Indonesia Sumbar Bisnis Olahraga Gaya Hidup Harian Magazine Otomotif Pariwisata Features Internasional Opini Advertorial Pendidikan Buku & Film Hiburan Kesehatan

Dari Ekspedisi ke Puncak Gunung Talang ke-1: Puncak “Seribu Gunung” dan “Seribu Danau”

Two Efly • Selasa, 5 November 2024 | 08:21 WIB

Two Efly, Azib, dan Ampu memulai ekspedisi ke puncak Gunung Talang dari Pos 1.
Two Efly, Azib, dan Ampu memulai ekspedisi ke puncak Gunung Talang dari Pos 1.
Anak muda naik Gunung itu biasa. Tapi, kalau orang tua naik Gunung itu baru berbeda. Sabtu (2/10) duet Ayah dan Anak mencoba menaklukan Puncak Gunung Talang dengan Ketinggian 2.597 Mdpl (Meter diatas permukaan laut-red). Seperti apa petualangan duet Ayah dan Anak ini? Berikut laporannya untuk pembaca.

Laporan -- Two Efly, Camp Area MT.Talang

Bertualang beda usia kali ini terasa sangat spesial. Saya (Two Efly-red) berusia 50 tahun dan anak saya Azib Fattah Mandala Putra berusia 19 tahun.

Ekspedisi kali ini karena sama-sama “pemula” (pendaki perdana) kami mestilah didampingi guide dan kebetulan guide kami adalah Ketua Ranger Gunung Talang bernama Roni alias Ampu, 45 tahun.

Perjalanan menuju Puncak Gunung Talang diawali Sabtu pagi 2 November 2024. Menggunakan mobil, kami memulai perjalanan dari Kota Padang menuju Alahan Panjang Solok (Lembah Gumanti-red).

Dari Kota Padang kami mulai bergerak Pukul 09.15 WIB. Sesampai di kawasan Indarung kami mampir membeli logistik untuk bekal kami selama dalam perjalanan ke Puncak Gunung Talang dengan ketinggian 2.597 Mdpl tersebut.

Usai membeli logistik kami melanjutkan perjalanan menuju Sitinjau Lauik. Saat kami melewati rute ini, arus Lalu lintas terpantau sedikit padat.

Kendaraan terlihat padat merayap melintasi kawasan puncak Bukit Barisan itu hingga ke titik Panorama 2 jalur Sitinjau Lauik.

Dari Panorama 2 ini kami baru bisa melaju dengan kencang hingga Pertigaan Simpang Lubuk Selasih, Kanagarian Batang Barus, Kabupaten Solok.

Dari Simpang Lubuk Selasih kami belok kanan menuju Alahan Panjang (Lembah Gumanti).

Anak saya yang sudah kadung bersemangat untuk menaklukkan Puncak Gunung Talang terus memacu laju kendaraannya hingga sampai di Simpang Panorama (Simpang tiga menuju Gunung Talang via Bukik Bulek).

Namun Guide kami Roni alias Ampu menyarankan lebih baik kita makan siang dulu karena hari telah menunjukkan pukul 12.35 WIB.

Sebagai pendaki “pemula” kami mengikuti saran dari Guide ini. Laju kendaraan terus kami pacu dan mampir di salah satu rumah makan di pinggir Danau Di Atas.

Setelah makan siang dan minum “kopsteng” (kopi setengah-red) kami memutar kembali menuju ke apotek untuk membeli cream pemanas tubuh (Hot In Cream-red) dan setelah itu melanjutkan perjalanan menuju Simpang Tiga Panorama.

Sampai di Simpang Tiga kami belok ke Kanan. Tak butuh waktu lama bagi kami bisa menjumpai Danau Di Bawah nan legendaris itu.

Lebih kurang 5 menit dari Simpang Tiga, Danau Di Bawah nan eksotik itu tampak menghampar dan memanjakan mata. Indah dan sangat indah sekali dipandang mata.

Menyisir jalan hotmix nan mulus kami terus melaju hingga kendaraan sampai di Simpang Tiga Bukik Bulek, Kampung Batu Dalam.

Di simpang ini kami belok kiri dan mengambil jalur jalan desa hingga sampai di Posko 1 Pendakian ke Puncak Gunung Talang.

