Indonesia Sumbar Bisnis Olahraga Gaya Hidup Harian Magazine Otomotif Pariwisata Features Internasional Opini Advertorial Pendidikan Buku & Film Hiburan Kesehatan

Pertanian Berkelanjutan dan Biosistem, Jalan Menguatkan Ketahanan Pangan

Hendra Efison • Jumat, 25 November 2022 | 12:34 WIB
Photo
Photo
Sebelum pandemi Covid-19, sektor pertanian selalu mampu menunjukkan resiliensi dalam masa krisis dan peran sebagai penyangga perekonomian. Menyadari krusialnya pertanian berkelanjutan berbasis biosistem sebagai elemen ketahanan pangan, Fakultas Teknologi Pertanian Unand menaja konferensi internasional, Kamis (24/11/2022).

International Conference on Sustainable Agriculture and Biosystem (ICSAB) 2022 itu, mengangkat tema Sustainable Agriculture and Biosystem for Better Life - Post Pandemic Period atau Pertanian Berkelanjutan dan Biosistem untuk Kehidupan Lebih Baik Pascapandemi.

Ketua Panitia ICSAB 2022 Khandra Fahmy mengatakan ICSAB 2022 merupakan konferensi kelima yang diadakan oleh Fakultas Teknologi Pertanian Andalas. ISCAB kali ini berkolaborasi dengan Fakultas Perkebunan dan Agroteknologi Universiti Teknologi MARA Malaysia, dan didukung oleh Universitas Ehime Jepang, Universitas Maejo Thailand, Universitas of Khartoum Sudan, dan Universiti Technologi Brunei.

Melalui konferensi ini, Fateta Unand memfasilitasi platform ilmiah untuk diskusi dan transfer informasi penelitian saat ini, inovasi teknologi baru, dan aplikasi praktis dalam disiplin ilmu berkaitan dengan pertanian berkelanjutan.

“Ada 174 makalah yang dipresentasikan secara lisan dan melalui presentasi poster selama konferensi. Makalah lengkap terpilih yang dipresentasikan selama konferensi sedang dipersiapkan untuk diterbitkan dalam IOP Proceeding,” beber Khandra.

Dekan Fateta Alfi Asben menyebutkan, Fakultas Teknologi Pertanian telah mempertimbangkan isu pertanian berkelanjutan dan biosistem sangat penting bagi pembangunan sektor pertanian.

“Populasi dunia meningkat pesat, disaat bersamaan pertanian dunia menghadapi tantangan kritis. Meningkatnya permintaan dari memproduksi dan mendistribusikan makanan dan serat yang cukup, ditantang oleh ketakutan alami dari persoalan sumberdaya,” ungkap Alfi Asben.

Rektor Unand Prof Yuliandri menyebut Fateta Unand secara konsisten memberi kontribusi, tidak hanya dalam layanan pendidikan yang luar biasa, tapi juga dalam mengusulkan inovasi teknologi, dan praktik pertanian.

Yuliandri mengatakan konferensi ini merupakan platform yang bagus untuk memfasilitasi kolaborasi intensif dan transfer ilmu pengetahuan. “Meskipun tahun ini masih diadakan secara virtual, namun konferensi ini memberi kita kesempatan besar untuk bertukar ilmu pengetahuan, serta membangun jaringan menjadi komunitas yang kuat dari persekutuan intelektual dan profesional,” sebutnya.

ICSAB menghadirkan 5 orang keynote speakers yakni; Prof Hiroki Oue (The Dean of United Graduate School of Agricultural Science, Ehime University, Japan), Assoc Prof Ts Dr Shamsiah Abdullah (Faculty of Plantation and Agrotechnology, UiTM Malaysia), Patpent Penjumras PhD (Maejo University, Thailand), Dr Wida Susanty Haji Suhaili (Universiti Teknologi Brunei), Suha Gaafar B Elsoragaby PhD (University of Khartoum, Sudan), dan Dr Renny Eka Putri (Faculty of Agricultural Technology Andalas University).

Prof Hiroki Oue membahas Perbandingan dalam Konduktansi Stomata dan Laju Transportasi Elektron dari Empat Kultivar Beras Jepang. Dikatakannya, kondisi iklim global dengan cuaca yang tidak menentu, dan dipengaruhi oleh suhu udara yang tinggi, produksi dan kualitas beras telah dilaporkan menurun.

