Sebagian kecil perhiasan emas dan perak tersebut berhasil dikumpulkan oleh pihak Dinas Kebudayaan Sumbar dan Museum Adityawarman. Hanya ada sekitar 300 item perhiasan koleksi Museum Adityawarman.
Sejak hari ini hingga 1 November 2022, sebanyak 75 koleksi tersebut dipamerkan kepada masyarakat. Sementara dari DIY mereka memboyong 13 kelompok objek, yakni 15 perhiasan perak dan emas, peralatan pembuat kerajinan perak, dan lainnya.
"Koleksi kebudayaan di Museum Adityawarman memiliki nilai sejarah, filosofi dan edukasi bagi generasi saat ini. Anak-anak sekolah terus kita ajak ke museum, agar mereka melihat secara langsung kebudayaan kita. Dan ini penting sekali untuk terus dilakukan," ungkap Kepala Dinas Kebudayaan Sumbar Syaifullah saat membuka Pameran Hasil Tambang (emas dan perak) bertema Jalinan Mahakarya Budaya, di Museum Adityawarman, Jl Diponegoro Padang, Rabu (26/10).
Kebudayaan penting dipelajari generasi muda dan dialami langsung oleh mereka. "Contoh kecilnya saja, orang-orang berwisata ke Bali dan ke Yogya pasti ingin melihat kebudayaannya. Begitu pentingnya mengenalkan sejarah nenek-moyang dari sudut kebudayaan," ujarnya.
Di sisi lain, kata Kadisbud, Sumbar baru mengolrksi 19 warisan tak benda, sedangkan Yogya sudah 21 warisan tak benda. "Jadi kita dua besar di Indonesia. Cagar budaya pun terus kita gali di kabupaten kota. Kuliner tradisional Sumbar juga terus kita lestarikan kepada anak-anak muda," ungkapnya.
Pembukaan pameran bersama Disbud Sumbar dengan Disbud Yogyakarta tersebut turut dihadiri Kepala Dinas Kebudayaan DIY Dian Lakshmi Pratiwi, Kepala Museum Sonoboyo Yogyakarta, Ketua BKOW Sumbar, Kepala Museum Adityawarman Padang, dan lainnya.
Kepala Museum Adityawarman Padang, Dewi Ria mengajak masyarakat menyaksikan pameran emas dan perak tersebut. "Lihat dan rasakan pasion berbusana adat Minang, baik saat helat perkawinan maupun acara adat lainnya," ujar Dewi Ria.(*) Editor : Hendra Efison