Registrasi dan Memulai Pendakian

Titik nol pendakian kami mulai dari situ. Posko 1 merupakan titik awal petualangan. Warga Bukik Bulek yang tergabung dalam Pokdarwis Kampuang Batu Dalam membuka posko 1 (Pos 1 ) untuk memantau dan mencatat setiap pendaki yang ingin menaiki Gunung Talang. Tujuannya agar setiap pendaki bisa terdata dan tercatat dengan baik.

Setiap pendaki diwajibkan registrasi. Selain mendaftar, Posko 1 juga menjadi tempat persiapan akhir sebelum memulai pendakian.

Packing-packing logistik dan ceklist final atribut pendakian dilakukan di Posko ini.

Selain ceklist final, Posko 1 ini juga dijadikan para pendaki sebagai tempat parkir kendaraan dan penitipan barang.

Layaknya posko pendakian yang dikelola oleh Pokdarwis maka di Posko ini juga tersedia banyak fasilitas sebelum pendakian dimulai. Di sini tersedia Kamar Mandi dan WC Umum.

Di posko 1 ini juga tersedia Mushalla dan tempat parkir yang mampu menampung kendaraan roda empat dan roda dua dalam jumlah yang cukup banyak.

Di posko 1 ini juga terdapat warung makan dan minum. Satu lagi, di Pos 1 ini anggota Pokdarwisnya juga menyedia jasa ojek yang dapat disewa pendaki untuk mengantarkan pendaki hingga ke Posko 2 (Pintu Rimba-red).

Sebagai mantan pendaki era tahun 90-an saya agak gengsi juga menaiki Ojek ini. Rasanya tak paripurna kita sebagai anak gunung kalau sebagian rute perjalanan kita masih menggunakan kendaraan.

Namun gengsi itu harus saya buang jauh karena jarak antara Posko 1 dengan Posko 2 lebih kurang 3 Km dan jalurnya cukup menanjak. Saya harus menghemat tenaga apalagi anak saya juga seorang pendaki pemula.

Setelah selesai Registrasi, packing packing dan shalat Dzuhur (13.25 WIB) kami mulai bergerak menuju Posko 2 (Pintu Rimba).

Menumpang tiga unit motor anggota Pokdarwis kami diantar menuju Posko 2. Jalan yang dilalui juga terbilang bagus, jelek dan sangat menantang.

Menapaki jalan usaha tani (rabat beton) dengan lebar 1 Meter motor anggota Pokdarwis “meraung-raung” hingga mencapai Posko 2.

Maaf, hanya driver andal dan berpengalaman yang bisa melaju dijalur itu. Kalau silap atau lengah di jamin tergelincir ke dalam jurang atau perkebunan warga.

Tak butuh waktu lama motor para anggota Pokdarwis itu mencapai Posko 2.

Lebih kurang 45 menit motor yang kami tumpangi sudah sampai di posko 2 yang sekaligus menjadi pintu gerbang masuk jalur pendakian Gunimg Talang via Bukik Bulek.

Bukik Sileh, Bukik Kompong, Aia Batumbuak, Seroja dan Danau Talang

Ada banyak akses yang dapat digunakan untuk mencapai posisi Puncak Gunung Talang dengan ketinggian 2.597 MDPL. Mulai dari jalur tradisional hingga ke jalur “sejuta umat”.

Jalur Bukik Sileh menuju puncak merupakan jalur tradisional. Dari Kota Solok kita bisa menuju Batu Bajanjang Bukik Sileh via Muaro Paneh, Koto Anau dan Batu Banyak. Sesampai di kawasan Aia Angek kita bisa menapakai jalan usaha tani hingga sampai ke Pintu Rimba.

Di tahun 1990 jalur ini terbilang akrab di telinga pendaki. Walau jalur ini terbilang panjang dan cukup berat tapi tetap disukai.

Kenapa? Karena tahun 1990-an jalur Bukik Sileh ini merupakan satu di antara dua jalur yang dapat digunakan menuju Puncak Gunung Talang selain via Bukik Kompong.

