Walaupun tidak berkesempatan menyentuh dan menaiki Mak Itam, tidak menyurutkan sekelompok siswa SD yang datang dari Kota Padangpanjang untuk melihat salah satu bukti sejarah perkeretapian di Sumatera Barat tersebut. Seorang kakak pemandu menerangkan sejarah perkeretapian di Sumbar kepada mereka.
Yup, kabar gembira itu sudah meluncur luas, Mak Itam akan keluar dari kurungannya. Loko uap tua itu akan mulai dioperasikan pada perayaan HUT Kota Sawahlunto yang ke-133.
“Mak Itam akan dioperasikan dalam perayaan HUT Kota Sawahlunto pada 1 Desember yang akan datang," ujar Wali Kota Sawahlunto Deri Asta SH, Senin (22/11).
Lebih lanjut, Deri Asta SH menambahkan, dalam perayaan HUT Kota Sawahlunto yang ke-133 tersebut, Mak Itam akan dioperasikan dari Stasiun Sawahlunto menuju Stasiun Muaro Kalaban. “Dalam perayaan nanti, Mak Itam sudah siap dijalankan dari Stasiun Sawahlunto menuju Stasiun Muaro Kalaban,” tambahnya.
Deri Asta berterima kasih atas usaha yang dilakukan Direktorat Jenderal Perkeretaapian yang telah melakukan reaktivasi jalur kereta api antara Sawahlunto menuju Muaro Kalaban.
“Kita harus menjaga situs yang telah menjadi cagar budaya UNESCO ini. Reaktivasi jalur kereta api ini sangat kita dukung, karena bisa menghidupkan ekonomi dari sektor wisata. Jadi, kita berharap kereta api penumpang kembali beroperasi di Sawahlunto untuk menggerakkan wisata di Sawahlunto,” tambahnya.
Sejarah perkeretapian di Sawahlunto berawal sejak ditemukannya tambang batubara. Sebelumnya, kereta api di Sumbar diperuntukkan untuk distribusi kopi dari daerah pedalaman (Bukittinggi, Payakumbuh, Tanahdatar, Pasaman) ke pusat perdagangan di Kota Padang.
Era perkeretaapian di Sumatera Barat dimulai dari pembangunan jalur kereta api oleh Perusahaan Kereta Api Negara Sumatera Staats Spoorwegen (SSS). Pembangunan tersebut dimulai dari Teluk Bayur-Padangpanjang-Bukittinggi, dan Padangpanjang-Sawahlunto. Sampai tahun 1892 jalur kereta sudah mencapai Muara Kalaban.
Di penghujung tahun 2000 produksi batubara di Sawahlunto semakin berkurang. Imbasnya, berdampak kepada dunia perkeretaapian di Sumbar. Sebagai upaya melestarikan Stasiun Sawahlunto, PT Kereta Api Indonesia dan pemerintahan Kota Sawahlunto bekerja sama memanfaatkan Stasiun Sawahlunto sebagai museum. Museum Sawahlunto diresmikan tanggal 17 Desember 2005 oleh Wapres yang saat itu dijabat Jusuf Kalla. (edg) Editor : Hendra Efison