Oleh: Ricki Satria Vargaz – Jurnalis tvOne
Guys.... Dar der dor banget, pesawat gue pagi ini ke Jakarta cancel alias gak jadi terbang, Senin (7/9)!
Seumur hidup, baru kali ini gue mengalami pesawat batal berangkat bukan karena mesin rusak, kru belum siap, atau alasan klasik, operational reason!
Kali ini alasannya jauh lebih besar, bencana alam. Gunung Anak Krakatau erupsi. Yang udah-udah palingan gue kena delay berjam-jam doang. Tapi kali ini, gak, Wak, beda. Situasinya serba gak pasti.
Padahal sehari sebelumnya, gue sudah sibuk mempersiapkan diri kembali ke rantau.
Bayangin, gue udah beli rakik maco, rakik kacang, sagun, kipang bareh, kerupuk jengkol, ikan asin kaliang-kaliang, karak kaliang, sanjai balado, galamai, beras hasil sawah sendiri, hingga buah jengkol segar berbungkus-bungkus buat oleh-oleh. Semua udah dikardusi rapi, lalu diberi nama “M. RIZKI–JKT” di dinding kardus. Wauw, ya, heheh....
Bahkan, kakak gue udah masakin rendang lokan + pakis yang nikmat itu. Udah dipacking rapi sejak Senin subuh-subuh, terpaksa dikeluarkan lagi buat dipanasin biar tak basi!
Pokoknya tinggal gue, anak gue, dan kardus-kardus itu berangkat kembali ke Jakarta.
Tapi ternyata....
Yang berangkat cuma rencananya.
Gue tuh baru tahu kalau gak jadi terbang pagi ini sekitar jam 6-an. Habis keluar dari kamar mandi, masih berhanduk dan bertelanjang dada, gue ngecek pesan WhatsApp.
“Selamat pagi Bapak/Ibu....
mohon maaf, untuk penerbangan pagi ini batal....”
Gue langsung lemes. Tadinya yang grubak-grubuk semangat biar gak ketinggalan pesawat, langsung mingkem, kepikiran dengan kerjaan.
Wah, bakal gak enak ini sama teman-teman kantor. Wah, kesannya jadi nambah cuti. Nambah libur. Beneran, kan?
Setelah seminggu lebih di Padang, kok malah gak balik-balik?
Nanti dikira.... Ah, sudahlah.
Rencana Allah banget ini mah. Padahal ini bukan gue yang minta. Ini alam yang menyuruh gue tinggal.
Ya kan, Wak?
Tapi namanya juga wartawan. Kalau panik, ya tetap harus investigasi.
Nahhh.... Dengan bodi yang masih basah, gue berlari kecil ke kamar, ambil sempak lalu memasangnya. Lanjut pakai baju, celana, pokoknya langsung rapi-rapi, niatnya tetap ke BIM.
Siapa tahu ada perubahan, ya kan?
Di tengah huru-hara ini gue tetap usaha dong agar bisa balik Jakarta hari ini. Alasan gue ya kerjaan, sama itu sekolahan anak. Kan gue mudik berdua sama anak dan istri gak ikut karena belum kebagian cuti.
Kelamaan liburnya, gak enak beneran.
Gue duduk di pinggir kasur, riweuh ngetik-ngetik WhatsApp ke hotline service maskapai pelat merah yang sangat responsif.
Buat ginian:
-
Gue minta tolong pastikan lagi bener penerbangan gue batal.
-
Apakah maskapai lain pada bisa terbang ke Jakarta?
-
Bisa di-reschedule siang atau Senin sore?
Dan bener aja dong, Bandara Soetta masih ditutup hingga pukul 18.00 WIB untuk semua penerbangan dari dan menuju Soetta.
Hei, namanya juga wartawan, ya. Networking harus luas. Gak cuma dijadiin narasumber doang, tapi saat beginian-beginian jaringan itu bisa ngebantu banget, lho. Beneran.
Gue punya beberapa “ordal andalan” di maskapai ini buat dapetin info A1. Gue japri-lah satu-satu, memastikan info penerbangan gue ini, guys.
Dan semuanya menjawab sama dengan saran yang sama: reschedule atau minta refund aja, “Ki.”
Gue pilih reschedule Selasa. Alhamdulillah dapat, tapi sore.
Alamak, gak masuk kantor lagi Selasa nih. Keadaan?!
Gue kabari rekan-rekan dan pimpinan gue di kantor soal ini. Gue izin WFH dari Padang. Gue stand by WhatsApp.
Alhamdulillah, direspons positif. Walau sebenarnya gue gak enak banget rasanya, tapi jujur ini kan bencana alam.... Ya Allah.
Tapi gue WFH kok.
Langsung aktif gue di grup kantor, heheheh.... #corporatelife
Dah, kan. Udah izin semuanya, barulah gue kabari istri dan kolega lainnya.
Istri gue bilang, debu erupsi Anak Krakatau udah sampai rumah, Kemayoran!
Jauh di Jakarta, debu sedang datang.
Jauh di Padang, gue justru sedang tertahan.
Huufttt....
Gue raih anak gue, gue ajak dialog.
“Dam, kita gak jadi balik Jakarta hari ini, ya. Sekolah, ngaji sama lesnya hari ini libur lagi, ya!”
“Horeeeeeeee!” jawab anak gue, begitu riang, begitu tulus.
Gue suruh dia ganti baju, lalu gue nyalain Upin Ipin di TV ruang tengah.
Wajah ibu gue tampak senang lagi, setelah bersedih-sedih subuh tadi karena hendak melepas anak bujang satu-satunya kembali ke rantau.
Mungkin seorang ibu emang gitu, ya.
Kita sebagai anak sibuk menghitung jadwal pesawat.
Ibu cuma menghitung:
“Masih di rumah atau sudah berangkat?”
Hiksss....
Dan dari dapur, kakak gue terlihat membuka dua kantong plastik yang diikat pakai karet gelang. Rendang lokan itu kembali dipindahkan ke kuali besi, dipanaskan agar tak basi.
Hari ini gue memang gak jadi terbang.
Kardus “M. RIZKI–JKT” masih tergeletak.
Rendang belum sampai Jakarta.
Anak gue malah bahagia karena sekolah libur.
Ibu gue senang karena anaknya masih di rumah.
Dan gue?
Ya udahlah, ya.
WFH dari Padang....
Gue belakangan percaya sama satu hal, Wak. Apabila lo gak jadi melakukan sesuatu, jangan tantrum, sumpah serapah. Bisa jadi itu adalah cara Allah menyelamatkan lo.
Kita sering merasa sedang kehilangan waktu, padahal mungkin sedang diberi waktu.
Ya kan?
Editor : Hendra Efison