PADEK.JAWAPOS.COM— Tim Pengabdian kepada Masyarakat Universitas Negeri Padang (UNP) memberikan pelatihan pembuatan pupuk organik berbasis jerami dan pestisida hayati kepada 35 perwakilan kelompok tani di Nagari Saniang Baka, Kabupaten Solok, Sumatera Barat, Rabu, 29 Juli 2026.
Kegiatan tersebut merupakan bagian dari Skema Program Pengabdian UNP Berdampak (PPUB), Pendekatan Multidisiplin Komunitas (PMKM), dengan tema “Pelatihan dan Implementasi Pupuk Organik dan Pestisida Hayati untuk Pemulihan dan Peningkatan Produktivitas Pertanian Pascabanjir di Saniang Baka, Solok”.
Tim pengabdian terdiri atas Ahadul Putra, M.Si., Bali Yana Fitri, M.Pd., Della Rosalynna Stiadi, M.Farm., dan Fildza Arief Syuhada, M.P., serta didukung tiga mahasiswa Departemen Kimia UNP.
Kegiatan dilaksanakan melalui edukasi dan praktik yang berfokus pada pemanfaatan sumber daya lokal untuk mendukung pemulihan lahan pertanian setelah banjir.
Kondisi pertanian di Nagari Saniang Baka masih menghadapi sejumlah persoalan. Di antaranya ketergantungan terhadap pupuk dan pestisida kimia, tingginya biaya pupuk, serangan hama yang menurunkan produktivitas tanaman, serta pembakaran jerami yang berpotensi mencemari lingkungan.
Banjir yang melanda wilayah tersebut juga merusak lahan pertanian sehingga petani menghadapi tambahan beban untuk memulihkan lahan dan melanjutkan aktivitas pertanian.
UNP kenalkan pengolahan jerami
Melalui kegiatan tersebut, tim pengabdian UNP memberikan edukasi mengenai pemanfaatan jerami sebagai bahan baku pupuk organik. Jerami yang dikombinasikan dengan bahan organik lainnya dapat diolah melalui teknologi pengomposan menjadi pupuk kompos yang berperan sebagai pembenah tanah.
Selain itu, peserta diperkenalkan dengan pengolahan bahan organik menjadi pupuk organik cair untuk mendukung produktivitas tanaman. Peserta juga mendapatkan edukasi dan praktik pembuatan pestisida hayati menggunakan bahan lokal.
Ketua Tim Pengabdian, Ahadul Putra, mengatakan petani membutuhkan alternatif teknologi yang mudah diterapkan, murah, dan memanfaatkan sumber daya lokal.
Menurutnya, pemanfaatan jerami menjadi pupuk organik dapat menjadi salah satu solusi agar jerami tidak lagi dibakar dan dapat dimanfaatkan untuk memperbaiki kualitas tanah serta mendukung pertumbuhan tanaman.
Ahadul juga menyampaikan bahwa pelatihan pestisida hayati berbahan lokal diberikan sebagai alternatif dalam pengelolaan organisme pengganggu tanaman.
Kegiatan tersebut tidak hanya diarahkan untuk meningkatkan pengetahuan, tetapi juga membangun keterampilan dan kemandirian petani dalam menerapkan teknologi pertanian yang ramah lingkungan.
Ketua Kelompok Tani, Jamaris, membuka kegiatan tersebut dan menyampaikan apresiasi kepada UNP atas perhatian serta pendampingan yang diberikan kepada petani di Nagari Saniang Baka.
Ia berharap kegiatan tersebut dapat meningkatkan pengetahuan dan keterampilan petani, terutama dalam pembuatan pupuk organik dan pestisida, sekaligus mengurangi pembakaran jerami dan penggunaan pupuk kimia secara berlebihan.
Jamaris juga berharap pendampingan dari UNP dapat berlanjut melalui kegiatan-kegiatan baru bagi petani di Saniang Baka.
Peserta praktik membuat pupuk dan pestisida
Kegiatan diawali dengan materi mengenai dampak pembakaran jerami, penggunaan pupuk kimia secara berlebihan, serta potensi pemanfaatan jerami. Ahadul Putra juga menyampaikan materi mengenai manfaat pupuk organik, prinsip pengomposan, dan proses pembuatannya.
Pada sesi berikutnya, Della Rosalynna Stiadi memberikan materi mengenai pestisida hayati. Materi tersebut mencakup pengenalan organisme pengganggu tanaman, jenis hama tanaman, mekanisme kerja pestisida hayati, potensi tanaman lokal sebagai bahan pestisida, serta teknik pembuatan dan aplikasinya.
Setelah penyampaian materi, peserta mengikuti praktik pembuatan pupuk organik berbasis jerami dan pestisida hayati. Peserta difasilitasi modul, komposter, serta peralatan dan bahan pendukung.
Peserta mengikuti setiap tahapan praktik dan aktif mengajukan pertanyaan serta mencoba langsung proses pengolahan jerami.
Melalui kegiatan tersebut, masyarakat diharapkan mampu mengelola jerami secara berkelanjutan tanpa pembakaran dan mengurangi ketergantungan terhadap pupuk kimia. Petani juga diharapkan dapat memenuhi kebutuhan pupuk organik dan pestisida hayati secara mandiri.
Program ini merupakan bagian dari pelaksanaan Tri Dharma Perguruan Tinggi, khususnya bidang Pengabdian kepada Masyarakat, sekaligus bentuk realisasi komitmen UNP melalui Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat (LPPM) UNP dalam menciptakan solusi bagi persoalan masyarakat.
Kegiatan tersebut didanai melalui RKAT UNP Tahun 2026 dengan nomor kontrak 2862/UN35.15/PM/2026, dengan dukungan LPPM UNP, Direktorat Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat (DPPM), Direktorat Jenderal Riset dan Pengembangan, serta Kemendiktisaintek.(*)
Editor : Hendra Efison