Jasadnya ditemukan oleh masyarakat setempat di perairan antara Simalegi dan Simatalu. Usai ditemukan, korban dievakuasi warga ke Dusun Betaet untuk dimakamkan di dusun Simalegi Muara.
Murdani, warga Desa Simalegi mengatakan, pada saat ditemukan kondisi jasad korban masih dalam keadaan utuh atau belum berbau. Namun, ada sejumlah bagian kulit tubuh korban lecet atau terkelupas karena sudah lebih dari 24 jam berada di air.
“Barangkali juga karena gesekan pasir atau pun karang di laut. Sebelum dibawa ke Simalegi Muara menggunakan long boat sekitar pukul 12.00, jenazah korban sempat dimandikan di Masjid Betaet oleh pengurus masjid,” ungkapnya.
Sementara, dua orang rekan korban lainnya, yakni, Anto, 30 dan Berai, 25, berhasil selamat. Namun, kondisi long boat atau perahu panjang 6 meter dengan mesin 40 PK rusak parah.
Menurutnya, dalam proses pencarian jasad korban kondisi cuaca di perairan Pantai Barat Pulau Siberut tersebut, masih belum kondusif. Perahu RIB 03 milik Kantor SAR Kepulauan Mentawai terpaksa menginap di dusun Pei-Pei, Desa Pasakiat Taileleu, Kecamatan Siberut Barat Daya.
Kepala Kantor SAR Kepulauan Mentawai, Akmal mengatakan, korban berhasil ditemukan namun sudah meninggal dunia. “Dengan ditemukannya jasad korban, operasi pencarian resmi ditutup,” pungkasnya.
Sebelumnya, korban dilaporkan hilang dalam kecelakaan laut di perairan antara Simalegi dan Simatalu, pada Selasa tanggal 30 November 2021 kemarin. Indra Lesmana yang melansir hasil bumi berupa kopra di perairan Mariat, Desa Simalegi, Kecamatan Siberu Barat, hilang setelah long boat dihantam gelombang, Selasa (30/11), sekitar pukul 12.00.
Diduga, kepala korban terbentur bodi long boat usai terjatuh. Sementara, dua rekan korban berhasil selamat dari amukan gelombang pantai Barat Pulau Siberut yang terkenal ganas tersebut.
Kejadian berawal saat korban bersama dua rekan lainnya melansir kopra ke kapal pedagang yang terpaksa buang jangkar di tengah. Di kawasan tersebut, tidak ada tersedia dermaga, karena kondisi ombak yang relatif besar.
Elias Piau Kepala Desa Sigapokna, Kecamatan Siberut Barat membenarkan kejadian tersebut. Ia mengatakan, kawasan pantai barat Siberut tidak banyak memiliki teluk atau muara. Pantainya, berhadapan langsung dengan Samudera Hindia.
“Jadi, untuk melansir hasil bumi, terpaksa harus menggunakan long boat dari bibir pantai ke kapal. Risikonya, memang seperti yang terjadi sekarang ini. Apalagi, sekarang kondisi gelombang cukup besar dan berisiko,” ujarnya. (rif) Editor : Novitri Selvia