Kegiatan yang berlangsung pukul 17.00 hingga 20.00 WIB itu menjadi momen presentasi hasil belajar para peserta sekaligus ruang pertemuan antara remaja, warga sekitar Korong Kasai, orang tua, tamu undangan, serta rekan komunitas.
Dalam kegiatan puncak tersebut, para peserta menampilkan karya video kolase yang mereka produksi selama mengikuti proses pembelajaran. Peserta dibagi ke dalam tiga kelompok, dan masing-masing kelompok menghasilkan satu karya video berdurasi maksimal dua menit.
Tiga karya tersebut merupakan hasil eksplorasi visual para peserta selama mengikuti program Kelana Gambar Bergerak.
Selain karya peserta, acara tersebut juga menampilkan pemutaran karya gambar bergerak dari seniman Mardi Al Anhar, yang akrab disapa Da Al.
Sejumlah karya yang ditayangkan merupakan hasil proses kreatifnya selama menjalani residensi singkat di sekretariat Komunitas Seni Nan Tumpah, serta beberapa karya yang pernah ia produksi sebelumnya.
Program Kelana Gambar Bergerak merupakan ruang belajar intensif selama enam hari bagi remaja yang tergabung dalam program Kelas Nan Tumpah Akhir Pekan.
Kegiatan ini berlangsung sejak 3 hingga 8 Maret 2026 dan dirancang untuk mengenalkan gambar bergerak sebagai medium dalam praktik seni visual sekaligus sebagai cara membaca diri dan lingkungan.
Selama proses pembelajaran, peserta diperkenalkan pada berbagai dasar visual, mulai dari sejarah gambar bergerak, praktik nirmana garis, fotografi dasar, hingga produksi video pendek secara berkelompok.
Kegiatan berlangsung setiap sore pukul 16.00 hingga 18.00 WIB dengan metode yang memadukan ceramah sinema, pemutaran karya referensi, praktik visual manual, diskusi, serta evaluasi bersama.
Mardi Al Anhar dari kolektif KamartKost.ch yang menjadi fasilitator dalam kegiatan ini menjelaskan bahwa program tersebut berangkat dari kedekatan remaja dengan teknologi digital.
“Perkembangan zaman membuat teknologi menjadi bagian dari keseharian masyarakat, termasuk remaja. Kamera menjadi titik awal yang melatarbelakangi proyek ini,” ujarnya.
Menurutnya, melalui kegiatan ini para remaja diajak untuk melihat smartphone bukan hanya sebagai alat hiburan, tetapi juga sebagai medium untuk memproduksi karya dan menyampaikan cerita tentang lingkungan mereka.
Selama lima hari pelaksanaan, peserta melalui sejumlah tahapan pembelajaran. Pada hari pertama, mereka diperkenalkan pada sejarah dan dasar gambar bergerak serta membuat latihan nirmana garis sebagai dasar pemahaman visual. Hari kedua diisi dengan praktik membuat gambar bergerak sederhana dari rangkaian foto.
Pada hari ketiga, peserta mempelajari teknik fotografi dasar sekaligus mulai menyusun konsep visual berdasarkan pengalaman mereka terhadap ruang dan lingkungan sekitar.
Memasuki hari keempat dan kelima, peserta mulai memproduksi karya video secara berkelompok, mulai dari penyusunan ide, pengambilan gambar, hingga proses penyuntingan sederhana. Tahapan tersebut kemudian disempurnakan pada hari terakhir sebelum dipresentasikan kepada publik.
Pendamping kelas Kelana Akhir Pekan, Desvy Sagita R., menyebutkan respons peserta terhadap kegiatan ini sangat positif. Meski pada awalnya mereka sempat mengalami kebingungan dalam memahami konsep gambar bergerak, secara bertahap mereka mulai memahami proses pembuatannya.
“Ketika peserta melihat hasil video yang dibuat dari puluhan foto yang digabungkan, mereka sangat takjub. Mereka tidak menyangka bahwa rangkaian gambar yang dibuat hampir dua jam hanya menjadi video berdurasi beberapa detik. Dari situ mereka mulai lebih menghargai proses pembuatan gambar bergerak,” katanya.
Salah seorang peserta, Nadya Sri Novita (15), mengaku mendapatkan pengalaman baru selama mengikuti kegiatan tersebut.
“Yang paling menarik adalah bisa membuat video gambar bergerak bersama teman-teman. Kami belajar mengambil gambar, menyusun cerita, dan mengedit video sehingga menjadi karya yang menarik,” ujarnya.
Manager Program Komunitas Seni Nan Tumpah, Fajry Chaniago, menjelaskan bahwa Kelana Gambar Bergerak merupakan bagian dari semester pendek program Kelana Akhir Pekan yang dilaksanakan pada masa jeda pembelajaran rutin.
“Kegiatan ini dirancang sebagai ruang belajar intensif bagi remaja untuk mengenal gambar bergerak sebagai salah satu medium dalam praktik seni visual. Melalui kolaborasi dengan Mardi Al Anhar dari KamartKost.ch, peserta tidak hanya belajar teknik dasar, tetapi juga diajak memahami bagaimana teknologi dapat digunakan untuk berpikir, mengamati, dan bercerita,” jelasnya.
Ia berharap pemutaran karya ini dapat menjadi ruang pertemuan antara peserta, keluarga, dan masyarakat untuk melihat secara langsung bagaimana para remaja memaknai lingkungan mereka melalui karya visual yang mereka buat.
Melalui program ini, Komunitas Seni Nan Tumpah kembali menegaskan komitmennya menjadikan seni sebagai ruang tumbuh dan dialog yang berakar pada pengalaman lokal, sekaligus membuka peluang berkembangnya praktik seni dari lingkungan kampung dan kehidupan sehari-hari. (*)
Editor : Adetio Purtama