Menurutnya, memilih panas kultivar toleran merupakan salah satu penanggulangan masalah ini. “Sebagai pendekatan mekanisme toleransi panas beras, sifat konduktansi stomata (gs) dan laju transpor elektron (ETR) dibandingkan antara empat kultivar; Koshihikari (KH), Nikomaru (NM), Hinohikari (HH)vdan Himenorin (HR) kultivar baru yang dikembangkan di Prefektur Ehime,” terang Hiroki.

Renny Eka Putri memaparkan hasil penelitiannya dengan judul ‘Pertanian Presisi: Jalan ke Depan di Mekanisasi Pertanian. Dijelaskan Renny, salah satu cara untuk mencapai target produksi tanaman adalah dengan meningkatkan hasil rata-rata tahunan melalui penggunaan varietas unggul, adaptasi teknik pertanian presisi, tepat pengelolaan tanaman selama masa tanam, dan penanganan tanaman yang tepat untuk mengurangi kehilangan gabah sebelum dan sesudah panen.

Menurutnya, mekanisasi dan teknik pertanian presisi selalu diprioritaskan untuk meningkatkan produktivitas tenaga kerja dan meningkatkan pemanfaatan input efisiensi produksi pertanian.

“Kapasitas lapangan mesin pertanian untuk tanaman budidaya biasanya jauh lebih tinggi daripada tenaga kerja manual. Misalnya kapasitas pengolahan tanah dengan traktor tangan yang memiliki kapasitas mesin 3,7 kW adalah sekitar 1,5 kali kapasitasnya hewan sementara, kapasitas perontokan untuk pemanen listrik (5,3 kW) kira-kira 6 kali lipat kapasitas membanting,” bebernya.

Dengan demikian, sambung Renny, penggunaan mesin pertanian dapat dilakukan secara signifikan meningkatkan kapasitas untuk berbagai operasi pertanian. “Banyak upaya penelitian menunjukkan bahwa pertanian presisi memiliki potensi untuk meningkatkan keuntungan dalam suatu ekosistem pertanian. Pertanian presisi mengelola setiap input produksi (misalnya pupuk, air, batu gamping, herbisida, insektisida, dan benih) di lokasi tertentu untuk mengurangi limbah, meningkatkan keuntungan dan menjaga kualitas lingkungan,” ungkap Kepala Departemen Teknik Pertanian dan Biosistem (TPB) Fateta Unand ini.

Sementara, Suha Gaafar memaparkan hasil risetnya soal ‘Kinerja Lapangan, Penggunaan Energi, dan Gas Emisi Rumah Kaca dari Operasi Tillage pada Produksi Beras. Dia mengatakan, tujuan dari penelitian ini adalah untuk menilai operasi pengolahan tanah di sawah lahan basah melalui kinerja, distribusi waktu lapangan, distribusi pengeluaran energi, dan gas emisi rumah kaca. Metode riset dilakukan berdasarkan lintasan pengolahan tanah yang berbeda.

“Itu hasil penelitian menunjukkan bahwa rata-rata kapasitas lapangan efektif dan teoritis, efisiensi lapangan, jam tenaga kerja, konsumsi bahan bakar, dan kecepatan operasi,” imbuhnya.

Hasilnya menunjukkan bahwa 80,7% dari total waktu yang dihabiskan untuk operasi olah tanah aktual sementara 17% dan 2,3% dari total waktu operasi dihabiskan untuk memutar dan membalikkan.

"Masing-masing hasil juga menunjukkan yang tertinggi kontribusinya terhadap pengeluaran energi adalah energi bahan bakar yang mewakili 90,99% dari total energi. Itu perkiraan energi manusia dari metode konvensional berbasis waktu, berbeda secara signifikan dari energi manusia yang diperoleh melalui pengukuran langsung dengan Garmin,” tandasnya. (*) Editor : Hendra Efison
#Universitas Maejo Thailand #pertanian berkelanjutan #Universitas Ehime Jepang #Fakultas Teknologi Pertanian Unand #Universitas of Khartoum Sudan #International Conference on Sustainable Agriculture and Biosystem (ICSAB) #Universiti Technologi Brunei