Indonesia Sumbar Bisnis Olahraga Gaya Hidup Harian Magazine Otomotif Pariwisata Features Internasional Opini Advertorial Pendidikan Buku & Film Hiburan Kesehatan

Dari Kisah Dapur "Rendang Uni Lili" di Sangir, Diminati Jepang dan AS!!

Novitri Selvia • Rabu, 22 Juni 2022 | 11:06 WIB
TEMBUS MANCANEGARA: Dua pekerja terlihat sedang memasak Rendang Uni Lili. Sekarang, rendang yang diproduksi di Solsel ini sangat diminati di pasaran Asia, Eropa serta Amerika.(ARDI/PADEK)
TEMBUS MANCANEGARA: Dua pekerja terlihat sedang memasak Rendang Uni Lili. Sekarang, rendang yang diproduksi di Solsel ini sangat diminati di pasaran Asia, Eropa serta Amerika.(ARDI/PADEK)
Awal mula diperkenalkan di salah satu kampus kedokteran di Purwakerto, kini produk Usaha Mikro Kecil Menengah (UMKM) rendang Uni Lili tembus pasar Asia dan Eropa. Bahkan bumbu rendang menjadi permintaan terbanyak di Jepang dan Amerika. Seperti apa?

UNI Ermaneli, sudah lama menyajikan produk olahan rumahan berupa rendang khas minang. Terhitung sejak 2016 lalu hingga sekarang masih eksis untuk kebutuhan konsumennya yang berada di sejumlah provinsi di tanah air Indonesia dan luar negeri.

Rendang daging sapi ini diolah di kediamannya Simpang Tiga Sungai Tintin, Jorong Durian Taruang, Nagari Lubuk Gadang, Kecamatan Sangir, Solok Selatan, Sumatera Barat.

Awal mula usaha produk UMKM itu dibuka dibukanya tahun 2016, Ermaneli hanya menyerap 3 orang tenaga kerja untuk pengolahan rendang. Sekarang, dia telah memiliki 12 tenaga kerja. Pekerjanya memiliki tugas masing-masing. Ada spesialis mengolah rempah-rempah, lalu khusus memasak rendang.

Bukan hanya menembus pasar nasional saja, tapi peminatnya bahkan sudah tembus pasar Asia dan Eropa. Poduk makanan khas Minang, Rendang Uni Lili, awalnya di perkenalkan anaknya bernama Ririn ketika menimba ilmu di Fakultas Kedokteran, Universitas Jendral Soedirman Purwakerto, Provinsi Jawa Tengah.

Rendang yang sering dikirim Ermaneli saat itu, dibagi-bagikan anak sulungnya ke teman di kampus, tetangga kos, dan ke dosen tempat ia menimba ilmu. Dari coba-coba terasa lezatnya, sehingga pihak kampus menyarankan agar rendang ini dibuat lebih banyak dan dipasarkan di Purwakerto.

Bahkan kampus kedokteran itu membantu pemasarannya secara online, hingga sekarang sudah maju dengan banyaknya permintaan luar negeri. “Beda produk rendang kita dengan yang lain, bumbunya baru dan diolah sesuai kebutuhan untuk resep rendang daging sapi ini,” ucap Ermaneli, 53, pelaku UMKM Rendang Uni Lili, saat ditemui Padang Ekspres di kediamannya, kemarin (21/6).

Permintaan dalam dan luar negeri banyak setiap minggunya, karena produk usaha makanan rendang Uni Lili ini sudah memiliki sertifikat halal. Lalu sertifikat Standar Nasional Indonesia (SNI), sertifikat Nomor Kontrol Veteriner (NKV), dan sertifikat Badan Pengelola Obat dan Makanan (BPOM). Pengurusan sertifikat ini menurut ibu tiga anak itu sangatlah sulit, terutama sertifikat SNI.

Pentingnya sertifikat NKV untuk produk makanan, sebagai bukti tertulis yang sah telah dipenuhinya persyaratan higiene-sanitasi sebagai kelayakan dasar jaminan keamanan produk hewan pada unit usaha produk Rendang Uni Lili.

Begitu juga sertifikat BPOM, konsumen dan calon konsumen lebih merasa aman dan percaya untuk mengonsumsi produk rendang dan bumbu yang akan dipasarkan UMKM Uni Lili. Termasuk sertifikat halal, agar konsumen tidak was-was dalam mengkonsumsi produk makanan dan terhindar dari produk yang mengandung unsur haram.

