Dalam aksi gerakan Pemberantasan Sarang Nyamuk (PSN) massal ini, warga, pihak Desa Santur, Puskesmas Sungaidurian, lembaga desa menyisir permukiman. Targetnya benda-benda atau barang yang dapat menampung air.
Terlihat sejumlah benda seperti ban, toples dan lubang yang tergenang air dan terdapat jentik nyamuk. Petugas kemudian menumpahkan air dan menutup barang tersebut agar tidak menampung air saat diguyur hujan.
Petugas juga memeriksa sejumlah toren air yang juga berpotensi terdapat jentik nyamuk. Kemudian menaburkan Abate agar jentik mati dan tidak menjadi nyamuk DBD.
Selain menyisir permukiman, warga pun melakukan PSN di sekitar rumahnya masing-masing. Tujuannya agar nyamuk tidak berkembang biak dan mengurangi potensi penyakit DBD ini.
“Gerakan PSN massal ini tujuannya menghilangkan jentik nyamuk agar tidak ada kasus DBD di Desa Santur. Sehingga kita lakukan mengurangi kasus DBD,” ujar Sekretaris Desa Santur Yanti Desvita.
Ia menjelaskan, potensi DBD di desa ini cukup tinggi jika tidak dilakukan pencegahan. Diharapkan masyarakat rutin membasmi sarang nyamuk, kurangi wadah yang dapat menimbulkan jentik.
Kepala Puskesmas Sungaidurian drg. Yuliana Sari mengatakan, aksi Gerakan PSN Massal ini dilaksanakan di Komplek Perumahan Sakinah, Dusun Kampung Baru, Desa Santur, Kecamatan Barangin, Kota Sawahlunto, yang menjadi wilayah kerja Puskesmas Sungaidurian. Tujuannya mengendalikan jentik nyamuk DBD.
“Dengan PSN dan pemberian abate ini bisa memberantas jentik nyamuk di penampungan air. Jadi kami imbau masyarakat secara rutin memeriksa genangan air di sekitar lingkungannya,” pungkasnya.
DBD belum tentu berakhir dengan hanya menggantungkan persoalan ini pada sektor kesehatan. Yang terpenting dalam mengusir DBD dan memutus mata rantai perkembangan nyamuk Aedes Aegypti ini adalah dengan membangkitkan kembali semangat gotong royong yang menjadi inti dari kebudayaan bangsa Indonesia.
Karena menurutnya, untuk memutus perkembangbiakannya perlu dilakukan gerakan PSN yang biasa dikenal dengan istilah 3M plus, menguras bak mandi atau penampungan air, menutup tampungan air hujan dan sebagainya, dan mendaur ulang atau mengubur sampah-sampah yang berserakan, plus menghindari gigitan nyamuk dengan menggunakan lotion antinyamuk, obat nyamuk, kelambu, atau pestisida.
Mengembalikan semangat gotong royong untuk melakukan kerja bakti membersihkan lingkungan dapat menjadi upaya pencegahan yang utama. Apalagi gerakan ini datangnya dari kesadaran masyarakat itu sendiri yang ingin menjaga kebersihan lingkungan. Tentu ini akan lebih efektif membantu sektor kesehatan dalam pencegahan kasus DBD.
“Marilah kita bersama-sama menjaga kebersihan lingkungan sekitar dari tempat-tempat yang dapat menjadi sarang nyamuk Aedes Aegypti seperti genangan air, tumpukkan sampah dan tempat penampungan air yang tidak terawat,” pungkasnya. (***)
Editor : Adetio Purtama