Festival Madu, Sumbar Surplus Produksi Madu

Novitri Selvia • Dipublikasikan Selasa, 4 Oktober 2022 | 13:22 WIB
SURPLUS MADU: Gubernur Sumbar didampingi Kadis Kehutanan Yozarwardi Usama Putra meninjau salah satu stan pada Festival Madu, Minggu (2/10).(IST)
SURPLUS MADU: Gubernur Sumbar didampingi Kadis Kehutanan Yozarwardi Usama Putra meninjau salah satu stan pada Festival Madu, Minggu (2/10).(IST)
Produksi madu di Sumbar saat ini telah mencapai 1 ton per bulan. Pemprov Sumbar optimis produksi madu lebah bisa surplus.

“Produksi madu Sumbar sudah mencapai 1 ton per bulan. Ini akan ditingkatkan terus karena potensinya sangat luar biasa,” ujar Gubernur Mahyeldi usai membuka Festival Madu Tingkat Provinsi Sumbar, yang digelar di Kantor Dinas Kehutanan Provinsi Sumbar, Minggu (2/10).

Festival digelar oleh Dinas Kehutanan Provinsi Sumbar pada 1–3 Oktober. Berbagai macam madu ditampilkan dalam pameran tersebut mulai dari yang manis, asam, hingga pahit sekalipun. Madu-madu tersebut dibawa langsung oleh para petani atau kelompok yang tersebar di 19 daerah di Sumbar.

Gubernur menyebut produksi madu Sumbar diyakini bisa memenuhi pasar kebutuhan konsumsi madu dalam negeri maupun untuk ekspor karena potensi produksi madu di Sumbar sangat besar. Hal tersebut didukung luasnya perhutanan sosial yang mencapai 231 ribu hektare lebih. Selain itu juga ada potensi produksi madu dari hasil budi daya.

“Bahkan ada tadi dari mereka itu, dulunya pegawai malah berhenti dan memilih usaha berbudidaya madu,” ungkap gubernur membeberkan pengakuan dari sejumlah petani madu yang mengisi stand di pameran tersebut.

Mahyeldi menjelaskan, pembudidaya sudah mengembangkan bermacam produk turunan madu seperti propolis, bilopen, bahkan juga ada sabun kecantikan dan lain sebagainya. Tentunya hal itu cukup menjanjikan dan bisa memacu pertumbuhan ekonomi.

Pemerintah provinsi juga telah mengalakkan konsumsi madu untuk ASN di Sumbar, lewat program wajib minum madu. Mahyeldi juga meminta pemerintahan kabupaten/kota melakukan hal serupa.

Sementara itu Kepala Dinas Kehutanan Sumbar, Yozarwardi mengatakan, tujuan dilaksanakan kegiatan ini adalah untuk meningkatkan penghasilan petani di Sumbar, sesuai dengan pasca pencanangan tidak lanjut minum madu asli yang dicanangkan oleh gubernur pada tahun 2021 di sawahlunto.

“Alhamdulillah laporan dari pembudidaya madu hampir semuanya laku di pasaran, ada yang lokal, bahkan dibeli OPD, kemudian juga ada yang dikirim ke Timur Tengah salah satunya,” jelasnya.

Ia menyebut, festival madu diikuti oleh kelompok perhutanan sosial dan kelompok tani hutan. Kegiatan ini juga sekaligus wujud dukungan terhadap visi dan misi meningkatkan nilai tambah dan produktivitas kehutanan.

Pihaknya telah berhasil mendistribusikan sekaligus memberdayakan petani hutan dengan beternak madu kelulut hingga mencapai 4500 stup atau kotak sarang. Hingga 5 tahun ke depan, ia menargetkan bisa mengembangkan hingga 15 ribu kotak. Selain itu, juga akan mendorong pertumbuhan petani hutan yang beternak lebah madu secara swadaya.

Pada kesempatan sama, Ranjes, salah satu pengurus stan madu Farm Lebah Madu LPHN Padang Tarok, yang mewakili Kabupaten Agam mengungkapkan, di daerah Agam banyak jenis madu karena sesuai karakter cuaca dan suhu dan keragaman buah-buahan di daerah itu.

Ada jenis Trigona dan Tora Sica untuk jenis madu galo-galo. Sementara untuk madu lebag ada Lebah Serena,” ungkap dia.

Dia juga mengungkapkan, mengkonsumsi madu jelas memberi dampak baik untuk kesehatan. Sederet manfaatnya diantaranya bisa untuk obat paru, penambah stamina hingga mempercepat penyembuhan maag kronis sekalipun. (cr7) Editor : Novitri Selvia
Festival Madu Surplus Madu