Rute kedua yang dapat digunakan menuju Puncak Gunung Talang adalah via Bukik Kompong. Jalur ini juga terbilang berat dan panjang.

Selain itu, jalur ini di pertengahan perjalanannya juga bertemu dengan jalur Bukik Sileh. Istilah kami para pendaki di era tahun 90-an rute Bukik Sileh dan Bukik Kompong adalah rute “Kepala Dua, Berbadan Satu”.

Di tahun 2000 penggiat alam mencoba membuka jalur baru. Kalau selama ini pendakian diawali dari wilayah Talang dan Bukik Sileh maka jalur berikutnya dicoba dari arah selatan (di balik Gunung Talang).

Pengiat alam mencoba merintis jalur baru dari Aia Batumbuak menuju puncak Gunung Talang.

Jalur ini diawali dengan rute melewati hamparan perkebunan Teh Kayu Jao lebih kurang 4 Km dan baru masuk ke posko 1 dan berlanjut ke pintu rimba hingga menuju puncak Gunung Talang.

Dibandingkan Jalur Bukik Sileh dan Bukik Kompong jalur Air Batumbuak relatif lebih mengasikkan. Selain kita dapat view panorama hamparan perkebunan teh Kayu Jao, jalur ini juga tidak seberat jalur tradisional (Bukik Sileh-red).

Jalur ini menghabiskan waktu 7 jam perjalanan hingga mencapai Camp Area (kaki cadas Gunung Talang).

Jalur Seroja dan Danau Talang. Jalur ini juga dirintis di tahun 2010-an dengan melewati Danau Talang.

Jalur ini terbilang relatif lebih ringan dibandingkan Aia Batumbuk. Selain ringan, jaraknya tempuhnya ke puncak gunung juga lebih pendek.

Sayang jalur ini kurang diminati terutama di musim penghujan. Kenapa? Dijalur ini sangat banyak binatang pacet karena kita melintasi hutan lembab dan basah.

Meskipun begitu anak gunung tetaplah anak gunung. Tantangan demi tantangan tak ubahnya gizi dan amunisi yang dapat memacu adrenalianya untuk memparipurnakan petualangan.

Jalur berikutnya adalah jalur “sejuta umat”. Puncak Gunung Talang via Bukit Bulek merupakan jalur terbaru (2017-an).

Jalur inilah sekarang yang menjadi primadona khususnya untuk pendaki pemula dan pendaki "PENAT" (Pendaki Nafas Tua-red).

Jalur ini terbilang sangat ringan karena hingga ke pintu rimba masih bisa diakses kendaraan roda dua.

Selain itu jarak antara Posko 2 menuju Camp Area hanya sejauh 2,1 Km. Untuk menempuh rute sejauh itu butuh waktu lebih kurang 1,5 jam bagi pendaki prefesional, butuh waktu lebih kurang 2,5 jam bagi pendaki santai dan butuh waktu lebih kurang 3,5 jam pendaki pemula.

Selain pendek, rute yang dilalui juga terbilang asik. Kalaupun menanjak tidaklah tajam tajam amat dan tidak pula panjang amat.

Ada selingan “bonus” jalur (jalur datar) yang dapat dinikmati untuk “re change” tenaga kembali sebelum menanjakan kembali.

Dua Posko, Tiga Shelter dan R-32

Sedikit agak teknis pendakian. Istilah pada sub judul ini sangat akrab bagi para pendaki. Jalur “sejuta umat” (Via Bukik Bulek-red) punya dua Posko.

Posko 1 lebih kurang 50 meter dari jalan lingkar Danau Di bawah dan Posko 2 di Pintu Rimba.

Posko 2 merupakan titik awal pendakian kalau kita menggunakan Ojek. Dari sini kita mulai menyisiri jalan setapak menuju puncak.

Kami bertiga memulai pendakian pukul 14.05 WIB dari posko 2 ini. Bergerak menyisiri jalan setapak, kaki kami ayunkan selangkah demi selangkah.

Dalam pikiran saya, pintu rimba dan menuju Shelter 1 melewati hutan belantara. Kayu kayu besar dan urat kayu yang kuat menyembul di permukaan tanah.

