Indonesia Sumbar Bisnis Olahraga Gaya Hidup Harian Magazine Otomotif Pariwisata Features Internasional Opini Advertorial Pendidikan Buku & Film Hiburan Kesehatan

Menjemput Ramadhan di Ranah Solok Selatan, Bakti Adat dan Ibadah Suku Panai Tigo Ibu

Muhammad Reza Bayu Permana • Rabu, 18 Februari 2026 | 13:20 WIB

 

Suasana kegiatan menyambut bulan suci Ramadhan masyarakat Suku Panai Tigo Ibu di rumah kaum Lundang, Nagari Pasir Talang Barat, Solsel, kemarin.
Suasana kegiatan menyambut bulan suci Ramadhan masyarakat Suku Panai Tigo Ibu di rumah kaum Lundang, Nagari Pasir Talang Barat, Solsel, kemarin.
PADEK.JAWAPOS.COM-Aroma kayu tua dan wangi masakan khas nagari menyeruak di sela-sela dinding kayu sebuah rumah kaum di Lundang, Nagari Pasir Talang Barat, Kabupaten Solok Selatan (Solsel). Di sinilah, masyarakat Suku Panai Tigo Ibu, khususnya dari garis keturunan Panai Tanjuang, berkumpul untuk memuliakan tradisi leluhur dalam menyongsong datangnya bulan suci Ramadhan.

Bagi masyarakat di Solok Selatan, Ramadhan bukan sekadar ritual ibadah individu, melainkan momentum kolektif untuk membersihkan ”karang” di hati dan memperkokoh tiang-tiang kekeluargaan dalam payung suku.

Kegiatan adat yang sakral ini dibuka secara resmi oleh pimpinan kaum, Dt. Jono Katik, selaku Niniak Mamak Panai Tanjuang. Dengan petatah-petitih yang khas, ia menyampaikan pertemuan ini adalah bentuk kepatuhan terhadap adat yang mengajarkan untuk selalu saciok bak ayam, sadanciang bak basi (seiya sekata) dalam menghadapi bulan yang penuh ampunan.

Dalam arahannya, Dt. Jono Katik mengingatkan sebelum pintu langit dibuka luas di bulan Ramadhan, pintu maaf di bumi harus lebih dahulu diketuk. Ia menekankan pentingnya menjaga marwah suku dan memastikan tidak ada keretakan hubungan antaranggota kaum agar ibadah puasa nantinya dapat dijalankan dengan batin yang tenang dan suci.

Suasana semakin khidmat saat acara berlanjut pada sesi tausiah singkat yang menyejukkan jiwa. Topik yang diangkat sangat relevan, persiapan diri lahir dan batin menjelang Ramadhan. Di bawah temaram lampu dan sirkulasi udara dari jendela-jendela kayu yang besar, petuah-petuah agama disampaikan untuk mempertebal keimanan para anggota suku.

Tausiah tersebut menjadi pengingat bagi setiap individu yang hadir bahwa Ramadhan adalah waktu untuk pulang ke fitrah. Di tengah kesibukan duniawi, pertemuan ini menjadi jeda sejenak untuk menata niat dan memastikan setiap langkah anggota Suku Panai tetap selaras dengan ajaran agama dan tuntunan adat.

Setelah santapan rohani terpenuhi, tibalah saat yang paling dinanti, yaitu makan bersama. Ini bukan sekadar acara makan biasa, melainkan perjamuan yang melambangkan kerukunan. Piring-piring berisi rendang, gulai, dan berbagai penganan khas ranah Minang disusun berjajar, mengundang selera sekaligus rasa syukur yang mendalam.

Para pria duduk bersila dengan gagah, sementara kaum ibu dengan balutan jilbab yang rapi duduk berkelompok, menciptakan harmoni warna di atas hamparan permadani. Makan bersama ini menjadi simbol bahwa dalam satu suku, rasa lapar dan kenyang dirasakan bersama, sebuah manifestasi nyata dari kekuatan kolektivitas masyarakat agraris di Solok Selatan.

Di tengah riuhnya denting piring, terdengar gelak tawa kecil dan percakapan ringan antar anggota kaum. Inilah saat di mana kerinduan terobati, di mana sanak saudara yang jarang bersua kembali bertukar cerita di bawah atap yang sama, memperbarui ingatan akan silsilah dan kedekatan darah yang tak boleh terputus.

Anak-anak kecil yang ikut hadir tampak memperhatikan dengan seksama setiap gerak-gerik orang tua mereka. Tanpa sadar, mereka sedang mempelajari pelajaran adat yang paling berharga, bagaimana cara menghormati yang lebih tua (manjago nan tuo) dan menyayangi yang lebih kecil (manyayangi nan ketek) dalam sebuah perhelatan kaum.

Menjelang akhir acara, suasana yang semula hangat perlahan berubah menjadi hening dan penuh haru. Seluruh hadirin menundukkan kepala, mengangkat telapak tangan, dan memejamkan mata saat doa bersama mulai dilantunkan. Di sinilah segala harapan dan permohonan tulus dititipkan kepada Sang Khalik.

Doa yang dipanjatkan mencakup keselamatan bagi para leluhur yang telah tiada, keberkahan bagi yang masih ada, serta kelancaran dalam menjalankan ibadah di bulan Ramadhan. Di setiap ”Aamiin” yang terucap, ada asa agar Suku Panai Tigo Ibu selalu dalam lindungan-Nya dan dijauhkan dari segala perpecahan.

Pertemuan di Nagari Pasir Talang Barat ini ditutup dengan prosesi bersalam-salaman, sebuah penutup yang menyempurnakan segala rangkaian adat hari itu. Dengan hati yang lebih ringan dan ikatan suku yang lebih kencang, keluarga besar Panai Tanjuang siap melangkah masuk ke gerbang Ramadhan dengan penuh keberkahan dan kedamaian. (*)

 

Editor : Eri Mardinal
#tradisi ramadhan #solok selatan #Suku Panai Tigo Ibu #budaya lokal