Di Nagari Padangsibusuk, Kecamatan Kupitan, harga getah karet paling tinggi di tingkat pengepul/toke dibanderol Rp 7.000 per kilogram.
Situasi menjadi kian rumit karena proses panen di sebagian area di Nagari Padangsibusuk sedang tidak bisa dilakukan, karena Kabupaten Sijunjung terus dilanda musim hujan, sehingga wadah penampung getah terisi air.
Akibatnya aktivitas menyadap getah tidak bisa dilakukan. Akhirnya produksi sadapan getah menjadi turun drastis, bahkan anjlok mencapai lebih dari separuh.
Hendri, 47, seorang petani Nagari Padangsibusuk, Kecamatan Kupitan menyebut harga getah karet saat ini masih sangat rendah. Hasil penjualan per minggu tidak lagi sebanding dengan biaya hidup, serta tidak mampu memenuhi kebutuhan hidup keluarga.
Banyak petani terpaksa mencari penghasilan tambahan sepulang dari ladang seperti mencari kayu bakar, mengumpulkan hasil hutan, serta jadi buruh serabutan. “Harusnya harga jual karet Rp 12.000 sekilo. Namun kini hanya Rp 5.000-7.000 sekilo,” keluhnya.
Seperti diketahui, getah karet Kabupaten Sijunjung termasuk kualitas terbaik di Sumbar, sejauh ini menjadi sumber ekonomi unggulan masyarakat wilayah Sijunjung.
Namun karena harga karet senantiasa lemah, perekonomian masyarakat senantiasa tertekan. “Rendahnya harga karet menjadikan hidup terasa sulit. Kondisi ini telah berlangsung hampir dua tahun,” imbuhnya.
Senada, petani lainnya di Nagari Muaro, Kecamatan Sijinjung Edi Katik 67, mengeluhkan murahnya harga getah katet di tingkat bawah. Sehingga untuk membiayai kebutuhan hidup keluarga sehari-hari terasa kian susah.
“Sudah harganya murah, kini sedang musim hujan pula. Bertambah merana kami para petani ini,” ujarnya. Untuk dapat membiayai keluarga, ia mengaku telah banyak berhutang. (atn) Editor : Novitri Selvia