golf yang saat ini difungsikan sebagai kawasan olahraga dan rekreasi.
Lokasi tersebut dulunya merupakan area tambang tanah liat milik PT Semen Padang dengan luas sekitar 50 hektare.
Seiring berjalannya waktu, kawasan bekas tambang itu berubah menjadi ruang hijau. Pepohonan rindang tumbuh dan beragam satwa menjadikan kawasan tersebut sebagai habitat.
Kondisi Kawasan dan Daya Tarik Meriam Tua
Lapangan golf kini menjadi rumah bagi berbagai jenis burung seperti elang ular bido, cekakak sungai, cekakak belukar, dan burung madu sriganti.
Selain itu, rusa totol yang didatangkan dari Istana Bogor terlihat berkeliaran di sekitar lapangan.
Di aliran sungai kecil yang melintasi kawasan tersebut, ikan bilih, ikan endemik Danau Singkarak, masih bertahan dan berkembang biak.
Kondisi ini menjadikan kawasan Lapangan Golf PT Semen Padang sebagai ruang hijau yang hidup.
Di tengah hamparan rumput hijau itulah dua meriam tua kerap menarik perhatian pengunjung.
Meriam sering dijadikan latar swafoto oleh pengunjung, termasuk pasangan pengantin yang memanfaatkan kawasan tersebut untuk pengambilan gambar.
Banyak pengunjung tidak mengetahui bahwa meriam tersebut merupakan peninggalan militer dari masa Perang Dunia II.
Hingga kini, tidak terdapat prasasti atau papan informasi resmi yang menjelaskan sejarah keberadaan meriam tersebut.
Spesifikasi, Posisi, dan Jejak Sejarah Meriam
Masing-masing meriam memiliki panjang sekitar lima meter dengan diameter laras kurang lebih 60 sentimeter.
Kedua meriam dipasang sejajar dari arah timur ke barat dengan jarak sekitar 30 meter.
Meriam yang berada di sisi timur mengarah ke Bukit Batu Kapur PT Semen Padang. Sementara itu, meriam di sisi barat menghadap ke kawasan Pabrik Indarung VI.
Meski telah dilapisi karat akibat usia, sejumlah kode masih dapat terbaca. Pada salah satu meriam tertera tulisan “O.F. 3 INCH. 20 CWT. MK III” serta angka 1916 yang menunjukkan tahun produksi.
Meriam tersebut diproduksi pada era Perang Dunia I dan kemudian digunakan kembali oleh Jepang saat menduduki Hindia Belanda. Meriam lainnya menyisakan kode samar “NᵒL/169” yang sebagian telah tergerus usia.
Sumatera Barat diketahui menyimpan banyak peninggalan militer Jepang dari masa pendudukan 1942–1944. Dua meriam di Indarung menjadi bagian dari peninggalan tersebut, meski hingga kini tidak tercatat secara resmi dan tetap menyisakan misteri sejarah.(*)
Editor : Hendra Efison