Saat ini, produk Rendang Uni Lili juag dalam proses pengurusan Customer Prize Indeks (CPI). “Mudahan CPI dalam waktu dekat sudah keluar,” harapnya.

Sedangkan bahan mentah daging sapi didapatkannya di rumah potong di Padang yang memiliki standar BPOM. Di sana, Ermaneli sudah berlangganan daging sejak 5 tahun lalu. Sekarang, dibelinya seharga Rp130 ribu per kilogram. Daging sapi tersebut diolah di kediamannya berjarak sekitar 100 meter dari Pasar Padang Aro, Pusat Kabupaten Solok Selatan.

Dalam seminggu, ia menghabiskan 150 kg daging. Sebab pemasaran produknya dilakukan secara manual dan online di e-commerce besar. Di antaranya lewat Tokopedia, Shopee, dan Lazada. “Kita punya outlet di jalan Veteran Purus, Kecamatan Padang Barat, Kota Padang. Di sana kita pasarkan, di sini (Solsel, red) kita hanya tempat memasak rendang,” ungkapnya.

Setelah rendang matang, lalu dikirim ke Padang. Katanya pengolahan rendang 150 kg tersebut hanya dilakukan tiga kali seminggu. Pengolahan rendang Uni Lili ini berdasarkan standar bahan baku yang baik, bahan bakunya baru dan diolah sendiri sesuai kebutuhan.

Seperti buah kelapa hanya dipilihnya hasil tanam petani di Solok Selatan. Alsannya, rasanya lebih manis dan bagus setelah diuji coba dengan kelapa dari daerah lain di Sumbar. Bahan baku lain untuk produk rendang ini seperti jahe, lengkuas, cabe, bawang merah, bawang putih, serai, daun jeruk, daun salam.

Kemudian ketumbar, buah pala, cengkeh, kayu manis dan kemiri. Semua itu serba baru dan tiap minggunya diantar petani. Bahan baku alami inilah yang diolah untuk resep Rendang Uni Lili.

Rasa, gurih, lezat dan krenyah-krenya tetap dipertahankannya melalui takaran resep alami untuk memasak rendang sesuai Standar Operasional Prosedur (SOP). “Bahan baku ini kita olah sendiri, sehingga lebih baru, harum serta kebersihan bahan baku akan terhjaga dan,higienis,” tuturnya.

Selama bulan Ramadhan hingga Idul Fitri kemarin, permintaan akan rendang Uni Lili sangat tinggi. Bahkan outlet rendangnya tidak sanggup memenuhi permintaan pemesan. Baik dalam negeri maupun luar negeri.

Setelah lebaran diakuinya permintaan pemesan secara online menurun. Diceritakannya bulan puasa dan lebaran, permintaan rendang secara online 20 kg per hari dan sekarang perharinya rata-rata hanya terjual 10 kg.

Kemasan produk makanan olahan Uni Lili, bukan sekedar rendang daging sapi saja, tapi juga ada rendang jengkol, rendang lokan, rendang ikan tuna, rendang pakis, rendang ayam dan lainnya. Dia juga menyediakan bumbu rendang dan praktis.

Bumbu rempah dan minyak kelapa ini tinggal di tuangkan ke kuali ketika konsumen hendak membhat rendang daging, karena bumbunya sudah tersedia dan tinggal di aduk. Bumbu rempah-rempat siap saji itu tidak sekedar untuk bumbu masakan rendang daging sapi, ikan dan ayam saja.

Tapi juga tersedia bumbu sate padang, bumbu soto padang, dan lainnya. “Ketimbang rendang, bumbu masakan rendang ini paling banyak laris, permintaan tertinggi di Amerika dan Jepang,” ulasnya.

Rendang Uni Lili begitu melekat di hati komsumen karena cita rasa. Hal itu lantaran ia juga tetap mempertahankan takaran bumbu saat memasak rendang. Jadi, sejak 2016 sampai sekarang, rasanya tetap sama dan tidak ada perubahan.

“Untuk harga, rendang dengan kemasan 250 gram ataun 1/4 kilogram, dijual Rp75 ribu. Sedangkan kemasan 500 gram Rp150 ribu. Lalu bumbu rempah rendang daging, soto, sate dan lainnya seberat 500 gram, kita jual seharga Rp60 ribu,” bebernya. (***) Editor : Novitri Selvia
#Purwakerto #rendang uni lili #Ermaneli #umkm