PADANG, PADEK.JAWAPOS.COM – Masjid Raya Ganting di Padang Timur, Kota Padang, terus mempertahankan aktivitas keagamaan sebagai salah satu masjid tertua di Sumatera Barat.
Di tengah padatnya agenda pengajian dan kegiatan dakwah, pengurus mengungkapkan operasional masjid yang berdiri sejak 1805 itu hingga kini masih sepenuhnya bergantung pada infak dan sedekah jamaah.
Salah seorang Pengurus Masjid Raya Ganting, Yudha Devia Pratama, mengatakan masjid bersejarah tersebut rutin menggelar pengajian Subuh setiap hari.
Selain itu, pengajian Magrib berlangsung dua kali setiap pekan, yakni pada Rabu dan Minggu, dengan melibatkan masyarakat sekitar maupun jamaah dari berbagai wilayah Kota Padang.
Menurut Yudha, Masjid Raya Ganting juga menjadi salah satu pusat pelaksanaan kegiatan keagamaan Pemerintah Kota Padang.
Salah satunya melalui program Wali Kota Sumarak Surau yang mengajak masyarakat memakmurkan masjid dengan memperbanyak salat berjamaah dan aktivitas keislaman.
Memasuki Ramadan, perhatian pemerintah terhadap masjid ini semakin besar. Berbagai agenda keagamaan, termasuk Festival Ramadan, dipusatkan di Masjid Raya Ganting sebagai bagian dari upaya memperkuat syiar Islam sekaligus menghidupkan masjid bersejarah tersebut.
Masih Mengandalkan Infak Jamaah
Di balik padatnya aktivitas ibadah, pengurus menghadapi tantangan dalam memenuhi kebutuhan operasional harian.
Sebagai bangunan cagar budaya, Masjid Raya Ganting belum memiliki sumber pendanaan tetap sehingga seluruh biaya operasional masih mengandalkan partisipasi jamaah.
"Kami mengajak seluruh kaum muslimin dan muslimat, terutama yang diberikan kelebihan rezeki oleh Allah SWT, untuk berkenan menyedekahkan sebagian hartanya demi mendukung operasional Masjid Raya Ganting. Biaya operasional masjid ini murni berasal dari infak dan sedekah jamaah," kata Yudha.
Ia menjelaskan bantuan dari berbagai pihak umumnya hanya datang pada momen tertentu, seperti masa pemilihan umum ketika sejumlah calon menyalurkan sedekah ke masjid.
Di luar itu, kebutuhan listrik, kebersihan, perawatan bangunan, hingga kegiatan keagamaan bergantung pada swadaya masyarakat.
Selain persoalan pendanaan, kegiatan kultum atau ceramah Zuhur yang sempat menjadi agenda rutin sebelum pandemi COVID-19 juga belum kembali digelar.
Program tersebut berhenti sejak 2021 sebagai bagian dari efisiensi anggaran dan hingga kini belum diaktifkan kembali.
Masjid Tertua Sekaligus Ikon Wisata Religi
Masjid Raya Ganting merupakan salah satu peninggalan sejarah penting di Sumatera Barat. Masjid ini berdiri pada 1805 atas prakarsa tiga tokoh masyarakat, yakni Angku Gapuak, Syekh Haji Uma, dan Angku Syekh Kapalokoto yang bergotong royong membangun rumah ibadah tersebut.
Keberadaan masjid bukan hanya menjadi pusat kegiatan keagamaan, tetapi juga salah satu destinasi wisata religi yang banyak dikunjungi masyarakat maupun wisatawan saat berada di Kota Padang. Lokasinya berada di Kampung Ganting, Kelurahan Ganting Parak Gadang, Kecamatan Padang Timur.
Pengurus berharap masyarakat tidak hanya datang untuk menikmati nilai sejarah bangunan, tetapi juga ikut memakmurkan masjid melalui ibadah berjamaah dan dukungan terhadap berbagai kegiatan keagamaan yang berlangsung sepanjang tahun.
Sementara itu, Yudha juga mengungkapkan Perpustakaan Masjid Raya Ganting mengalami penurunan jumlah pengunjung dalam beberapa tahun terakhir.
Perubahan kebiasaan masyarakat yang lebih banyak memanfaatkan perpustakaan digital membuat minat membaca koleksi buku secara langsung di perpustakaan masjid semakin berkurang.
Meski demikian, pengurus tetap berkomitmen menjaga fungsi perpustakaan sebagai sarana literasi Islam sekaligus melestarikan keberadaan Masjid Raya Ganting sebagai warisan sejarah, pusat dakwah, dan ikon religi yang terus hidup di tengah masyarakat Kota Padang.(*)
Editor : Hendra Efison