Indonesia Sumbar Bisnis Olahraga Gaya Hidup Harian Magazine Otomotif Pariwisata Features Internasional Opini Advertorial Pendidikan Buku & Film Hiburan Kesehatan

Dari Preman Bertato Menjadi Penjaga Alam, Kisah Ricky Menghijaukan Bekas Tambang Sawahlunto

Indra Yosef • Kamis, 21 Mei 2026 | 20:44 WIB
Tim penilai Kalpataru 2026 Ahmad Junaidi saat meninjau lapangan  sebagai sarat pengajuan calon penerima kalpataru Ricky Ekoni (kiri). (Indra Yd/Padeks))
Tim penilai Kalpataru 2026 Ahmad Junaidi saat meninjau lapangan sebagai sarat pengajuan calon penerima kalpataru Ricky Ekoni (kiri). (Indra Yd/Padeks))

SAWAHLUNTO, PADEK.JAWAPOS.COM — Ricky Ekoni Saputra tak pernah menyangka lahan kosong bekas tambang yang dulu ia garap tanpa izin justru mengubah jalan hidupnya. Dari kawasan tandus penuh bekas galian batu bara di Sawahlunto, pria bertato yang pernah dikenal sebagai preman itu kini diusulkan menjadi calon penerima penghargaan lingkungan tertinggi di Indonesia, Kalpataru 2026.

Di bawah terik matahari kawasan Kayu Gadang, Sawahlunto, hamparan hijau kini tumbuh di atas tanah yang dulunya kering dan nyaris mati. Pohon buah, tanaman produktif, kandang kambing, hingga sapi berdiri di lahan bekas tambang milik PT Bukit Asam Tbk Ombilin Mining Site.

Sulit membayangkan kawasan tersebut dahulu hanya berupa tanah keras bekas pengerukan batu bara. Namun sejak 2019, Ricky perlahan mengubah wajah lahan itu dengan tangannya sendiri.

Awalnya, langkah Ricky dianggap nekat. Ia mulai bertani dan beternak di lahan seluas lima hektare tanpa izin resmi. Namun niatnya bukan untuk merusak, melainkan menghidupkan kembali tanah mati yang lama terbengkalai.

Baca Juga: Jembatan Sitangkai–Tanjung Ampalu di Sumbar Ditutup Total, Lalu Lintas Dialihkan

Alih-alih digusur, upaya Ricky justru mendapat perhatian positif dari pemilik lahan. PT Bukit Asam kemudian memberi izin pemanfaatan lahan sekaligus memperluas area garapan Ricky menjadi 8,7 hektare karena dinilai berhasil menghijaukan kawasan bekas tambang.

Mengubah Tanah Mati Menjadi Lahan Produktif

Ricky memulai semuanya dengan cara sederhana. Ia menanam berbagai jenis tanaman produktif sembari mengembangkan peternakan kambing dan sapi secara bertahap.

Limbah ternak kemudian diolah menjadi pupuk organik untuk menyuburkan tanah yang sebelumnya tandus. Konsep pertanian berkelanjutan itu menjadi pondasi utama pengelolaan lahannya.

Di kawasan yang dulu nyaris tak memiliki kehidupan, kini sumber air mulai terjaga dan vegetasi kembali tumbuh. Perubahan itu membuat lahan bekas tambang perlahan hidup kembali.

Baca Juga: Pertamina Tambah Pasokan Biosolar 20 Persen di Padang, Ratusan Kendaraan Anomali Diblokir

“Awalnya saya cuma berpikir bagaimana lahan ini bisa dimanfaatkan dan tidak dibiarkan rusak begitu saja,” ujar Ricky dalam proses verifikasi lapangan Kalpataru 2026 di Sawahlunto.

Pria kelahiran 1982 tersebut juga mulai dikenal sebagai pelopor pemanfaatan lahan bekas tambang di Sawahlunto. Pola pengelolaan lahannya bahkan mulai ditiru sejumlah kelompok tani di berbagai wilayah.

Kelompok tani seperti Poktan Muara Sikabu Desa Rantih, Poktan Polukuik Desa Kubang Utara, Poktan Mutiara Desa Santur, hingga kelompok pensiunan PT Bukit Asam Armen Lenggang mulai mengembangkan konsep serupa.

Perubahan hidup Ricky tidak terjadi dalam waktu singkat. Ia mengaku pernah dipandang sebelah mata karena masa lalunya sebagai preman bertato. Namun kerja keras di lahan bekas tambang perlahan mengubah cara masyarakat memandang dirinya.

Baca Juga: Tuntaskan 6.615 Anak Tidak Sekolah di Padang, Warga Diminta Lapor ke Lurah jika Terkendala Biaya

Dari Masa Kelam Menuju Kandidat Kalpataru

Perjalanan Ricky kemudian mendapat dukungan dari banyak pihak. PT Bukit Asam memberikan bantuan CSR berupa bibit tanaman dan pelatihan. Dukungan lain datang dari Pemerintah Kota Sawahlunto, BPTU-HPT Padang Mengatas, hingga sejumlah kelompok tani setempat.

Pemerintah Kota Sawahlunto melalui Dinas Perumahan, Kawasan Permukiman, Pertanahan, dan Lingkungan Hidup akhirnya mengusulkan Ricky sebagai calon penerima Kalpataru 2026 kategori perintis lingkungan.

Bagi tim verifikasi Kementerian Lingkungan Hidup, kisah Ricky dinilai bukan sekadar penghijauan biasa. Ada transformasi sosial, ekonomi, dan lingkungan yang berjalan bersamaan di lahan bekas tambang tersebut.

Tim verifikasi Kementerian Lingkungan Hidup, Ahmad Junaidi, mengatakan pendekatan yang dilakukan Ricky menarik karena tidak hanya fokus pada penghijauan, tetapi juga menerapkan konsep zero waste dan pengelolaan lingkungan berkelanjutan.

Baca Juga: Ketua DPRD Sumbar Khawatir Anak Kecanduan Gawai, Risiko “Brain Rot” Mengintai Generasi Digital

“Bagi saya ini verifikasi yang mengesankan. Saya berharap Ricky tidak jumawa dan terus melakukan hal-hal terbaik bagi masyarakat dan lingkungan,” kata Ahmad Junaidi saat melakukan verifikasi lapangan di Sawahlunto, Selasa (19/5/2026).

Selama dua hari, tim Kementerian Lingkungan Hidup meninjau berbagai lokasi serta mewawancarai sejumlah pihak terkait aktivitas Ricky dalam mengembangkan kawasan bekas tambang menjadi lahan produktif.

Menurut Ahmad, hasil verifikasi lapangan menunjukkan perkembangan yang cukup menggembirakan meski masih ada beberapa dokumen pendukung yang perlu dilengkapi sebelum penilaian akhir dilakukan Dewan Juri Kalpataru 2026.

“Semua hasil verifikasi, dokumentasi, dan wawancara akan menjadi bahan pertimbangan Dewan Juri untuk menentukan kelayakan Ricky Ekoni sebagai calon penerima Kalpataru 2026,” ujarnya.

Bagi warga Sawahlunto, kisah Ricky kini bukan hanya tentang penghargaan lingkungan. Perjalanan mantan preman bertato itu menjadi bukti bahwa lahan rusak sekalipun masih bisa dihidupkan kembali, selama ada keberanian untuk memulai perubahan.(*)

Editor : Hendra Efison
#Ricky Ekoni Saputra #Kalpataru 2026 #lahan bekas tambang Sawahlunto #penghijauan tambang #mantan preman Sawahlunto