Produk fabrikasi industri berat ini menjadi bukti pengembangan kapabilitas unit Bisnis Non Semen & Produk Turunan yang kini mampu melayani kebutuhan lintas sektor industri.
Kapasitas Produksi Lintas Sektor
Kepala Departemen Bisnis Non Semen & Produk Turunan PT Semen Padang, Ridwan Muchtar, menyatakan bahwa workshop perusahaan telah mengalami perkembangan signifikan.
“Awalnya hanya mendukung operasional internal, kini mampu memproduksi berbagai peralatan industri berat lintas sektor, mulai dari semen, pulp and paper, hingga nikel,” ujarnya.
Workshop tersebut telah mengerjakan sejumlah proyek besar, termasuk untuk PT Riau Andalan Pulp and Paper serta berbagai industri strategis lainnya.
Ridwan menegaskan kesiapan unit tersebut untuk menjadi mitra industri dengan dukungan fasilitas dan sumber daya manusia yang kompeten.
“Kami siap menjadi mitra industri dengan standar kualitas tinggi, didukung fasilitas lengkap dan SDM kompeten,” katanya.
Spesifikasi dan Proses Produksi
Shell Kiln Narogong 2 yang diproduksi memiliki spesifikasi teknis tinggi. Produk ini menggunakan material DIN 16Mo3 dengan ketebalan 28 mm dan diameter 5.600 mm.
Struktur kiln terdiri dari tiga section dengan panjang total mencapai 9,3 meter dan bobot 36,14 ton.
Seluruh proses fabrikasi diselesaikan dalam waktu 19 hari, dengan target serah terima kepada pemesan pada 28 April 2026.
Jejak Proyek dan Penguatan Bisnis
Produksi Shell Kiln ini melanjutkan capaian sebelumnya, yakni pengerjaan proyek serupa senilai Rp13,2 miliar untuk Pabrik Tonasa IV milik PT Semen Tonasa.
Workshop Bisnis Non Semen & Produk Turunan PT Semen Padang yang berdiri sejak 1988 kini berkembang menjadi pusat fabrikasi industri berat.
Unit tersebut telah mengerjakan berbagai proyek strategis di perusahaan seperti PT Semen Baturaja Tbk, Toba Pulp Lestari Tbk, hingga menjangkau pasar internasional seperti Bangladesh.
Transformasi ini memperkuat posisi PT Semen Padang sebagai perusahaan solusi industri terintegrasi dengan dukungan teknologi, pengalaman, dan kapabilitas fabrikasi yang terus berkembang.(*)
Editor : Hendra Efison