Apa yang saya pikirkan berbeda dengan fakta lapangan. Dari Posko 2 menuju Shelter 1 yang terpaut jarak lebih kurang 500 meter itu separohnya merupakan perkebunan Markisah warga Bukik Bulek.

Para pendaki berjalan dipinggir kebun Markisah. Buah berasa asam dan manis itu bergelantungan sepanjang jalan menuju Shelter 1.

Kalau mau dan sok akrab maka para pendaki bisa mintak buah markisah yang matang ke petani untuk dimakan.

Tapi ingat jangan sekiloan memintaknya, kalau satu dua biji biasanya petani mempersilahkan. Ambil sendiri, petik sendiri tapi sampahnya jangan dibuang sembarangan.

Karena duet ayah dan anak ini adalah mantan pendaki dan pendaki pemula maka jarak lebih kurang 500-600 meter itu menghabiskan waktu yang cukup lama.

Kalau pendaki profesional butuh 15-25 menit menuju Shelter 1 maka kami membutuhkan waktu hampir 60 menit mencapai Shelter 1.

Ada banyak penyebab kenapa lambat. Pertama tenaga dan nafas. Jalan menanjak dan berliku itu membuat nafas saya sesak.

Harus pandai-pandai mengatur nafas. Kalau tak pandai mengatur nafas bisa jadi pusing, muntah dan pingsan.

Penyebab kedua “pak Bento”Apa itu? Bentar-bentar foto, wkwkwkwk. Inilah yang lebih banyak mengganggu. Mintak “chup” tiap sebentar karena saya benar-benar tak tahan melihat view yang bagus.

Hamparan kebun markisa, hamparan perkebun bawang, tomat dan indahnya Danau Di Bawah memaksa saya mengambil gadget untuk memotretnya. “Bento” ini selalu mengganggu hingga kami “landing” di Shelter 1.

Sebagai Shelter (tempat rehat-red) saya berpikir pastilah berada di bawah rindang pohon besar. Sekeliling pondok untuk istirahat ini dipenuhi pohon dengan diameter besar. Ternyata, pemikiran saya kembali salah.

Di belakang Shelter 1 itu masih juga menghampar perladangam warga. Pohon-pohonnya sudah tumbang.

Pemilik ladang sedang melakukan land clearing. Sepertinya akan bertanam Markisah karena iklimnya sangat mendukung untuk buah berkhasiat menurunkan panas dalam tersebut.

Di Shleter 1 ini atau R-4 ini kami rehat cukup lama. Saya benar benar melahap indahnya view alam dan aroma hutan dengan puas. Hampir 20 menit kami rehat disitu.

Ampuselaku guide ketawa ketawa aja melihat tingkah laku saya. Bisa jadi dalam pikirannya, begini gayanya pendaki tua dan mantan pendaki.

Setiap derap langkah selalu bernostalgia akan peristiwa lama. Kebetulan pendakian ke Puncak Gunung Talang ini adalah pendakian saya ketiga. Pendakian pertama tahun 1993.

Pendakian kedua pergantian tahun baru 1994-1995. Dua pendakian ini sama sama di rute Bukik Sileh. Hanya pendakian ketiga via Bukik Bulek (2 November 2024). Itupun dalam usia menuju 50 Tahun, wkwkwkwk.

Dari Shelter 1 kami bergabung dengan pendaki dari Kota Bogor. Layaknya persahabatan di alam, walau baru ketemu langsung akrab dan bak saudara.

Mereka berdua juga baru perdana ke Gunung Talang. Saat di Posko 1 kami sempat bertemu dan di Shelter 1 kami bertemu lagi.

Karena sudah nyaman dan akrab bak satu tim, kami bergerak bersama menuju shelter 2 hingga Camp Area. Secara jarak antara Shelter 1 ke Shelter 2 tidaklah begitu jauh.

Tapi jalurnya mulai menanjak. Pepohonan besar sudah mulai rapat. Akar akar pohon mulai tampak banyak menyembul dari tanah. Mengikuti bekas jalur air kala hujan kami menapak selangkah demi selangkah menuju Sheter 2. (Bersambung)

Editor : Hendra Efison
#gunung talang #Seribu Gunung Seribu Danau #ayah dan anak mendaki gunung #Ekspedisi Gunung Talang