Kegiatan tersebut diselenggarakan oleh Kelompok Geleang Randah dan Kinantan Saiyo sebagai tuan rumah. Turut hadir tamu dari Kelompok Macan Elang di Nagari Cupak dan Kelompok Siriah Langkok di Nagari Koto Hilalang. Selain itu, hadir pula Tuo Silek Kilang Endek Sariak Alahan Tigo serta Ketua Pemuda Nagari Gantung Ciri.
Tuo Silek Geleang Randah, Dt Balanggu Basi, menegaskan bahwa kegiatan ini menjadi momentum penting untuk mempererat hubungan antarperguruan sekaligus saling memaafkan menjelang Ramadhan.
“Silaturahmi ini kita lakukan untuk memperkuat hubungan antar kelompok silek, sekaligus saling memaafkan sebelum memasuki bulan suci Ramadhan,” ujarnya.
Atraksi Mamancak Penuh Makna
Acara berlangsung khidmat dan penuh semangat kekeluargaan. Setiap kelompok menampilkan atraksi mamancak, baik dari guru maupun murid. Penampilan tersebut tidak hanya menunjukkan keindahan gerak, tetapi juga memuat nilai falsafah silek Minangkabau yang tetap dijaga dan diwariskan secara turun-temurun.
Gerakan yang ditampilkan mencerminkan kedisiplinan, penghormatan kepada guru, serta nilai adat basandi syarak, syarak basandi Kitabullah yang menjadi landasan budaya Minangkabau.
Pada waktu yang bersamaan, kegiatan serupa juga digelar di Pakan Sinayan, Jorong Lurah Nan Tigo, Nagari Salayo, Kabupaten Solok.
Acara ini mempertemukan Kelompok Silek Tuo Kumango, Kelompok Silek Harimau Damam dari Nagari Batu Banyak, serta Kelompok Silek Kumango dari Nagari Aripan.
Kegiatan ini menjadi bukti bahwa tradisi silek di Kabupaten Solok masih hidup, berkembang, dan mendapatkan tempat di tengah masyarakat.
Pamong Budaya Ahli Muda dari Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Kabupaten Solok, Wirasto, menyebutkan bahwa saat ini banyak kelompok silek yang aktif di daerah tersebut.
“Banyaknya kelompok silek yang masih eksis menunjukkan bahwa silek tetap diminati, terutama oleh generasi muda. Dengan berbagai aliran yang ada, Kabupaten Solok menjadi salah satu daerah dengan keragaman silek yang cukup banyak,” jelasnya.
Menurutnya, terdapat sekitar 30 aliran silek yang berkembang di Kabupaten Solok. Keragaman tersebut merupakan kekayaan budaya yang harus dijaga, dilestarikan, dan diwariskan kepada generasi mendatang.
Silaturahmi antar kelompok silek ini tidak hanya mempererat persaudaraan, tetapi juga menegaskan komitmen masyarakat dalam menjaga warisan budaya Minangkabau, khususnya di Kabupaten Solok.
Di tengah arus modernisasi dan perubahan zaman, eksistensi silek sebagai identitas budaya lokal tetap bertahan dan menjadi kebanggaan masyarakat.
Momentum menjelang Ramadhan pun dimanfaatkan sebagai ajang memperkuat ukhuwah, memperdalam nilai spiritual, serta memastikan bahwa tradisi silek terus hidup dan berkembang dari generasi ke generasi. (cr8)
Editor : Adetio Purtama