Indonesia Sumbar Bisnis Olahraga Gaya Hidup Harian Magazine Otomotif Pariwisata Features Internasional Opini Advertorial Pendidikan Buku & Film Hiburan Kesehatan

Masjid Godang Koto Nan Ompek, Masjid Tertua di Payakumbuh Berusia Hampir 200 Tahun, Jadi Cagar Budaya

Irfan R Rusli • Jumat, 20 Februari 2026 | 05:27 WIB

Masjid Godang Koto Nan Ompek di Payakumbuh, berdiri sejak 1830-an tanpa paku, kini jadi cagar budaya dan pusat ibadah masyarakat setempat.
Masjid Godang Koto Nan Ompek di Payakumbuh, berdiri sejak 1830-an tanpa paku, kini jadi cagar budaya dan pusat ibadah masyarakat setempat.
PADEK.JAWAPOS.COM–Di tengah perkembangan Payakumbuh yang semakin dinamis, Masjid Godang Koto Nan Ompek tetap berdiri kokoh sebagai salah satu bangunan bersejarah sekaligus masjid tertua di kota tersebut.

Usianya diperkirakan mendekati dua abad dan hingga kini masih difungsikan sebagai pusat ibadah serta aktivitas keagamaan masyarakat.

Masjid yang berada di kawasan Koto Nan Ompek itu dikenal sebagai salah satu masjid tertua di wilayah Luak Limopuluah.

Arsitekturnya khas Minangkabau, tanpa kubah dan menara, dengan atap limas bertingkat tiga yang sarat nilai filosofis.

Berdasarkan catatan sejarah lokal, masjid ini dibangun sekitar tahun 1830-an secara gotong royong oleh masyarakat setempat pada masa kepemimpinan Tuanku Chedoh saat menjabat sebagai Wedana atau Regent wilayah Luhak Bungsu.

Material utamanya berupa kayu pilihan dari hutan sekitar yang dirakit menggunakan sistem pasak dan sambungan tradisional tanpa paku besi.

Struktur bangunan ditopang puluhan tiang kayu besar. Salah satunya merupakan tiang utama atau “tunggak tuo” yang memiliki makna simbolis sebagai penyangga persatuan masyarakat.

Hingga kini, konstruksi tersebut tetap kokoh meski telah melewati ratusan tahun.

Sejak awal berdiri, masjid tidak hanya difungsikan sebagai tempat salat berjamaah. Bangunan ini juga menjadi pusat pendidikan agama, musyawarah ninik mamak, serta pembinaan generasi muda.

Tradisi mengaji dan pembelajaran kitab kuning pernah tumbuh di dalamnya, menjadikan masjid sebagai pusat kehidupan sosial dan spiritual warga.

Tanah masjid merupakan wakaf dari kaum adat setempat. Pembangunannya dipimpin tiga penghulu yang ahli pertukangan, yakni Datuk Kuniang, Datuk Pangka Sinaro, dan Datuk Siri Dirajo.

Sinergi antara adat dan agama tersebut sejalan dengan filosofi Minangkabau adat basandi syarak, syarak basandi Kitabullah.

Baca Juga: Masjid Tuo Kayujao, Berusia Ratusan Tahun, Keunikan tetap Dijaga

Di pelataran depan, terdapat kompleks makam tua yang diyakini sebagai pusara para regent dan tokoh penting nagari.

Area tersebut masih dirawat masyarakat sebagai bentuk penghormatan terhadap leluhur.

Secara visual, masjid mempertahankan nuansa klasik dengan dinding kayu alami, jendela tinggi berornamen ventilasi tradisional, serta mimbar tua yang masih digunakan.

Perawatan dilakukan tanpa mengubah bentuk asli bangunan.

Pemerintah daerah memasukkan Masjid Godang Koto Nan Ompek ke dalam daftar bangunan cagar budaya yang dilindungi di Sumatera Barat.

Status tersebut bertujuan menjaga kelestarian nilai sejarah, budaya, dan sosialnya.

Peneliti Balai Pelestari Budaya Wilayah III Sumatera Barat, Yusfa (45), menyebut keberadaan masjid ini mencerminkan kuatnya tradisi Islam masyarakat setempat sejak masa lampau.

Menurutnya, bangunan tersebut menjadi bukti peradaban religius yang telah berkembang sekitar 200 tahun lalu.

Selain warga lokal, pengunjung dari luar daerah juga datang untuk beribadah sekaligus mempelajari arsitektur tradisionalnya.

Masjid ini kerap menjadi objek kajian perkembangan arsitektur masjid Minangkabau.

Bagi masyarakat sekitar, masjid bukan sekadar bangunan tua, melainkan simbol kebersamaan dan warisan leluhur.

“Masjid ini sudah ada sejak zaman kakek saya. Umurnya memang sudah sangat tua,” ujar Nofri (51), warga setempat.

Ke depan, warga berharap Masjid Godang tetap difungsikan sebagai pusat pembinaan generasi muda melalui kegiatan pengajian, diskusi keagamaan, dan aktivitas sosial, sehingga nilai sejarahnya tetap relevan di tengah modernisasi.(*)

Editor : Hendra Efison
#Sejarah Islam Minangkabau #Cagar budaya Sumatera Barat #masjid tertua Payakumbuh #Masjid Godang Koto Nan Ompek