PADEK.JAWAPOS.COM–Kabut asap yang menyelimuti Kabupaten Solok Selatan, Sumatera Barat, tidak hanya berdampak terhadap aktivitas masyarakat, tetapi juga memengaruhi perekonomian pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM).
Salah satu pelaku usaha yang merasakan dampaknya adalah Rahma Syafitri (28), pemilik usaha Nasi Bakar Pak De. Ia mengaku aktivitas berjualannya terganggu akibat kabut asap yang semakin pekat dalam beberapa hari terakhir. Selain mengurangi kenyamanan beraktivitas di luar ruangan, kondisi tersebut juga berdampak terhadap jumlah pelanggan, terutama dari kalangan anak sekolah.
Rahma mengatakan, sejumlah sekolah yang diliburkan membuat salah satu kelompok pelanggannya berkurang. Situasi itu memaksanya mencari cara agar usaha yang dirintisnya tetap berjalan di tengah kondisi udara yang kurang baik.
Baca Juga: Tekan Inflasi, Pemko Padang Gelar Operasi Pasar Murah di Tiga Lokasi, Ini Jadwal Lengkapnya
“Efek kabut ini agak susah sekarang. Soalnya banyak anak sekolah yang diliburkan. Beberapa hari ini kabutnya lebih parah dari sebelumnya,” ujarnya.
Kualitas Udara Solok Selatan Sempat Mencapai 175 US AQI
Kabut asap yang menyelimuti sejumlah wilayah di Solok Selatan turut menjadi perhatian karena berkaitan dengan kondisi kualitas udara. Berdasarkan data aplikasi IQAir yang disampaikan dalam narasi ini, kualitas udara di Lubuk Gadang, Solok Selatan, pada 8 Oktober 2026 tercatat mencapai 175 US AQI, dengan konsentrasi partikel halus PM2.5 sebesar 89,6 mikrogram per meter kubik (µg/m³).
Angka tersebut menunjukkan kondisi udara yang tidak sehat. Paparan PM2.5 perlu diwaspadai karena partikel berukuran sangat kecil ini dapat masuk jauh ke dalam saluran pernapasan.
Baca Juga: Negara ASEAN Sepakat Lindungi Karya Jurnalistik dari Eksploitasi Platform Digital dan AI
Pada 11 Oktober 2026 pukul 07.00 WIB, kualitas udara di wilayah yang sama tercatat mengalami penurunan menjadi 135 US AQI, dengan konsentrasi PM2.5 sebesar 49,4 µg/m³.
Meski terjadi penurunan dibandingkan beberapa hari sebelumnya, kualitas udara pada waktu pengukuran tersebut masih berada dalam kategori tidak sehat bagi kelompok sensitif berdasarkan klasifikasi IQAir.
Kelompok sensitif, seperti anak-anak, lansia, serta orang yang memiliki penyakit pernapasan atau gangguan jantung, perlu memberikan perhatian lebih terhadap kondisi tersebut.
Baca Juga: Bank Nagari Salurkan 400 Bantuan Makanan pada Warga Terdampak Banjir di Koto Tangah dan Kuranji
Catatan: Angka kualitas udara di atas merupakan data pada waktu pengukuran yang disebutkan, bukan gambaran kualitas udara terkini. Untuk mengetahui kondisi terbaru, masyarakat perlu memeriksa pembaruan data dari IQAir atau sumber pemantauan kualitas udara lainnya.
Kabut Asap Membuat Rahma Mengubah Lokasi Berjualan
Dampak kabut asap juga membuat Rahma harus menyesuaikan lokasi berjualannya agar tetap dapat melayani pelanggan.
Biasanya, setiap Sabtu dan Minggu, ia berjualan di ruas jalan Sungai Sungkai–Sungai Rumbai, Kecamatan Sangir Balai Janggo. Kawasan tersebut dikenal masyarakat sebagai jalan viral yang menghubungkan Kabupaten Solok Selatan dengan Kabupaten Dharmasraya.
Baca Juga: Mahyeldi Bahas Peluang Redistribusi Tanah Negara di Bukit Gompong Solok
Namun, karena kondisi kabut asap di kawasan tersebut dinilai cukup parah, Rahma memilih untuk sementara waktu memindahkan lokasi berjualannya ke jalur dua Kantor Bupati Solok Selatan.
Perubahan lokasi itu menjadi salah satu upayanya untuk mempertahankan aktivitas usaha di tengah berkurangnya aktivitas masyarakat di luar rumah.
Bagi pelaku UMKM yang mengandalkan penjualan langsung, kondisi seperti ini dapat menjadi tantangan tersendiri. Berkurangnya mobilitas masyarakat berpotensi memengaruhi jumlah pembeli, sedangkan pelaku usaha tetap harus memenuhi kebutuhan operasional sehari-hari.
Baca Juga: Pemulihan Perikanan Solok, Pemprov Sumbar Salurkan 52 Ribu Bibit Ikan
Titik Panas Terdeteksi di Sejumlah Wilayah
Sementara itu, Kepala Bidang Penataan dan Peningkatan Kapasitas Dinas Perkim LH-Hub Solok Selatan, Erna Wijayanti, menyampaikan bahwa titik panas terpantau di sejumlah kawasan di Kabupaten Solok Selatan.
Dalam wawancara pada 8 Oktober 2026, Erna menjelaskan bahwa titik panas terdeteksi di wilayah yang berbeda berdasarkan pemantauan pada hari sebelumnya dan hari wawancara.
