Diskusi Surau Limau Manis Padang itu berlangsung setelah salat Tarawih dan melibatkan jemaah lintas usia.
Kegiatan ini digelar di lingkungan kampus Universitas Andalas, tepatnya di kawasan Perumdos UNAND, sebagai bagian dari penguatan fungsi sosial surau di tengah masyarakat perkotaan.
Warga yang hadir membentuk lingkaran diskusi informal dan membahas berbagai topik keagamaan, sosial, hingga isu nasional.
Pengurus Mushalla Al Iqra, Hapison, memandu langsung jalannya diskusi malam itu. Ia menyebut Diskusi Surau Limau Manis Padang menjadi ruang silaturahmi yang mempertemukan generasi tua dan muda dalam suasana terbuka.
“Momen berkumpul dan bercengkrama dengan bapak-bapak dan anak muda di mushalla ini memang masih terjaga dan sangat bermanfaat,” ujar Hapison saat ditemui di sela diskusi.
Menurutnya, forum tersebut tidak hanya mempererat hubungan sosial, tetapi juga membuka ruang berbagi pengalaman hidup dan pandangan antar generasi.
Diskusi Surau Limau Manis Padang mengangkat tema yang dinamis, mulai dari pemahaman agama, persoalan sosial masyarakat, tantangan ekonomi, hingga isu politik yang berkembang.
Jemaah terlibat aktif dalam percakapan dan menyampaikan pandangan masing-masing secara bergantian.
Hapison yang pernah menjabat Kepala Dinas Sosial, Pemberdayaan Masyarakat dan Desa/Nagari Solok Selatan, menegaskan bahwa surau dalam tradisi Minangkabau berfungsi sebagai pusat pembentukan karakter.
Ia mengingatkan kembali filosofi lama yang menempatkan setiap individu memiliki peran sosial sesuai kapasitasnya.
“Diskusi ini penting agar kita tidak picik melihat dunia. Dari perdebatan yang terjadi, kita sebenarnya sedang membangun pikiran yang kritis,” katanya.
Baca Juga: Pertamina dan Pemko Banda Aceh Awasi Takaran BBM-LPG di SPBU dan Pangkalan
Ia juga menyoroti perubahan perilaku generasi muda yang semakin akrab dengan gawai dan cenderung berinteraksi secara digital.
Kondisi itu, menurutnya, berpotensi mengurangi intensitas komunikasi langsung di lingkungan sosial.
Melalui Diskusi Surau Limau Manis Padang, pengurus mushalla mendorong generasi muda tetap aktif bersosialisasi tanpa meninggalkan perkembangan teknologi.
Interaksi tatap muka dinilai membantu membangun rasa percaya diri serta kemampuan beradaptasi ketika merantau atau memasuki lingkungan baru.
Kegiatan diskusi biasanya berlangsung pada waktu-waktu ibadah, seperti setelah Subuh, Maghrib, dan selama Ramadan usai Tarawih.
Pola ini menunjukkan upaya menjaga kesinambungan tradisi musyawarah di surau sebagai bagian dari identitas masyarakat Minangkabau di Kota Padang.
Suasana malam itu juga diwarnai kehadiran anak-anak yang bermain di sekitar mushalla. Pengurus menilai keterlibatan anak sejak dini menjadi langkah membangun kedekatan emosional dengan tempat ibadah dan lingkungan sosialnya.
Diskusi Surau Limau Manis Padang diharapkan terus berlanjut sebagai ruang komunikasi masyarakat di tengah dinamika kehidupan perkotaan. Tradisi ini menjadi bagian dari penguatan nilai sosial dan budaya yang tumbuh di Kecamatan Pauh.(*)
Editor : Hendra Efison