PADEK.JAWAPOS.COM-Kabar menggembirakan datang dari para petani jagung di Solok Selatan. Setelah menghadapi tantangan berat mulai dari cuaca ekstrem hingga naiknya biaya produksi, kini mereka bisa tersenyum lebar.
Harga jagung kering mengalami lonjakan signifikan dalam satu pekan terakhir, membawa angin segar bagi perekonomian para petani di wilayah tersebut.
“Harga jagung pipilan kering melonjak dari Rp5.600 menjadi Rp6.200 per kilogram. Kenaikan ini cukup berarti jika dibandingkan dengan bulan lalu yang masih berada di angka Rp5.500,” kata Mairadi petani Jagung di Sungai Salak, Selasa (21/10).
Dia menyebut lonjakan harga ini memberikan harapan baru sekaligus keuntungan yang cukup besar bagi para petani jagung. Mairadi, petani jagung asal Sungai Salak, Lubuk Gadang Utara, Kecamatan Sangir, mengungkapkan rasa syukurnya.
“Biasanya keuntungan kami sangat tipis, tapi sekarang kami bisa tersenyum lega dengan harga jagung yang cukup tinggi,” ujarnya.
Menurut para pedagang jagung lokal, lonjakan harga ini dipicu oleh dua faktor utama. Pertama, permintaan yang meningkat dari industri pakan ternak yang membutuhkan bahan baku jagung berkualitas.
Kedua, berkurangnya pasokan jagung akibat musim kemarau yang menyebabkan masa tanam menjadi lebih singkat di beberapa wilayah, meskipun saat ini masih memasuki musim hujan.
Selain itu, kualitas jagung yang dipanen beberapa bulan terakhir juga terbilang sangat baik dan bersih dari serangan hama, berbeda dengan kondisi pada tahun lalu.
“Serangan hama saat ini relatif sedikit dan dapat dikendalikan dengan baik,” tambah Syafrina petani lainnya
Situasi ini menjadi angin segar setelah petani jagung sebelumnya harus menghadapi tekanan ekonomi yang cukup berat. Mereka berharap tren kenaikan harga jagung ini bisa bertahan hingga musim panen berikutnya, demi kelangsungan usaha dan kesejahteraan keluarga.
Mayoritas petani di Kecamatan Sangir memang fokus menanam jagung, mencapai 80 persen, sejak tahun 2013 ketika sumber air untuk sawah mulai menipis.
Beralih ke jagung menjadi solusi agar ekonomi petani tetap stabil dan tidak lumpuh, mengingat penanaman padi hanya sekitar 18 persen di wilayah tersebut.
“Dengan harga jagung yang stabil dan tinggi, bukan hanya perekonomian yang terdongkrak, tetapi juga kesejahteraan keluarga petani, termasuk pendidikan anak-anak mereka. Kabar baik ini menjadi harapan baru bagi kami masyarakat agraris di Solok Selatan,” tuturnya. (tno)
Editor : Novitri Selvia