“Untuk kemarin, titik panas terpantau di Sungai Kunyit, Kecamatan Sangir Balai Janggo. Sementara untuk hari ini, titik panas yang terdeteksi di wilayah Solok Selatan berada di Lubuk Ulang Aling Selatan, Kecamatan Sangir Batang Hari,” jelasnya.
Baca Juga: Basket Porprov Sumbar 2026: Padang Sapu Bersih Dua Emas
Keberadaan titik panas tersebut menjadi salah satu informasi penting dalam memantau kondisi lingkungan di tengah kabut asap yang menyelimuti wilayah Solok Selatan.
Meski demikian, titik panas yang terdeteksi melalui pemantauan bukan satu-satunya dasar untuk menyimpulkan penyebab kabut asap di suatu wilayah. Penetapan sumber asap memerlukan informasi dan pemeriksaan lebih lanjut dari pihak berwenang.
Nasi Bakar Pak De, Usaha yang Dirintis Sejak 2025
Di tengah tantangan tersebut, Rahma tetap berusaha mempertahankan Nasi Bakar Pak De, usaha kuliner yang dirintisnya sejak Oktober 2025.
Baca Juga: Jelang Usia 26 Tahun, FKIKSP Galang Kepedulian Lewat Lelang Amal
Usaha itu bermula setelah Rahma kembali dari perantauan di Jakarta. Ia melihat peluang bisnis nasi bakar di Solok Selatan karena menurut pengamatannya, produk tersebut belum banyak dijumpai di daerah itu.
Berbekal peluang tersebut, ia mulai menjalankan usaha nasi bakar dengan menawarkan sejumlah pilihan menu kepada pelanggan.
Saat ini, Nasi Bakar Pak De menyediakan dua varian utama, yakni nasi bakar ayam suwir dan nasi bakar tuna suwir.
Baca Juga: Sprint Mandalika Ubah Klasemen MotoGP 2026, Marc Marquez Unggul 4 Poin
Harga yang ditawarkan cukup beragam, menyesuaikan ukuran porsi. Untuk porsi kecil, nasi bakar dijual seharga Rp10.000. Porsi menengah dibanderol Rp12.000, porsi besar Rp15.000, sedangkan porsi jumbo dijual seharga Rp20.000.
Selain nasi bakar, Rahma juga menyediakan menu pendamping, seperti usus, hati, ampela, sayap ayam, dan sosis bakar.
Untuk memperluas jangkauan pemasaran, ia memanfaatkan media sosial, di antaranya Facebook, Instagram, dan TikTok. Platform tersebut digunakan untuk memperkenalkan produk sekaligus menjangkau calon pelanggan di tengah persaingan usaha kuliner.
Baca Juga: FC Seoul Tekuk Jeju 2-1, Butuh 7 Poin untuk Juara K League 1 2026
Omzet Kotor Capai Rp3 Juta dalam Sepekan
Di tengah situasi yang belum menentu, Rahma menyebut omzet penjualan Nasi Bakar Pak De pada minggu ini mencapai sekitar Rp3 juta.
Namun, angka tersebut merupakan omzet kotor yang belum dikurangi biaya pembelian bahan baku dan kebutuhan operasional lainnya. Dengan demikian, jumlah tersebut belum dapat menggambarkan keuntungan bersih yang diperoleh dari usahanya. Sementara itu, omzet pada minggu sebelumnya belum menentu.
Kondisi tersebut menunjukkan bahwa pelaku usaha kecil seperti Rahma perlu terus menyesuaikan strategi penjualan dengan situasi di lapangan. Selain menjaga kualitas produk, pemanfaatan media sosial dan penyesuaian lokasi berjualan menjadi bagian dari upaya mempertahankan usaha.
Baca Juga: Gempa Panama M 7,7: 27 Orang Terluka, Lebih dari 400 Bangunan Terdampak
Bagi Rahma, keberlangsungan usaha tidak hanya berkaitan dengan pendapatan, tetapi juga dengan harapan untuk mengembangkan bisnis yang telah dirintisnya.
Berharap Kabut Asap Segera Hilang
Rahma berharap kondisi kabut asap di Solok Selatan segera membaik sehingga masyarakat dapat kembali menjalankan aktivitas sehari-hari dengan nyaman. Ia juga berharap para pelaku UMKM dapat kembali berjualan tanpa terlalu terkendala kondisi lingkungan.
Di sisi lain, ia ingin Nasi Bakar Pak De terus berkembang dan suatu saat dapat membuka cabang di lokasi lain. Rahma juga berharap perjalanan usahanya dapat menjadi motivasi bagi anak-anak muda yang ingin memulai bisnis sendiri.
Baca Juga: Songket Sushi dan Ramen Buka di Batusangkar, Harga Menu Mulai Rp20 Ribuan
“Semoga usaha ini bisa lebih maju, punya banyak cabang, dan memotivasi anak-anak muda lainnya. Jangan malu dan jangan gengsi untuk mencoba usaha. Saya juga berharap kabut asap ini cepat hilang,” tutupnya.
Di tengah kabut asap yang menjadi tantangan bagi masyarakat Solok Selatan, kisah Rahma menggambarkan upaya pelaku UMKM untuk tetap bertahan melalui penyesuaian strategi usaha. Namun, membaiknya kondisi udara tetap menjadi harapan penting agar aktivitas masyarakat dan roda perekonomian lokal dapat kembali berjalan lebih leluasa. (mg9)
Editor : Adetio Purtama