Kebangkitan ini terjadi setelah petani menerapkan teknologi budidaya modern dan memanfaatkan program pemerintah.
Data Dinas Pertanian Kabupaten Solok mencatat luas lahan markisa mencapai 1.500 hektare sejak 2000-an.
Badan Pusat Statistik (BPS) Sumatera Barat melaporkan ekspor markisa Solok pada 2023 mencapai 500 ton dengan nilai devisa Rp10 miliar.
Salah satu petani yang merasakan dampak peningkatan produksi adalah Amiruddin (55), warga Desa Koto Baru, Solok.
Ia mulai membudidayakan markisa pada 2010, namun sempat menghadapi kegagalan panen dan anjloknya harga hingga Rp5.000 per kilogram pada 2015.
“Saya hampir menyerah. Lahan saya rusak oleh hama ulat, dan hasil panen tidak cukup untuk biaya hidup,” kata Amiruddin.
Pemulihan terjadi ketika ia mengikuti pelatihan budidaya organik di Balai Penelitian Tanaman Buah Tropika (Balitbu) Solok.
Balitbu memperkenalkan varietas unggul seperti Purple Passion yang tahan hama.
Dengan tambahan dukungan Kredit Usaha Rakyat (KUR) dan pendampingan dari Dinas Pertanian Solok, Amiruddin menerapkan irigasi tetes dan pupuk organik.
Produktivitas lahannya meningkat dari 10 ton menjadi 25 ton per hektare, dengan kualitas yang memenuhi standar ekspor.
Kini, hasil panennya rutin dikirim ke Malaysia dan Singapura.
Kepala Dinas Pertanian Kabupaten Solok, drh. Kennedy, mengatakan kisah petani seperti Amiruddin mendorong minat generasi muda pada pertanian.
“Inspirasi dari petani seperti Pak Amiruddin membuat banyak anak muda mengikuti program magang budidaya markisa,” ujarnya.
Ia menambahkan, tantangan tetap ada, termasuk perubahan iklim dan persaingan harga.
Namun, pemanfaatan teknologi seperti aplikasi pemantauan cuaca membantu petani meningkatkan efisiensi.
Markisa pernah menjadi komoditas unggulan Solok sekitar lima belas tahun lalu dan kini kembali menunjukkan tren positif.
Pemerintah daerah berharap peningkatan produksi dan ekspor dapat memperkuat perekonomian lokal dan membuka lapangan kerja baru di sektor pertanian.(CR8)
Editor : Hendra Efison