PADEK.JAWAPOS.COM-Intensitas hujan yang tinggi di Kabupaten Solok Selatan (Solsel) selama sebulan terakhir mengancam kualitas hasil panen jagung para petani. Mereka kesulitan mengeringkan jagung yang baru saja dipanen, karena hujan yang datang hampir setiap saat.
“Sudah 15 hari belum juga kering. Karena dampak hujan siang dan malam. Kalau pun teduh hanya sebentar saja,” kata Khairul petani jagung di Sangir, Rabu (29/1).
Biasanya kalau cuaca bagus tiga sampai lima hari sudah kering. Kalau petani memanen dengan jumlah banyak, otomatis akan berisiko terhadap jagungnya bisa tumbuh, dan bijinya bisa membiru jika sudah dirontok.
Cuaca hujan turun di Solok Selatan sejak akhir tahun hingga akan berakhir bulan Januari 2025, juga belum ada perubahan cuaca. Masih hujan sedang dan ringan.
“Kalau hujan masih terus berlanjut di Februari nanti, bisa-bisa berdampak pada ekonomi para petani jagung di Solok Selatan,” jelasnya.
Kondisi harga terus membaik selama musim hujan. Sekarang satu kilogram jagung kering dihargai toko atau pedagang Rp 5 ribu. Kenaikan harga komoditi jagung kering ini dipicu dampak musim hujan yang cukup panjang di Kabupaten Solok Selatan.
Dia berharap agar cuaca kembali berubah agar para petani bisa menjemur jagung ketika sudah dipanen.
Petani jagung lainnya, Sahbunir menyebut jagungnya sudah mulai tumbuh. Karena kurangnya mendapatkan cahaya matahari selama musim hujan. Walaupun sudah di bolak balik setiap harinya, tetap saja ada yang tumbuh.
“Sejak panen sampai sekarang belum dapat cahaya matahari. Hujan hampir 24 jam turun, meskipun dengan intensitas sedang,” paparnya.
Dia menyebut kalau terus berlanjut musim hujan, maka petani bisa alami kerugian. Jagung bisa cepat tumbuh karena dingin, kalau banyak tumbuh berdampak pada kualitas jagung. “Kalau kualitasnya kurang, harga pun berkurang,” tutupnya. (tno)
Editor : Novitri Selvia